Insane

Insane
47


__ADS_3

Satu-satunya ikatan yang menghalalkan seorang manusia berbeda jenis untuk berhubungan adalah ikatan suci pernikahan. Tidak ada selain itu. Tidak hanya sebagai pengikat, pernikahan adalah bentuk bukti tertinggi manusia untuk menghargai pasangannya. Pernikahan meleburkan dua rasa menjadi satu, dua beda menjadi indah, dua kata menjadi satu, kita.


Kenya sampai pada hari ini. Hari dimana ikatan itu akan di bentuk. Hari dimana dirinya akan sepenuhnya di miliki Arman.


Hampir satu jam berlalu semenjak Arman telah siap dengan tampilannya, Kenya belum juga keluar dari kamar. Bukan karena masalah penampilan. Arman sudah memberitahu bahwa mereka akan menikah di KUA, jadi Kenya tidak perlu berdandan heboh layaknya pengantin di luar sana.


Tapi


Rasa itu yang kembali menyerangnya. Rasa yang sangat Kenya takutkan. Rasa yang bisa saja menggagalkan rencana Arman hari ini.


Ragu


Iya, Kenya kembali ragu pada keputusannya. Ragu pada Arman. Ragu hari ini akan baik-baik saja. Kemana rasa yakin yang ia rengkuh kemarin?


Kenya masih membeku di depan cermin. Tidak membolehkan siapapun menggerakkan kursi rodanya.


Sialnya, kenangan itu datang lagi. Baik yang terjadi setahun lalu, juga kenangan saat pernikahannya dengan Parhan.


Pernikahan pertamanya dulu tentu jauh berbeda dengan yang akan terjadi sekarang. Bersama Parhan, segalanya di persiapkan secara matang, terencana, dari pengajian, siraman, akad nikah, sampai bulan madu. Keluarga mereka menjunjung tinggi adat istiadat yang di percaya bisa melanggengkan hubungan mereka sebagai suami istri. Meski begitu, Kenya masih harus menelan kecewa karena Parhan masih memiliki cinta terpendam pada masa lalu.


Nyatanya, berbagai rentetan acara sakral itu tidak menjamin perasaan pasangan, baik suami atau istri, terjaga oleh orang menyebutnya dengan istilah setia.


Dan sekarang apa?


Pernikahan dengan Parhan yang di rencanakan jauh-jauh hari dengan perencanaan teramat matang saja bisa kacau di belakang, bagaimana dengan pernikahan mendadak seperti ini?


Kenya bahkan tidak yakin mereka bisa melewati masa tiga bulan pernikahan. Apalagi di tambah keadaannya sekarang, apa mungkin Arman...


"Key, Arman nunggu di luar,"


Suara Kinan seperti menarik Kenya dari pikiran liarnya. Kenya tidak tahu pasti alasannya, tapi saat Kinan menyebut nama Arman untuk pertama kali, suara itu seperti siraman air sejuk di kepalanya yang sedikit panas.


"ada yang kamu pikirkan? Ada yang kamu rasa," Kinan menunjuk bagian jantungnya, "mengganjal di sini?"


Kenya mengangguk lemah dengan bulir bening di pelupuk matanya. Hanya Kinan. Hanya pada sang ibu Kenya berani menunjukkan sisi terlemahnya tanpa beban dan takut. Ah, betapa bodohnya dia sempat berpikir tidak akan mengabari sang Ibu tentang pernikahannya.

__ADS_1


"Key ___"


"Mama ngerti, ga perlu kamu jelaskan."


Kinan kembali berlutut, menyamakan dirinya dengan Kenya. Sekarang dirinya berani membalas tatapan itu. Bukan dengan tatapan menantang dan tangguh layaknya wonder women. Tatapan Kenya lebih terlihat menyalurkan rasa takut dan ragu yang menggunung. Seperti tatapan anak kecil yang memohon untuk tidak pergi ke sekolah karena pekerjaan rumahnya belum selesai.


"Mama pernah bilang, kamu harus memaafkan masa lalu, karena kalau kamu tersakiti oleh masa depan, rasanya akan dua kali lipat lebih sakit, apa sudah kamu lakukan?"


Lagi, Key mengangguk lemah sebagai jawabannya.


"Sekarang ingat lagi kenapa kamu terima ajakan Arman kemarin, alasan kamu tanpa ragu mengiyakan maksudnya menjadikan kamu pendampingnya."


Ada jeda yang datang karena Kinan memberi Kenya waktu untuk menggali ingatannya.


"Kalau apa yang di lakukan Arman belum cukup, cari tau lagi nanti, alasan-alasan kamu jatuh cinta sama dia. Satu-satunya cara, ya dengan cara ini, pernikahan. Nanti, pada masanya kamu akan menemukan alasan-alasan itu, pertanyaanmu akan terjawab semuanya, dan Mama lebih suka denga cara Arman yang sekarang, membuatmu menjadi wanita terhormat, mengikatmu dengan hubungan suci, daripada dengan caranya setahun lalu, yang kalo Mama ingat pengen Mama tampar lagi pipinya."


***


Di luar kamar Kenya, tentu saja diantara empat orang yang duduk di sana, Armanlah yang paling gelisah. Raganya memang duduk, tapi pikiran dan hati pria itu tidak setenang wujudnya. Sudah lewat satu jam mereka menunggu Kenya keluar. Sampai saat ini tidak ada tanda-tanda pintu kamar itu akan di buka.


Jika Kinan tidak ada di dalam, mungkin saja Arman akan berbuat nekat menggendong Kenya ke KUA.


"Udah."


"Dandan?"


"Cuma pake gincu sama bedak."


"Rambutnya?"


"Diikat tengah kayak biasa, cuma di kerli sedikit sama Mba Tika."


"Terus kenapa Kenya belum keluar?"


"Bapak ga beliin Mba Key baju pengantin," jawab Cacung asal, "ya mana saya tau, Pak. Dari tadi juga di sini abis bantuin Mba Key beberes."

__ADS_1


Arman menarik dan menghembus napas gusar. Tidak ada yang melihat bahwa tangannya sudah berkeringat karena takut. Takut Kenya batal melanjutkan niat mereka.


Tidak ada yang bisa Arman lakukan selain berdo'a. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, merasa putus asa, tapi terus berusaha membuang semua pikiran negatif yang mulai mampir.


Kalau jawaban Cacung benar, bahwa Kenya marah karena tidak ia belikan baju pengantin, Arman bersumpah akan membeli semua isi toko baju pengantin langganan Elia.


Dan saat suara handle pintu terdengar di putar, Arman seperti memiliki refleks sangat baik akan suara itu karena menjadi orang yang paling cepat berdiri di sana.Tika, Cacung dan Yogi tersentak kaget berjamaah karena gerakan tiba-tiba Arman.


Kenya muncul dari balik pintu, dengan tatapan lurus yang di sambut Arman penuh suka cita. Pandangan mereka bertemu.


"Key."


"Maaf, membuat kalian menunggu lama, ayo."


***


Mobil Arman dan Tika memasuki pelataran Parkir KUA. Di lobi Elia dan beberapa orang yang tidak Kenya kenali menyambut kedatangan mereka. Kenya bisa menangkap wajah-wajah yang tadinya tegang menghilang saat melihat Arman dan rombongannya tiba.


Arman sigap membantunya duduk di kursi roda. Garut mengambil alih kendaraan Arman untuk di parkirkan.


Elia tersenyum lebar, membuka tangan yang juga lebar menyambut Kenya. Key sempat mendengar laki-laki yang datang bersama Elia di sapa dengan sebutan 'Om' oleh Arman.


"Ayo, ramah tamahnya nanti, kalian sudah di tunggu oleh petugas kantor." Kata Elia bersemangat.


Garut membimbing mereka ke sebuah ruangan. Ada dua petugas yang menunggu mereka di sana. Tanpa obrolan panjang, petugas itu mulai bergerak melakukan tugasnya. Sebelum akad di lakukan, petugas itu mengisi beberapa dokumen, menanyakan saksi dan mahar pernikahan. Saksi yang Kenya tunjuk adalah Kinan dan Tika, sedang Arman meminta Elia dan suaminya.


Begitu semua dokumen terisi, petugas itu mengkonfirmasi lagi dan menanyakan kesiapan kalimat ijab kabul Arman. Kalimat sakral yang tidak boleh di ucap sembarangan. Arman hanya mengangguk begitu membaca kalimat ijab kabul yang di tulis petugas.


Key ingat dirinya meminta pernikahan sederhana seperti ini setahun lalu. Hanya calon pengantin, penghulu, dan empat orang saksi. Orang seberpengaruh Arman ternyata berani menerima tantangan menikah dengan cara yang paling sederhana.


Jangan di tanya kostum mereka. Arman hanya memakai kemeja nerwarna biru muda di padu celana nahan berwarna lebih tua. Sedang Key memakai blouse lengan panjang berwarna putih tulang dan celana kulot hitam. Tidak ada kebaya modern atau baju adat tradisional lainnya seperti pengantin kebanyakan.


Adegan demi adegan di ruangan itu seperti di percepat. Dada Kenya rasanya berdesir hangat, bergemuruh hebat di serang ribuan perasaan yang tidak Kenya pahami. Segumpal sesak oleh rasa-rasa itu menghantamnya di momen ketika Arman menyebutkan mahar yang ia berikan dan saat Arman menyematkan cincin kawin di jari manis tangan kanannya.


Resmi sudah dirinya menjadi istri seorang Arman Permana.

__ADS_1


Begitu keluar dari ruangan, pasukan yang lebih besar menyambut Arman dan Kenya. Key menganga karena kaget. Segerombol pria menyalaminya dan Arman. Banyak komentar yang mereka utarakan, dari pujian sampai ungkapan kesal karena Arman tidak mrmberi tahu mereka rencana besarnya.


Belakangan baru Kenya ketahui bahwa mereka sepupu-sepupu Arman setelah di bisiki Elia. Tante Arman itu juga mengenalkan putra putrinya, Danny dan Inges. Inges memeluknya erat. Memberi semangat untuk Kenya dalam menghadapi Arman yang menurutnya menyebalkan.


__ADS_2