Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #13 - Takdir Tak Terduga


__ADS_3

Eliza pun memejamkan mata dan menggengam kedua tangannya untuk berdo'a sebelum makan, sementara Jibril menadahkan tangannya sambil mengucapkan doa sebelum makan juga.


Keduanya makan dalam diam dan fokus pada makanan masing-masing. Namun, hati keduanya berdebar hebat sampai membuat mereka tak tahu harus berkata apa. Sama-sama tahu ada cinta di hati satu sama lain. Namun, juga sama-sama tahu cinta mereka seperti bayangangan yang tak mungkin tersentuh.


"Kamu ..." Eliza mendongak, menatap Jibril yang makan tapi sambil bermain ponsel. "Kata mommy, jangan main hp saat makan. Makanan itu harus di hormati," tukas Eliza yang seketika membuat Jibril langsung meletakkan ponselnya di atas meja. Eliza melirik layar ponsel Jibril yang wallpapernya hanya layar gelap tanpa ada gambar atau elemen apapun." Dasar pria nggak punya selera!" Pupil mata Jibril langsung melebar saat mendengar apa yang di katakan Eliza.


"Aku?" tanya Jibril sambil menunjuk dirinya sendiri, Eliza mengangguk cepat. "Kenapa kamu bilang gitu?" tanya Jibril lagi.


"Liat tuh! Wallpaper cuma layar gelap, segelap hidupmu tanpaku," celetuk Eliza sambil terkekeh geli yang berhasil membuat Jibril kembali mengulum senyum.


Eliza kembali terdiam karena Jibril masih tak menanggapinya dengan tanggapan berarti, ia pun segera melahap pastanya seperti orang tergesa-gesa yang membuat Jibril sedikit bingung.


"Nanti tersedak." Jibril mengingatkan namun Eliza tak memperdulikannya, ia terus makan dan kini Jibril membiarkannya.


"Nggak di ingetin lagi?" tanya Eliza kemudian sambil mengunyah, Jibril hanya menggeleng sebagai jawaban dan itu membuat Eliza terkekeh.


"Kamu itu terlalu cuek jadi laki-laki, Tuan es batu. Itu nggak baik!" Eliza segera menyelesaikan makanannya setelah itu ia meletakkan beberapa lembar uang di meja, Jibril tak bersuara dan hanya memperhatikan Eliza dari ekor matanya. "Biar aku yang traktir, anggaplah sebagai balas budi karena waktu itu kamu membayar belanjaanku." Jibril hanya mengangguk setelah itu ia kembali makan dengan santai.


Eliza melongo, rasanya ia tidak pernah bertemu dengan orang yang begitu acuh seperti Jibril. "Aku mau pergi," kata Eliza kemudian, berharap Jibril mencegahnya. Namun, Jibril justru mengangguk santai tanpa bersuara. Eliza berdecak kesal kemudian kembali duduk di kursinya, tak hanya itu. Ia juga mengambil kembali uangnya dan berkata, "Bayar sendiri-sendiri."


Jibril terkekeh akan tingkah ajaib gadis satu ini. "Okay," jawab Jibril. Setelah makan, ia memanggil pelayan untuk membayar. Dan seperti kata Eliza, bayar sendiri-sendiri.


"Dasar pelit!" Eliza menggumam kesal. "Masak iya kamu makan sama cewek terus bayar sendiri-sendiri? Nggak ada inisiatif bayarin gitu?"


"Kan tadi kamu yang minta, Eliza," jawab Jibril.


"Jadi kalau aku minta kamu bayarin, kamu akan bayarin?" tanya Eliza yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Jibril. "Lain kali tidak boleh seperti itu, Tuan es batu. Apa yang terucap dari mulut wanita itu adalah kebalikan apa yang di inginkan hatinya, dan sebagai seorang pria, seharunya kamu peka akan hal itu!"

__ADS_1


"Oh, apa itu rumus baru?" tanya Jibril sembari berdiri dari tempat duduknya kemudian melenggang pergi dari restaurant, Eliza pun mengikutinya dari belakang.


"Bukan! Itu rumus dari awal sampai akhir kehidupan." Jibril mengangguk mengerti dan ia teringat dengan Aira juga umminya. Beberapa kali Jibril melihat kedua wanita itu merajuk pada pasangan mereka karena hal sepele, padahal pasangan mereka sudah melakukan apa yang mereka ucapkan.


"Terima kasih atas ilmunya, Eliza. Aku punya ibu, adik perempuan dan keponakan perempuan. Sepertinya rumus itu bisa bermanfaat buat aku."


"Ilmu seperti itu sangat penting untuk pasanganmu, Tuan es batu," ucap Eliza sembari melangkah lebih cepat agar bisa mensejajarkan dengan langkah Jibril yang lebar. "Oh, ya. Malam ini aku mau mengundang kamu makan malam, sahabatku ulang tahun. Tenang aja, kali ini ada banyak orang. Datang ya? Aku maksa sih."


Jibril tak bisa menahan senyum gelinya saat mendengar kata-kata terkahir Eliza. "Okay, jam berapa?" tanya Jibril.


"Jam 7.30. Bawa kado, ya. Karena sahabatku senang kalau dapat kado," pintanya.


"Kado apa?" tanya Jibril lagi.


"Apa aja, terserah kamu."


"Kalau begitu, belikan saja sekotak cokelat. Dia pecinta cokelat."


"Okay."


Kini Jibril dan Eliza sudah sampai di parkiran, mereka masuk ke mobil masing-masing setelah Eliza kembali menekankan pada Jibril agar datang tepat waktu.


Saat Jibril sudah berada dalam mobil, ia tak bisa menghentikan senyumnya setiap kali mengingat tingkah Eliza yang selalu berhasil membuat hatinya menghangat.


"Seharusnya aku tolak saja undangan dia, tapi kenapa tadi aku bilang okay?" gumam Jibril sambil terkekeh, sepertinya tak mudah baginya untuk menolak pesona Eliza yang seperti bintang. Bercahaya tanpa menyilaukan.


...πŸ¦‹...

__ADS_1


"Apa aku terlambat?" Ruby dan Eliza yang saat ini sedang mengobrol langsung menoleh saat mendengar suara Shalwa.


"Ah ... Beb. Kamu datang juga akhirnya. Aku fikir kamu nggak akan datang," pekik Ruby yang menyambut kedatangan Shalwa dengan hangat.


Malam ini adalah acara ulang tahun Ruby yang di adakan cukup sederhana sebenarnya, hanya mengundang beberapa teman kampus Ruby dan ini hanya acara makan malam bersama.


Shalwa memberikan hadiah yang sudah ia siapkan untuk Ruby, setelah itu Ruby membawa Shalwa bertemu dengan beberapa temannya. Ruby memperkenal Shalwa yang di sambut dengan hangat oleh teman-teman Ruby.


Sementara Eliza justru sedang sibuk menunggu sang pangeran yang tak kunjung datang. "Mungkin dia nggak akan datang," seru Ruby yang membuat Eliza langsung berdecak. "Tuan es batu begitu kamu undang ke acara seperti ini, pasti di toβ€”" ucapan Ruby terhenti saat ia melihat Jibril yang datang dengan membawa sekotak cokelat.


Malam ini Jibril berpakaian casual seperti biasanya, tapi entah kenapa malam ini Jibril terlihat lebih tampan di mata Eliza.


"Itu cokelat buat apa?" tanya Ruby saat Jibril sudah berada di hadapannya. "Dan kenapa nggak di bungkus?" pekiknya.


"Eliza cuma bilang belikan sekotak cokelat sebagai hadiah ulang tahun," jawab Jibril dengan santainya yang membuat Ruby melongo sementara Eliza hanya cengengesan.


"Asal kamu tahu aja, aku alergi cokelat. Sepertinya Eliza meminta ini untuk dirinya sendiri," sindir Ruby sambil melempar lirikan tajam pada Eliza.


"Oh ...." hanya itu respon Jibril karena ia pun bingung harus berkata apa.


"Ya udah, masuk, yuk! Udah di tungguin," ajak Ruby.


Jibril pun melangkah bersama Eliza setelah ia memberikan sekotak cokelat itu pada Eliza yang di terima tanpa sungkan sedikitpun oleh Eliza.


Saat masuk ke ruangan yang sudah di persiapkan Ruby, seketika Jibril terdiam karena ia melihat Shalwa ada disana. Bahkan, Shalwa pun juga tampak terkejut melihat kedatangan pria yang selalu ia coba lupakan itu.


...πŸ¦‹...

__ADS_1


__ADS_2