Insane

Insane
41


__ADS_3

"Kita sudah sampai, Tuan."


Suara supir itu menyadarkan Arman yang sempat terlelap beberapa saat. Arman tidak segera turun. Dia sadar dirinya tidak bisa masuk begitu saja ke dalam rumah Kenya.


Arman mengambil ponselnya di saku jas dan dengan gerakan cepat mendial nomor Cacung. Untuk ukuran Arman, jika sambungannya tidak di angkat pada dering ke tiga, maka bisa dipastikan si penerima telpon akan mendapatkan semprotan kemarahannya. Tapi sepertinya itu tidak berlaku lagi untuk Cacung, yang notabene orang yang paling setia menemani Kenya, orang yang pernah ia tegur habis-habisan saat awal dia menjabat manajer di Wajik merah. Arman berjanji akan mensejahterakan Cacung nanti.


Butuh empat kali usaha dan bisa di tebak, Arman lah yang mendapat semprotan kemarahan Cacung karena mengganggu tidurnya sepagi buta itu.


"Kan say sudah bilang Cung, biasakan! Saya akan datang di saat kamu tidak duga, jadi minta tolong buka pintunya, ya!"


Arman memutus sambungan karena tahu pasti Cacung akan melakukan apa yang ia minta. Ia segera turun menuju pintu yang bertepatan dengan pintu rumah itu terbuka. Dengan mata mengantuk dan lelah Arman bisa melihat wajah kesal Cacung di daun pintu.


"Jangan macam-macam sama mba Key!"


"Aman, Cung."


Armam melangkah masuk begitu saja, mengabaikan Cacung dan ancamannya. Istirahat. Hanya itu yang ia inginkan sekarang.


Dengan tubuh yang masih berpakaian lengkap, Arman bergerak sepelan mungkin agar tidak mengganggu Kenya. Arman hanya menanggalkan jas dan sepatu tadi. Tidak kuat lagi kalau harus membersihkan diri dan mengganti baju. Ia merangkak seperti bayi di bagian sisi tempat tidur yang kosong.


Rumahnya jauh lebih layak untuk tempatnya beristirahat. Kamarnya jauh lebih nyaman dari kamar Kenya, tapi Arman malah merasa akan lebih nyaman beristirahat di samping wanitanya meski di atas tempat tidur yang sempit.


Dengan posisi miring, dia bisa melihat wajah Kenya yang terlelap. Menit berikutnya, Arman ikut tertidur pulas.


***


Key melipat tangan di atas dada, diikuti Cacung di belakangnya. Di hadapan mereka Arman masih meringkuk pulas. Jika pria itu tidur terlentang maka kakinya mungkin akan melewati batas tempat tidur Kenya.


Kenya masih tidak habis pikir mendengar cerita Cacung yang di bangunkan Arman jam 3 pagi.


"Dulu dia yang mengakhiri semuanya, kenapa sekarang malah dia yang kembali dengan cerita paling menyedihkan? Sakit? Obsesi? Lucu," gerutu Kenya.


Dia juga mengomeli Cacung yang mau-maunya membukakan Arman pintu.


"Katanya dia baru selesai lembur Mba, dan ga bisa tidur kalau ga di samping Mbak."


Itu alasan Arman yang di dengar Kenya dari Cacung.


Dan sekarang waktu telah melewati jam 8 pagi. Kenya sudah berniat membangunkan Arman, tapi urung juga karena masih kesal. Bisa-bisanya pria itu tidur pulas sambil menggenggam tangannya. Biar, biar saja dia terlambat ke kantor dan mendapat teguran? Tapi siapa yang mau menegur Arman kalau dia pemegang kedudukan tertinggi?


Kenya menutup wajahnya, kemudian mengambil napas dalam, di hembuskannya kuat-kuat. Sialnya, kata-kata Elia kembali mengiang kencang. Semakin dia menolak maka Arman akan terobsesi dan menyakiti dirinya.


Dan Kenya masih enggan menjalin hubungan karena masih trauma akan perbuatan Arman. Lengkap sudah penderitaannya. Maju salah, mundur apa lagi. Ingin sekali dia berteriak dan mengusir pria itu.


"Lanjut kerja deh, Cung! Biar Mbak yang ngurus dia," kata Kenya mengingatkan.

__ADS_1


"Apapun keputusan Mbak, saya akan dukung, yang penting Mbak bahagia. Ga ada salahnya mencoba lagi dengan memaafkan masa lalu, Mba." Kata Cacung sambil menepuk pundak, lalu meninggalkan Kenya. Key meringis dalam hati mendengarnya.


Dia sudah memaafkan Arman, tapi belum menerima akibat dari perbuatan pria itu.


***


Di kantor Permana Jaya, Garut baru tiba di mejanya kemudian melangkah menuju ruangan sang atasan. Dia tahu pasti Arman belum ada di ruangan karena sudah berpesan akan datang terlambat.


Garut berniat akan menyerahkan semua dokumen dan laporan yang telah Arman selesaikan ke setiap divisi perusahaan. Kalau sudah begitu, para karyawan akan bekerja cepat jika sudah mendapat tanda tangan Dewa Bos.


Garut bertepuk tangan dalam hati melihat tumpukan pekerjaan yang sudah Arman selesaikan. Untuk kali ini dirinya kagum dan memberi rasa hormat mendalam atas kinerja atasannya. Arman benar-benar menepati janjinya. Hari ini pekerjaannya akan lebih ringan dan Garut bisa mendapat lebih banyak waktu saat jam istirahat siang nanti.


Garut merapikan satu per satu dokumen itu dan menyusunnya sesuai urutan divisi yang akan dia kunjungi. Tiba-tiba matanya melihat kertas HVS satu-satunya yang tidak di letakkan di dalam map.


Garut membaca sejenak kertas itu dan seketika wajahnya berubah kesal.


***


Arman menggeliatkan tubuh. Benar saja, kakinya melewati batas tempat tidur saat dia terlentang. Arman kemudian meringkuk lagi dan terlelap.


Kenya melihat semua gerakan yang Arman lakukan. Dirinya masih tidak menyangka bisa melihat wajah itu lagi dalam keadaan terpejam.


Sebanyak apa pekerjaannya sampai dia harus pulang jam tiga pagi karena lembur?


Nyatanya, setelah melepaskan jabatan manajer di WM, pekerjaan Arman bukannya bertambah ringan sebagai seorang pemilik perusahaan. Saat masih bekerja dengannya dulu, Arman tidak pernah, tepatnya tidak perlu, melakukan kerja lembur jika hanya sebatas mengurusi toko kue sekelas Wajik Merah. Tapi Arman memang bekerja keras untuk menaikkan pamor toko kue itu. Dalam kurun waktu tiga bulan, Wajik Merah menjadi salah satu toko kue favorit sekelompok orang. Bahkan mulai di lirik pengusaha katering besar dan terkenal. Dan kini semua tinggal kenangan.


Suara kerasnya itu ternyata berpengaruh karena membuat Arman menggerakkan mata. Waktu hampir mendekati pukul 10.


Arman mulai membuka mata, mengerjap beberapa kali dan mulai mencari.


"Pagi," sapanya saat matanya menangkap sosok Kenya.


"Bangun Arman, kamu harus bekerja!"


Kenya bahkan tidak mau repot-repot menawari Arman sarapan. Biar saja laki-laki itu pergi dengan perut kosong dari rumahnya.


"Key!"


"Apa?"


"Terima kasih."


"Untuk?"


"Pertama kali aku bisa tidur tanpa____"

__ADS_1


Arman yang masih berbaring miring memutus kalimatnya sendiri dan segera mengambil posisi duduk.


Tanpa Arman lanjutkan pun, Kenya tahu jawaban dari kalimat tidak lengkap pria itu.


"Aku ga ganggu tidur kamu kan?" tanya Arman sedikit panik.


Kenya akan menggerakkan kursi rodanya, tapi Arman sudah lebih dulu menarik benda yang menopang tubuh Kenya itu. Mereka kini berhadapan.


"Kamu punya mata, kan?" balas Kenya ketus.


Sangat sadar masih terlalu pagi untuk memulai pertengkaran, tapi Kenya sudah tidak tahan dengan pikirannya yang berkecamuk.


"Aku...aku ga kayak dulu Arman, aku cacat dan ini permanen."


Arman menggeleng keras mendengar ucapan Kenya, dia ingin sekali menyanggah.


"Apa yang kamu harapkan dariku? Di luar sana ada banyak wanita yang bisa membuat kue, kenapa kamu tidak terobsesi sama mereka saja? Paling tidak mereka bisa berjalan dan melayani kamu dengan baik."


"Aku tau."


"Terus kenapa kamu masih di sini? Kenapa kamu malah pulang ke sini? Kenapa bisa-bisanya kamu tidur pulas di atas kasur kapuk sempit itu? Kenapa Arman?"


"Rumah, aku hanya merasakan tempat itu menjadi terasa seperti rumah sebenarnya kalau kamu ada di sana, aku ga tau alasan yang lain."


Arman sangat bersungguh-sungguh dakam setiap kalimatnya dan berharap Kenya percaya.


"Aku ga akan minta di layani Key, aku yang akan layani kamu."


Arman tiba-tiba bersimpuh, posisinya lebih rendah dari Kenya. Pria itu menaruh tatapan penuh pada wanita dambaannya. Wajahnya memelas.


"Aku salah Key, aku ceroboh, aku dulu gegabah mengambil keputusan," Arman bicara sambil menggenggam kedua tangan Kenya, ia mulai katakutan.


"Aku dengar kamu bicara dengan Wong di ruang tamu setahun lalu, aku dengar kamu akan menikah dengannya dulu. Aku marah Key, merasa dikhianati. Kamu bersikap seperti tidak mengenal Wong saat awal pertemuan kita dulu, menyerahkan proyek counter padaku, dan tiba-tiba kalian bicara sangat akrab di belakangku, jujur saat itu aku sakit hati."


Kenya kini paham kenapa Arman pergi, tapi alasan uang Arman ungkapkan tidak bisa merubah pandangannya. Bahunya mulai bergetar menyadari masalah yang ia hadapi.


"Bisakah...bisakah kamu tetap seperti tahun lalu? Tetaplah salah paham."


Lagi-lagi Arman menggelengkan kepala, menolak apapun yang Kenya minta.


"Ga gitu Key, ga bisa."


"Bisa, kalau kamu mau."


"Key, satu...satu kali ini saja."

__ADS_1


"Apa," Kenye menggeleng mengoreksi sendiri kalimat di kepalanya, "bagaimana kalau kamu pergi lagi?"


"Ga akan sweet heart," Arman menyambar tubuh Kenya, memeluknya erat, "kalau itu yang kamu takutkan, itu tidak akan terjadi, sekali ini saja kasih aku kesempatan kedua."


__ADS_2