
Dari kejauhan, Kenya bisa melihat mobil Arman terparkir di depan gerbang rumahnya. Tak seperti biasa kalau pria itu akan langsung masuk setelah di bukakan pintu oleh Yogi, kali ini Arman lebih memilih menunggu di luar, bahkan di luar mobilnya, ia menyandarkan tubuh tampak berpikir menghadap pada rumah Kenya. Tak tahu apa yang sedang di pikirkan pria itu sampai tak menyadari Kenya sudah ada di sampingnya.
"Menunggu siapa?"
Arman sedikit terkesiap, menegakkan tubuh dari sandaran.
"Kamu, sejak kapan?"
Kenya malah menggantikan Arman bersandar di badan mobil Pajero Sport putih itu.
"Biasanya kamu juga akan masuk sendiri, kenapa malah di luar?"
Arman ikut bersandar, lagi, bersisian dengan Kenya.
"Aku hanya ingin menjadi tamu yang lebih sopan."
Efek Kenya pernah mengingatkannya bahwa dirinya tidak bisa memengaruhi semua orang untuk berprasangka baik pada mereka, Arman memilih setuju untuk tidak sembarang masuk rumah Kenya. Itu alasan pertama, alasan kedua...
"Dan aku sudah menemukan seorang desainer yang akan membantumu mempersiapkan counter WM."
Kenya tersenyum, menegakkan badan, meraih lengan Arman.. Arman terkejut bukan main dengan yang Kenya perbuat padanya.
"Ayo kita bicara di dalam!" katanya sambil menarik lengan kekar itu.
Arman speechless. Matanya tak teralihkan dari tangan Kenya yang melingkari lengannya. Jantung Arman berdetak tak karuan. Aliran darahnya menggila, turun naik dari jantung, ke kepala sampai ke kakinya. Ini terlalu tiba-tiba. Arman lemas. Untung saja ada Kenya yang menuntunnya berjalan, kalau tidak mungkin Arman sudah menabrak apapun yang ada di depannya karena terlalu senang. Pertama kalinya mereka bersentuhan lagi. Selain jabat tangan ketika Arman di terima sebagai manajer di Wajik Merah dulu, mereka sama sekali tidak pernah melakukan skinship dalam bentuk apapun. Apapun.
Tangan Kenya perlahan melonggar dan terlepas ketika sampai di depan pintu. Kenya mencoba menemukan kunci rumahnya yang ada di dalam tas.
Sementara Arman, tak satu pun kata keluar dari mulutnya. Ia berusaha menenangkn diri karena kerja jantungnya masih belum normal.
__ADS_1
Kenya, wanita ini, baru saja membangunkan rasa yang masih Arman sembunyikan rapat-rapat. Bahaya.
"Mau kopi?" tanya Kenya ketika mereka kini berada di ruang tamu, "sepertinya Yogi sudah tidur sama mama." sambung Kenya.
"Mama kamu datang? Kapan?" tanya Arman sedikit gugup, bersyukur dalam hati atas tindakn bijaksananya yang tidak masuk ketika datang tadi.
"Sudah dua hari," Kenya menyiapkan dua cangkir kopi, kemudaia berali ke tempat lemari pendingin, "Sepertinya masih ada di kulkas," Kenya mencari sesuatu di lemari pendingin, Arman masih memuji dirinya.
"Jatah kamu ga di makan sama orang rumah," kata Kenya sambil membawa nampan berisi kopi dan kudapan.
"Jatah?"
"Mama bawa ubi ungu dari kampung, lumayan banyak. Bosen juga kalau di rebus, sebagian aku bikin kelepon,"jelas Kenya singkat, tangannya dengan cekatan meletakkan kopi di depan Arman beserta kudapan kelepon, dan menaruh kopi miliknya sendiri di atas meja.
"Isiannya dua macam, keju dan gula merah, ga tahu deh yang mana kejunya yang mana gula merah, tapi agak dingin juga ga apa-apa ya, aku malas mau ngangetin."
"Aku lebih suka makan kue ini pakai tangan, aku cuci dulu,' ujarnya sambil berdiri melangkah ke dapur.
***
Suasana berubah hening, Arman masih menikmati kopi dan kudapan yang Kenya sajikan, dan Kenya duduk menunduk dengan cangkir di tangan. Telunjuknya mengitari pinggiran cangkir, kopinya.
"Ar, Key," Arman memerbaiki posisi duduknya, "Kamu duluan!" imbuhnya lagi.
"Aku mau bicara tentang kita." Kenya memiringkan badan agar leluasa memandang pada Arman.
"Aku tahu kamu menyukaiku."
***
__ADS_1
"Istrimu wanita yang baik."
"Aku tau."
"Tapi kenapa kamu mengungkapkan perasaan padaku?"
"Apa itu salah?"
"Tentu saja salah Parhan."
"Key terlalu kekanakan, egois, suka memaksa, dan dia tidak peduli pada Yogi, sulit di ajak bekerja sama untuk mengatasi penyakit Yogi."
Yuni menatap prihatin pada pria yang duduk di depannya. Parhan baru saja menyatakan bahwa dirinya kembali merasakan rasa yang dulu, ketika mereka masih berada di bangku kuliah. Membuat Yuni terkejut karena tidak menyangka hal itu. Setelah beberapa tahun terpisah, mereka akhirnya bertemu saat Parhan mendapat rekomendasi tempat terapi di mana Yuni bekerja di sana. Dua bulan intens bertemu, akhirnya Parhan hari itu mengungkapkan perasaannya.
"Tidak bisa seperti ini Parhan, bicaralah dengan Kenya, beri dia pengertian, dia pasti bisa menerima keadaan Yogi." Yuni ingin menepis anggapan Parhan bahwa dirnyalah yang pantas menjadi ibu Yogi.
"Kenya adalah ibu yang melahirkan Yogi, dia memiliki perasaan itu, kamu hanya perlu bersabar sampai Ke menyadarinya dan berubah."
"Sampai kapan? Bisakah kamu menjamin hal itu?" Jelas Parhan menolak argumen Yuni dengan pertanyaan yang dia ajukan.
"Walau bagaimanapun, aku tidak bisa menerimamu, sekalipun Yogi yang menjadi alasannya."
"Aku tahu, setidaknya aku sudah mengungkapkannya."
"Aku akan berusaha membantu Yogi sebaik yang aku bisa, membuatnya seperti anak normal lainnya, mungkin akan lama, tapi harapan itu selalu ada."
"Terima kasih."
"Dan untuk Key, bicara padanya lagi. Bicara baik-baik, aku yakin kalian bisa mengatasi masalah ini."
__ADS_1