Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #64 - Restu Terindah


__ADS_3

"Kami bersedia memberikan restu kami untuk kalian," ujar Tuan Henry kemudian. "Tapi kami punya beberapa syarat, jika Jibril bisa memenuhinya maka kami bersedia melepaskan Eliza untuknya."


"Daddy?" rengek Eliza pada sang ayah. "Daddy bilang akan menerima Jibril apa adanya, tidak akan mempermasalahkan apapun," ujar Eliza dengan kesal tapi Tuan Henry enggan menanggapi ucapan putrinya itu.


Tuan Henry menatap Jibril dengan tajam kemudian kembali berkata, "Karena keputusan Eliza untuk menjadi seorang muslimah, maka artinya akan ada beberapa perbedaan antara dirinya dan kami. Tapi apapun itu, aku cuma minta satu hal, Jibril. Jangan menjauhkan dia dari kami, biarkan dia tetap berinteraksi dengan kami sebagaimana sebelum kamu menjadikan istrinya. Karena Eliza adalah belahan kami."


Eliza yang tadinya sempat kesal dengan sang ayah kini justru merasa begitu tersentuh dengan apa yang di ungkapkan ayahnya itu. Kedua mata Eliza bahkan sudah berkaca-kaca karena terharu.


Sementara Jibril tentu saja bisa mengerti apa yang menjadi kekhawatiran calon ayah mertuanya itu, sambil tersenyum Jibril menjawab permintaan Tuan Henry. "Eliza tetap dan akan selalu menjadi putri kalian, dia masih punya kewajiban dan hak untuk di cintai dan mencintai kalian sebagaimana semestinya, Om. Karena apapun keyakinan yang di anut oleh seorang anak atau orang tua, itu tidak mengubah fakta bahwa mereka punya hubungan yang spesial. Aku juga tidak akan membatasi Eliza berinteraksi dengan kalian selama itu tidak melanggar apa yang kami yakini."


Tuan Henry melirik sang istri saat mendengar jawaban yang di berikan oleh Jibril, hal itu membuat Jibril merasa semakin gugup dan bertanya-tanya apakah dia salah bicara, ataukah dia tanpa sadar menyinggung calon mertuanya?


Kini Jibril melirik kedua orang tuanya dengan cemas, Ummi Firda yang menyadari hal itu justru menahan senyum geli. Sementara Eliza juga tampak gugup menunggu jawaban sang ayah, untuk mengalihkan kegugupannya Eliza meremas jari jemarinya.


"Satu permintaan terakhir, Jibril," ujar Nyonya Jill yang membuat jantung Jibril berdebar kencang seperti drum yang di tabuh.


"Apa, Tante?" tanya Jibril.


"Aku tidak ingin kamu merubah nama Eliza, kami memberi nama itu penuh cinta," jawab Nyonya Jill yang membuat Jibril langsung menghembuskan napas leganya. Bahkan Jibril mengelus dadanya sendiri yang membuat Nyonya Jill bingung. "Kenapa, Jibril? Apa kamu sesak napas?" tanyanya dengan cemas.


"Aku rasa cuma gugup," jawab Ummi Firda mewakili anaknya.


"Iya, jantungku sampai berdebar kencang. Udah kayak mau ujian kelulusan," tukas Jibril dengan sejujurnya. Namun, kedua orang tua Eliza justru mengira Jibril sengaja bergurau untuk mencairkan suasana, mereka pun tertawa sementara Jibril kini hanya bisa meringis karena ia merasa di tertawakan.

__ADS_1


"Lalu apa kalian akan bertunangan lebih dulu?" tanya Tuan Henry.


"Aku ingin langsung akad," jawab Jibril yang membuat mereka semua terhenyak, tak terkecuali Abi Gabriel dan Ummi Firda.


Mereka tahu Jibril ingin menikah secepatnya, dan memang seperti seharusnya. Namun, entah kenapa jawaban Jibril tetap membuat mereka terkejut.


"Aku rasa itu lebih baik," sahut Eliza yang kembali membuat para tetua itu terhenyak.


"Bagaiamana kalau kita akad dulu secepatnya baru setelah itu fikirkan resepsi dan yang lainnya?" saran Jibril.


"Boleh, ide bagus," sahut Eliza dengan semangat hingga ia mendapatkan cubitan gemas dari sang ibu di pahanya. "Auch, apa, Mom?" tanya Eliza dengan polosnya.


"Apa kalian benar-benar mau menikah secepat ini?" tanya Tuan Henry sembari menatap Jibril dan Eliza bergantian.


"Ngomong apa sih kamu, El?" bisik sang ibu. "Malu sama mereka."


"Aku rasa yang di katakan Eliza ada benarnya juga," ujar Abi Gabriel sambil terkekeh. "Dia nggak salah kok, dia hanya mengungkapkan apa yang dia fikirkan." lanjutnya.


Jibril pun juga terkekeh mendengar kata-kata Eliza yang tak di saring sedikitpun itu.


"Baiklah, sisanya aku serahkan pada Jibril dan Eliza," ucap Tuan Henry akhirnya.


"Terima kasih, Om." ucap Jibril senang. Bibirnya pun menyunggingkan senyum sumringah serta matanya begitu berbinar terang, seolah ia menemukan sebuah cahaya dalam hidupnya yang selama ini hanya reman-remang.

__ADS_1


Eliza pun tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya karena kini ia benar-benar akan menikah dengan pria yang menjadi cinta pertamanya, cinta pertama yang ia semogakan juga menjadi cinta terakhirnya.


Eliza sungguh tak menduga, tak pernah menyangka ia dan Jibril akan berada di titik yang sama dan di restui oleh orang-orang sekitarnya. Itu seperti sebuah mimpi indah yang hadir dalam tidurnya.


*******


"Katanya keputusan sudah di buat, Kak. Kedua keluarga merestui mereka," ujar Aira pada Micheal yang saat ini sedang berbicara di telfon dengannya. Jibril sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan, walaupun begitu ia tak ingin ketinggalan berita tentang kisah cinta adiknya yang sudah terlalu menjomblo itu.


Aira baru saja mendapatkan kabar dari ibunya bahwa hari pernikahan Eliza sudah di tentukan, kedua keluarga juga merestui hubungan mereka. Lagi pula apa lagi yang harus di tentang?


"Oh ya? Senang pasti tuh anak." terdengar suara Micheal yang terkekeh, membuat Aira ikutan tertawa.


"Anak apanya? Usianya sudah mau kepala 4," ujar Aira lagi. "Tapi aku ikut senang untuk mereka, Kak. Siapa yang sangka semua ini bisa terjadi tanpa campur tangan Jibril apalagi Eliza, mereka benar-benar seperti di bawa angin aja gitu," ungkap Aira.


"Itu lah yang namanya takdir, Aira. Misteri dan kejutan, kadang apa yang di kejar malah lari kemana-mana. Eh, giliran yang di ikhlaskan malah di kembalikan gitu aja."


Aira tertawa kecil mendengar ucapan sang kakak. "Kalau Kak Micheal mau menyaksikan pernikahan Jibril dan Eliza, berarti Kaka harus pulang besok karena mereka mau akad besok malam," tukas Aira yang membuat sang kaka memekik.


"Besok malam? Apa nggak terlalu cepat, Ai? Baru kemarin mereka bertemu," tukas Jibril.


"Mereka udah ketemu dan mengikat cinta itu sejak 6 tahun yang lalu, Kak. Jadi masuk akal kalau mereka mau akad secepatnya," kekeh Aira


"Astagfirullah, ini beneran si Jibril mau nikahi Elizabeth?"

__ADS_1


__ADS_2