Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #62 - Memulai Langkah Yang Baru


__ADS_3

Ini adalah perjalanan yang paling bermakna serta paling mendebarkan bagi Jibril juga Eliza, meskipun keduanya sudah sering melakukan perjalanan dengan jarak yang tak dekat. Namun, perjalanan yang sekarang sungguh bermakna.


Kini mereka sudah berada di ketinggian ribuan kaki di atas sana, terbang di angkasa seperti perasaan keduanya.


"Aku punya hadiah buat kamu," ujar Jibril sembari mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


"Oh, so sweet. Pasti cok-" ucapan Eliza terhenti saat yang di keluarkan oleh Jibril rupanya sebuah shall, padahal Eliza mengira hadiah yang akan di berikan oleh pria itu adalah cokelat sebagaimana hadiah yang di berikan pria pada umumnya.


"Shall?" tanya Eliza.


"Iya, aku beli ini tadi dalam perjalanan ke Bandara, kamu pakai, ya!" pinta Jibril.


"Tapi aku nggak lagi kedinginan," jawab Eliza dengan polosnya yang membuat Jibril langsung terkekeh.


"Bukan untuk menutupi leher kamu, El. Tapi untuk menutupi kepala," ujar Jibril dan seketika ingatan Eliza kembali terbayang pada Aira, Shalwa dan beberapa wanita muslimah yang ia temui. "Bisa pakainya, kan?" tanya Jibril. Eliza mengangguk sembari mengambil Shall itu. Ia pun menutupi kepalanya tapi sayangnya itu tak menutupi semua rambutnya.


"Aku rasa rambut kamu harus di ikat dulu, El. Karena kalau orang pakai jilbab itu semua rambutnya tidak boleh terlihat," kata Jibril memberi tahu.


Eliza yang mendengar saran dari Jibril pun langsung mengikutinya, ia segera mengikat rambutnya dengan rapi. Setelah itu Eliza kembali menutupi kepalanya dan memastikan rambutnya tak ada yang terlihat. "Nah, aturan kedua dalam memakai kerudung adalah menutupi hingga dadanya," ucap Jibril lagi. Ia pun menuntun Eliza agar menggunakan shall itu sebagai jilbab yang menutupi kepala dan dadanya dengan sempurna.


"Sudah? Apa begini?" tanya Eliza dan Jibril langsung mengacungkan kedua jempolnya sambil tersenyum.


"Kamu tahu? Wanita itu adalah salah satu makhluk terindah yang di ciptakan Tuhan, karena itulah wanita harus senantiasa menjaga diri dan memastikan keindahan itu hanya boleh di suguhkan pada yang berhak," tutur Jibril dan seketika Eliza teringat apa yang di katakan Aira dulu tentang kenapa ia menutup wajahnya.


Seketika mata Eliza berbinar terang, ia menatap Jibril dan bertanya, "Apa setelah menikah nanti aku harus menutupi wajahku seperti Aira karena aku cantik dan kamu cemburu?" Jibril sedikit terperangah mendengar pertanyaan Eliza yang di ucapkan dalam satu tarikan napas itu. Namun, saat ia mengingat dulu Eliza pernah menanyakan hal yang sama, seketika Jibril mengulum senyum samar kemudian mengangguk.


"Aduh, kalau aku nggak mau gimana? Panas dong, apalagi di Indonesia lagi musim kemarau," ujar Eliza dengan entengnya yang lagi-lagi membuat Jibril terkekeh.

__ADS_1


"Nanti aku belikan pakaian yang bahannya bagus dan adem, jadi kamu nggak akan kepanasan," sahut Jibril.


"Tapi kayaknya ribet deh, itu baju Aira besar, panjang, nyuci sama nyetrikanya juga pasti susah," ujar Eliza lagi.


"Tenang aja, aku akan membayar orang untuk mencuci dan menyetrika. Kamu tinggal pakai," jawab Jibril yang membuat Eliza meringis.


"Kamu kok kayak mendesak aku gitu? Kamu cemburu banget ya kalau ada orang lain yang liat kecantikan aku?" goda Eliza, tadinya ia menduga Jibril akan mengelak dan pura-pura tak cemburu. Biasanya yang di lakukan orang juga seperti itu. Namun, Eliza lupa bahwa Jibril tak bisa berpura-pura sehingga pria itu mengangguk tegas. Eliza kini hanya meringis.


"Kamu coba dulu sehari, kalau sehari bisa, coba dua hari, begitu seterusnya. Aku yakin nanti kamu akan terbiasa," ujar Jibril meyakinkan.


"Kenapa sih kamu nggak terima aku apa adanya aja? Begini aja gitu," gumam Eliza.


"Aku sangat menerimamu apa adanya, Eliza. Selain itu aku juga sangat mencintaimu dan perduli, karena itulah aku ingin membantu kamu menjadi pribadi yang terbaik, dan sebagai seorang muslimah, menutup aurat itu di wajibkan."


"Hem tapi banyak juga yang nggak pakai," tukas Eliza.


"Kalau mereka menyetir mobil tanpa mengenakan sabuk pengaman, apa kamu juga akan melakukan hal yang sama?" tanya Jibril yang langsung di jawab gelengan kepala oleh Eliza. "Kenapa?" tanya Jibril.


"Tapi 'kan banyak yang tidak pakai," balas Jibril.


"Ya itu karena mereka enteng, padahal bahaya lho," tandas Eliza dengan begitu serius.


"Sama halnya hijab seperti itu, Eliza. Aku yakin kamu tahu apa yang terbaik buat kamu, hm?"


Eliza terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-kata Jibril yang mencoba mengajarinya. Seketika Eliza tersenyum, ia menatap Jibril dan berkata, "Terima kasih sudah mau ngasih tahu, selema ini aku malu bertanya jadi nggak tahu."


Jibril bisa memahami posisi Eliza dan alasan wanita itu malu atau mungkin sungkan bertanya pada orang lain, apalagi lingkungan Eliza berasal dari keyakinan yang berbeda dengannya.

__ADS_1


"Orang bilang malu bertanya sesat di jalan," kekeh Jibril.


Eliza mengeluarkan cermin dari tasnya, ia menatap wajahnya sendiri yang entah kenapa baginya terlihat semakin cantik setelah memakai hijab.


"Aku beneran cantik ternyata," gumam Eliza yang lagi-lagi membuat Jibril terkekeh.


"Nggak akan ada yang meragukan itu," sahutnya yang dengan kata lain Jibril sangat mengakui kecantikan Eliza sehingga membuat wanita itu tersipu malu.


"Eh, tunggu!" seru Eliza kemudian. "Aku belum bilang iya lho atas lamaran kamu, Tuan es batu!"


"Tapi kita sudah dalam perjalanan menuju restu keluarga kita, Elizabeth. Aku rasa itu sudah lebih cukup dari 'iya'mu."


*********


Kedua orang tua Eliza dan kedua orang tua Jibril menunggu anak-anak mereka di Bandara karena penerbangan dari London itu tiba tengah malam.


Untuk pertama kalinya, kedua orang tua Jibril dan Eliza bertemu secara langsung dan mereka sempat sedikit mengobrol apalagi mereka sudah tahu tentang apa yang di inginkan anak-anak mereka. Awalnya mereka sempat sedikit canggung, tapi lama-lama mereka saling mencair dan mau menceritakan tentang anak-anak mereka. Mommy-nya Eliza juga bercerita tentang keputusan Eliza yang berpindah keyakinan beberapa bulan yang lalu, itu menciptakan kegeggeran yang luar biasa, perdebatan pun tak bisa di hindarkan. Namun, mereka harus segera menyadari bahwa keyakinan itu hakikatnya sama seperti cinta.


Orang tua Jibril yang mendengar cerita itu ikut senang apalagi kini keluarga Eliza menerima keyakinan Eliza yang berbeda, hingga akhirnya mereka melihat kedatangan anak-anak mereka.


Kedua orang tua Eliza sedikit terkejut melihat Eliza yang kini sudah berhijab meskipun wanita itu masih memakai jeans, kaos oblong yang di padukan jaket jeans juga.


Tak hanya orang tua Eliza, orang tua Jibril pun terkejut melihat sedikit perbedaan yang di tunjukkan oleh Eliza.


Saat Eliza bertemu dengan orang tuanya, ia langsung berhambur ke pelukan sang ibu juga ayahnya.


Eliza menyapa kedua orang tua Jibril dengan sopan, Jibril pun melakukan hal yang sama pada orang tua Eliza.

__ADS_1


"Apa kalian mau menginap di rumahku? Rumahku lebih dekat dari sini," kata Nyonya Jill.


"Nggak, Mbak. Terima kasih," kata Ummi Firda. "Kami akan pulang ke rumah kami, dan besok kita bisa mengatur pertemuan kembali untuk membicarakan langkah selanjutnya."


__ADS_2