Insane

Insane
22


__ADS_3

Satu tahun kemudian


"Mba, makan sekarang yuk!"


"Nanti aja deh Cung, Mba belum lapar."


"Mba gimana sih, udah lewat jam dua lho ini, saya udah makan, Yogi juga udah, tinggal Mba yang belum."


Kenya akhirnya mengalah, menutup buku yang terbuka di pangkuannya, "cerewet ya kamu, ya udah ayo." Mendengar Cacung mengomel bukanlah hobinya. Lagipula suara Cacung bukan jenis suara yang enak di dengar


Cacung tersenyum senang Kenya mau mengikuti ajakannya, "sini Mba, biar aku yang dorong, Mba ngeremehin nih, kecil-kecil gini aku masih kuat kalo cuma dorong Mba."


Dengan giat Cacung mendorong kursi roda yang menopang tubuh Kenya memasuki rumah setelah beberapa jam Kenya berada di teras, "baca buku resep lagi?"


"Iya, di bawain yang baru sama Tika, tapi banyak salahnya lho Cung, banyak bahan yang kurang, kesel deh bacanya."


"Segitu bapernya baca buku resep, buku resep lho itu mba, bukan novel picisan seribu eksemplar."


Sering lihat lah ya setebal apa buku resep yang banyak berjejer di toko buku, tidak ada maksud meremehkan.


"Kamu sih passionnya ga di bidang ini, jadi ga baper kalau ada yang ga bener." Bisa-bisanya Kenya sewot karena sebuah buku resep.


"Mbanya baca buku resep segitu menghayatinya, lihat gambar makanan tapi ga lapar-lapar, kan aneh."


"Seandainya telat makan bisa bikin cepat mati."


"Tu kan, kumat lagi, jangan mikir yang enggak-enggak Mba, ingat Yogi!" Cacung mengambil piring, mengisinya dengan nasi sesuai porsi Kenya, menambahkannya dengan lauk pauk yang sudah tersedia, "jagung tumis, cap cay, sama tumis daging, ala chef Cacung." Jika tidak dialihkan perhatiannya Key akan mengingat kembali peristiwa mengerikan yang hampir merenggut nyawanya setahun lalu.


"Kamu beli daging? Memang uangnya cukup?"


"Kalau sekedar beli daging buat kita bertiga uang bulanannya masih aman kok Mba, lagian kita makan dagingnya terakhir tiga bulan lalu, lho, ga dosa kan kalau makan daging hari ini."


Kenya hanya tersenyum kecut melihat wajah sedih tapi konyol Cacung, mantan pegawainya itu tidak pandai mengatur mimik wajah untuk berpura-pura.


"Iya, Mba minta maaf, tapi kamu kayaknya udah pintar ngolah daging, sekarang Mba mau cicip dulu baru nanti penilaiannya."


Seperti sebuah kebiasaan, masakan Cacung akan di beri penilaian setelah Kenya mencicipinya, kata Cacung biar bisa ngerasain sensasi deg-degan ala tanyangan reality show lomba memasak yang sering mereka tonton.


"Oke, Mba, aku ambil posisi dulu."


Cacung lalu mengambil posisi bersebrangan dengan Kenya, berdiri tegak, menyatukan tangannya ke belakang tubuh, dan mulai berakting wajah tegang menunggu juri menilai masakannya.


Kenya tak luput dari mengambil tindakan yang sama. Wajahnya berganti serius, saat mulai menyendok makanannya, satu suapan, dua suapan, Kenya belum memberi penilaian, hingga suapan ketiga dan Kenya selesai menelan.


"Jagungnya manis,"


"Ya ampun mba, itu emang jagung manis kali, " potong Cacung.


"Nyela juri dosa lho."


"Eh iya, lagian standar gitu penilaiannya."


"Apa yang mau di nilai coba dari tumis jagung?"

__ADS_1


"Iya, tau Mba, jangan ditegesin juga kali, bilang apa kek gitu, jagungnya enak rasanya kek sea food."


"Baik, saya lanjutkan, untuk cap cay, kuahnya kurang kental dan bumbunya kurang sedikit lagi, sayurnya juga di masak terlalu matang jadi agak layu, ga kriuk-kriuk gitu pas di makan, dan dagingnya, kurang garam."


Cacung tidak tahan untuk membuat pembelaan mendengar penilaian Kenya tentang masakannya.


"Kuah capcaynya agak encer karena kita kehabisan stok maizena mba, tinggal seujung sendok teh aja tadi, sayurnya udah layu duluan di kulkas, saking telatnya di olah karena Yogi ga suka sayur, terus kalau masak daging dari artikel yang saya baca itu tidak baik kalau di kasih garam terlalu banyak, bisa darah tinggi, lagian Yogi lahap-lahap aja tu makannya."


"Tadi katanya ga mau penilaian standar, giliran dinilai malah ngelunjak, kalau gini Mba ga jadi lapar deh," akting Key pura-pura marah, "Yogi kamu kasih susu sama sereal aja juga udah pasti lahap."


"Eh, kok?"


"Becanda," Key kembali melanjutkan suapannya, "apapun yang kamu masak, Mba suka kok."


***


"Kenapa sih ngerjainnya harus di apartemen gue, tempat lo kayaknya masih layak huni, layak banget malah," dumel Arman pada sepupunya, ia jengah Ejet merecoki apartemennye sepagi itu dengan bertumpuk kertas dan koran," tugas pacar lo apa lagi itu?"


Ejet hanya nyengir kuda mendengar omelan Arman, tidak akan mempan untuk membuat dirinya pergi dari tempat itu. Bagi Ejet, Arman memang pantas diganggu dan tidak layak hidup tenang.


"Dia ada tugas kliping, mencari peristiwa kriminal yang udah lama, satu tahun belakangan, boleh lebih sih, parahnya peristiwanya ga boleh yang terjadi hanya di sekitar negara ini, harus nyari random ke berbagai negara, dengan tingkat gugatan berbeda, berapa persen kemungkinan korban mendapat tunjangan, bisa menang atau tidak kalau lawannya kuat," terang Ejet pada Arman yang masih geram karena melihat apartemennya porak-poranda.


"Muka lo manisan dikit napa, ga enak banget di liatnya, nanti gue beresin deh tempat lo, kalo perlu gue panggil maid langganan gue."


"Ga perlu, aku ga suka orang asing masuk ke sini, lagian kamu mau saja di jajah perempuan." Arman masih menggerutu, tapi kini ia melunak di tandai dengan kembalinya sebutan aku kamu.


"Ga ada istilah di jajah dalam hubungan asmara, makanya cari pacar, kamu sama kolotnya sama dosen Stella yang kasih dia tugas ini, di jaman serba digital seperti ini dia masih ngasih tugas kliping, ya Tuhan."


"Budak cinta."


"Tetap aja, lo di jajah, di jaman digital, memalukan."


Ejet mengaktifkan mode tuli saja sebaiknya.


"Eh, kalau yang ini bisa termasuk jadi bahan tugasnya dia tidak ya, tapi ini peristiwanya kecelakaan, terjadi tepat waktu lo tiba di sini setahun lalu, bus nabrak mobil sampai ringsek, gue bacain kasih pendapat lo, sebuah bus tanpa penumpang menabrak mobil yang tiba-tiba melewati lampu lalu lintas yang menyala merah, dari kesimpulan yang di ambil, kemungkinan supir itu sedang mengantuk, seorang penumpang berinisial KP terluka parah dan segera dilarikan ke rumah sakit, dan supir tersebut tewas di tempat kejadian sebelum mendapat penanganan. Serem juga nih, supirnya ngantuk," Ejet memilih kembali membaca tanpa suara karena tertarik dengan berita itu, tepatnya untuk meyakinkan apakah berita itu bisa menjadi bahan referensi pacarnya atau tidak.


"Jadi gimana menurut kamu wahai sepupu?"


"Terserah."


Ejet menoleh karena suara Arman terdengar menjauh.


"Eh, lo mau kemana sepupu?"


"Cari makan, sumpek liat muka lo."


Arman lebih dulu keluar sebelum mendengar balasan Ejet. Bejalan menyusuri lorong apartemennya yang cukup lengang pagi itu. Tidak terdengar suara gaduh dari anak-anak tetangganya. Pada hari kerja mereka akan sedikit berisik untuk di bangunkan.


Penghuni apartemen itu tidak banyak, hanya empat unit. Hanya kebetulan di depan unit Arman ada sebuah keluarga dengan tiga anak. Mereka hanya akan tinggal sementara di sana karena rumah yang sedang dalam perbaikan.


Setahun tinggal di Amerika tidak membuat Arman semakin mudah bergaul meski negara itu negara bebas. Hanya orang-orang tertentu yang akan dia ajak bicara. Lingkungan sosialnya pun terbatas, hanya kantor, dan Ejet. Ketika makan di restoran pun dia akan pelit bicara pada waitress yang melayaninya.


Akhir pekan membuat jalanan tengah kota sedikit ramai. Arman berjalan santai sambil mencari tempat makan yang pas untuknya. Tidak banyak menu yang di tawarkan pagi hari di seputaran tempat itu, tapi roti bakar dan kopi juga cukup untuk Arman. Tanpa Arman sadari sesosok tubuh mungil berlari ke arahnya tidak memperhatikan jalan di depannya dan hap, Arman menangkap anak itu.

__ADS_1


"Hai, Boy, hati-hati jangan lari sembarangan."


"Maaf Om."


"Wow, kamu dari Indonesia? Mana orang tuamu?"


"Itu," tunjuk anak itu ke belakangnya.


Arman menengok dan hampir terperanjat melihat siapa orang tua dari anak itu. Mau menghindar pun percuma. Wong sudah melihatnya.


"Juna hati-hati, ini sandwichmu," Wong menyerahkan roti lapis pada anaknya, "wah, ini luar biasa kita bertemu di sini Tuan Arman, apa kabar?"


Wong mungkin tidak menyadari wajah Arman yang berubah kesal, "baik." Jawaban yang cukup singkat dan pasti di mengerti.


"Juna, ayo sapa Om Arman!"


"Hai, Om."


"Salaman dong, cium tangan." Wong dengan adat timurnya tapi Arman tidak enak menolak salaman dari anak musuhnya.


"Ini anakmu?" tanya Arman dingin.


"Iya, ini yang pertama, itu putri dan istri saya." Seorang wanita dengan putri kecil di gendongannya berjalan mendekati mereka, Arman semakin pias.


"Sayang kenalkan, ini Tuan Arman, kami pernah bekerja sama di sebuah proyek, meski itu bukan proyeknya," terang Wong dengan kekehan kecil, "Tuan Arman ini istri saya Arsa, dan putri kamu Arista.


Wong menyalami Arsa dengan tangan yang hampir tremor, Arman berusaha menguasai diri.


"Kapan kalian menikah?" tanya Arman tiba-tiba.


"Maaf?"


"Maksudku, dulu anda tidak pernah menceritakan tentang keluarga."


"Iya, saya memang agak tertutup tentang keluarga, kami sudah menikah selama tujuh tahun, Tuan."


"Bagaimana dengan Key, bagaimana anda mengenalnya?"


"Maksud anda Kenya Panaringan? Kami dulu satu kelompok saat kegiatan amal kampus, kami menjadi relawan ke sebuah daerah bencana dan berkenalan di sana."


Arman menyadari sebuah kesalahan, wajahnya mulai panas.


"Kau tau Sayang, Tuan Arman juga mengenal Kenya."


"Ah, benarkah? Apa anda tau bagaimana kabar Key setelah kecelakaan itu? Kami sudah mencarinya tapi dia menghilang."


"Ah ya benar, bagaimana kabarnya, pasti anda lebih tahu." Wong menatap tajam pada Arman, sedang Arman telah kehilangan sikap dinginnya dan kini berubah takut.


"K-kecelakaan? Apa maksud kalian?"


"Apa maksud anda Tuan Arman? Tentu saja kecelakaan yang menimpa Key, sudah hampir setahun kan Sayang?"


"Benar, tepat bulan ini, setahun lalu, kecelakaan itu mengerikan, untung saja dia selamat, tapi supir yang membawanya meninggal."

__ADS_1


Arman menyembunyikan tangannya yang gemetar ke dalam saku mantelnya.


"Bisa ceritakan sedikit!"


__ADS_2