Insane

Insane
19


__ADS_3

"Ada perlu apa kamu datang kemari?" Tidak perlu basa-basi Key dengan orang ini. Melihatnya saja dia tidak ingin. Bukan karena marah, tapi, malu.


"Setidaknya persilakan tamumu masuk."


"Tidak perlu, katakan saja sekarang dan segera pergi." Wajah Key sudah membara sebenarnya, ingin sekali dia menutup pintu lagi.


"Aku janji tidak akan lama, kita luruskan masalah yang dulu, dan aku akan pergi setelahnya." Demi bicara dengan wanita di depannya ini Wong rela menghilangkan sejenak harga diri. Sungguh, menyisakan pengalaman buruk di masa lalu dengan seseorang raaanya tidak enak saat bertemu di masa depan.


"Silakan!" Key membukakan pintu lebih lebar, "maaf saja, tanpa minum." Kata Key pedas, masa bodo denga etika kesopanan.


"It's okay, tujuanku kemari untuk bicara."


"Bicaralah!" Tidak perlu basa-basi lagi menurut Key, jadi langsung saja.


"Aku minta maaf," sampai di sini Key hanya menjadi pendengar, "aku harus berbohong kalau telah menikah dengan Arsa agar kamu berhenti mencariku," baiklah, drama segera di mulai, Key sudah mulai panas juga, "tapi aku melakukannya atas permintaan Parhan," dan sekarang sudah mendidih, menguap di waktu yang sama.


"Apa maksudmu?" di skenario yang ia buat, Key harusnya berteriak marah, kenyataannya dia bertanya dengan suara terlemahnya.


"Parhan mendatangiku, meminta agar aku tidak membalas perasaanmu, karena kamu cinta matinya, dia berkata hubungan kalian sudah sangat serius, bahkan sebelum aku datang dan kamu berpaling padaku, katanya kalian akan menikah dan aku adalah pengacau, terus terang Key, aku merasa tidak enak dan aku rasa itu satu-satunya cara agar kamu berhenti."


Perut Key mendadak mulas setelah mendengar penjelasan Wong, jujur saja ia ingin mencekik pria itu sekarang. Astaga, masa lalu macam apa yang sebenarnya dia alami dulu.


Baiklah, ini saatnya.


"Kamu tahu kalau Arsa juga memiliki tunangan waktu itu hah?" sambil mengoceh, Key mulai memukul Wong secara membabi buta dengan bantal sofanya, "dia juga memiliki tunangan dan akan segera menikah, dia merebutmu dariku dengan cara yang licik, dasar wanita serakah, kalian mengerjaiku, harusnya aku yang menjadi istrimu, dasar brengsek, aku mengejarmu, aku rela kepanasan kehujanan demi menemuimu, aku begadang tengah malam demi menemanimu bekerja mendesign ruangan, meski kita di tempat terpisah dan pulsaku habis untuk menelponmu, aku rela makan lalapan bebek menahan jijik denganmu," Key masih memukul dengan kekuatan stabil, tidak bekurang sedikitpun dan Wong tidak menghindar, dia pantas menerima kemarahan Key.


"Gara-gara ulah kalian berdua aku jadi seperti wanita murahan, dasar tidak tahu malu, menyebalkan, aku muak dengan kalian."


"Iya iya, maaf Key," dan pada akhirnya Key menemukan titik lelahnya, ajaibnya perutnya tidak mual lagi. Dia duduk bersandar dengan napas naik turun, dadanya kembang kempis. Wong menatapnya takjub, dengan tangan kanan terangkat menutupi wajahnya dari samping.


"Mau pukul lagi?" tanya Wong dengan wajah konyolnya.

__ADS_1


Key menatap wong sinis, dengan tajam, mungkin Wong akan tertusuk jika mata Key mengandung mata pisau. Mendadak Key menutup wajahnya dengan bantal sofa yang masih ia genggam, Wong bisa mendengar suara tertawa wanita itu meski samar, dan saat Key menyingkirkan bantal itu dari wajahnya, tawanya menguar seketika memenuhi ruangan. Wong yang tadinya termangu terang saja ikut tertawa.


"Astaga, wajahmu tidak berubah Wong, masih konyol seperti dulu."


"Hei, ingat, wajah ini yang membuatmu jatuh cinta."


"Cih, maaf ya, aku penyuka pria pintar, bukan tampang, kalau kamu bukan anak tehnik, aku ga akan suka." Sungguh itu pengakuan terjujur Kenya, dia penyuka pria pintar, karena otaknya sendiri pas-pasan, ia ingin memiliki anak-anak yang pintar nantinya, memperbaiki keturunan.


"Jadi benar, dulu kamu sungguh-sungguh mencintaiku Key? Akui sekarang!"


"Jangan mulai lagi, Cosmic jelek, apa kamu tuli?"


"Ayolah Key sekali saja, aku sudah menyulap countermu dengan kemampuan terbaikku, jadi nyatakan perasaanmu sekarang."


"Astaga, aku menyesal menghapus nomor ponsel Arsa."


"Anggap saja kita sedang berada di masa lalu." Dan akhirnya menyerah, menurut saja pada pria usil ini.


Wong hanya tertawa geli mendengarnya. Tentu saja dia tidak akan menanggapi ucapan Kenya sekarang.


"Andai aku juga seberani Parhan, mempertahankanmu, kita akan menikah dan kita akan bersama selamanya."


"Kita akan menikah dan kita akan bersama selamanya," ulang Key dengan nada dramatis. Tepatnya mengejek.


"Ah Key, kau membuatku menyesal melangkah mundur, bagaimana kalau kamu menjadi yang kedua?"


"Kurang ajar." Satulemparan bantal melayang ke wajah Wong.


"Iya iya, maaf." Ada jeda yang terjadi sebelum Wong melanjutkan kalimatnya, "aku menikah dengan Arsa tiga tahun setelah kamu menikah dengan Parhan."


"Aku tahu."

__ADS_1


"Kamu tahu? Dari mana?"


"Akun sosial media Arsa, kami masih berteman di dunia yang tidak nyata."


"Hanya berteman dengan Arsa, kamu memblokirku di semua akun, Key, yang benar saja?"


"Memang untuk apa berteman denganmu? Tidak ada gunanya."


"Ya ya, baiklah, lupakan masa lalu, kita tetap berteman dan... aku turut berduka untuk Parhan." Wajah Wong berubah sendu saat berucap.


"Terima kasih."


"Kamu tangguh Key, aku salut."


***


Arman berjalan dengan tatap kecewa yang tidak bisa ia sembunyikan. Ada rasa sakit yang menjalar samar dan semakin jelas dan pekat saat dia berjalan semakin jauh dari rumah itu. Dia merasa tertipu. Mendadak Arman merasa kehilangan kepintarannya.


Ingin rasanya ia kembali dan menghancurkan pertemuan itu. Tapi ada satu rasa yang menahannya. Rasa yang tidak ia suka. Bodoh. Apa dia kembali saja sekarang dan menghajar pria itu?


Suara klakson kendaraan menghentikannya sebelum Arman berbalik. Garut muncul dari dalam mobil. Arman baru ingat, dia menelpon Garut untuk menjemputnya begitu keluar dari gerbang rumah Kenya. Dia kemudian membukakan pintu untuk Tuannya. Arman langsung saja memerintahkannya meninggalkan tempat itu.


"Kita kemana pak?"


"Pesankan aku tiket ke Amerika untuk besok pagi, beritahukan pada dewan direksi aku sendiri yang akan mengawasi proyek di sana, sampai selesai." Alih-alih dijawab. Garut di beri perintah sebagai bentuk jawaban atas pertanyaannya. Arman menahan amarahnya saat ia mengucapkan perintah itu.


Di belakang setir, dari kaca spion Garut bisa melihat wajah Bosnya yang penuh emosi. Tentu dia tidak akan berani bertanya tentang permasalahan yang terjadi. Tapi dari perintah yang ia dengar, masalah besar telah menimpa atasannya itu. Garut masih tidak menyangka Arman akan merubah hasil rapat mereka lima hari yang lalu. Jelas-jelas Arman menolak turun ke lapangan dan menyerahkan proyek itu pada pimpinan direksi yang lain karena rencana pernikahannya.


Ini pertama kalinya Arman mementahkan hasil rapat.


"Satu lagi Garut...batalkan pernikahanku."

__ADS_1


__ADS_2