
Shalwa mengajak Farid dan putri mereka yang masih berusia 2 tahun untuk membeli beberapa gaun yang Shalwa butuhkan, apalagi Eliza sudah memperingatkannya untuk menyiapkan gaun dan hadiah pernikahan sejak sekarang.
Tentu saja Shalwa ikut seneng untuk sahabat sekaligus mantan calon suaminya dulu yang kini benar-benar bisa bersatu dalam ikatan pernikahan, padahal dulu semua orang selalu mengatakan cinta Jibril dan Eliza tak mungkin bersatu karena benteng perbedaan terlalu tinggi.
Namun, siapa sangka ternyata perbedaan itu bisa musnah seketika saat sang penulis takdir berkehendak.
Shalwa berbelanja di butik langganannya seperti biasa, saat Shalwa hendak mencoba gaun di salah satu ruang ganti, rupanya di sana sudah ada pria dan wanita yang membuat Shalwa terkejut.
Ia langsung meminta maaf dan hendak keluar tapi tiba-tiba ada yang memanggilnya. "Shalwa?" Shalwa langsung menoleh dan ia terbelalak menyadari wanita yang ada di ruang ganti tersebut ternyata Eliza dan Jibril.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Shalwa akhirnya.
"Nyonya baju," jawab Eliza sambil terkekeh.
"Jibril nyoba baju juga?" tanya Shalwa yang kembali membuat Eliza tertawa, sementara Jibril hanya bisa terkekeh mendengar pertanyaan Shalwa.
"Nggak lah, aku minta dia bantuin aku naikin resleting," jawab Eliza.
"Lagian di butik ini cuma ada baju wanita, Shalwa, mana mungkin aku Nyonya baju yang di sini." Jibril menimpali.
__ADS_1
"Justru itu aku tanya apa yang kamu lakukan di sini, Jibril, soalnya baru kali ini aku melihat ada pria di ruang ganti wanita," ucap Shalwa.
"Sayang, karena sudah ada Shalwa, kamu keluar aja," usir Eliza kemudian yang langsung di laksanakan oleh Jibril.
"Ciyee, yang pengantin baru, di ruang ganti butik pun jadi," goda Shalwa saat Jibril sudah benar-benar pergi, Eliza yang digoda seperti itu menjadi tersipu malu.
"Nggak ada maksud apa-apa tadi, Shal, itu murni aku butuh bantuan karena mbak pegawainya tiba-tiba hilang," tukas Eliza yang membuat Shalwa langsung tertawa geli.
"Tiba-tiba hilang bagaimana? Diculik?" kekeh Shalwa yang membuat Eliza merengut.
"Terserah kalau kamu nggak percaya," gerutu Eliza. "Oh ya, baju ini bagus nggak?" tanya Eliza kemudian dengan raut wajah yang langsung berubah ceria.
"Jibril maksa," jawab Eliza sejujurnya. "Lagian anak itu aneh, apa salahnya dia mencintaiku apa adanya tanpa harus memaksaku ini dan itu," imbuhnya yang lagi-lagi membuat Shalwa terkekeh.
"Eliza, Jibril itu sangat mencintai kamu dan dia nggak mau kalau cuma di dunia aja dia bersama kamu. Maka dari itu dia maksa kamu menjadi muslimah yang lebih baik supaya kalian nanti sama-sama ke surga, kalau seseorang memaksa dalam hal kebaikan itu namanya karena cinta dan perduli," tukas Shalwa panjang lebar.
"Iya sih, dia juga bilang gitu," gumam Eliza. "Eh, habis ini bantu aku pilih beberapa baju lagi, ya. Kayaknya aku ganti aja isi lemariku jadi baju begini semua," tukasnya kemudian dengan begitu semangat yang membuat Shalwa ikut senang.
"Okay," jawab Shalwa.
__ADS_1
Sementara di luar, Jibril duduk bersama Farid sambil mengobrol seputar pekerjaan mereka. Jibril senang karena kini Farid sudah di angkat menjadi CEO di perusahaan tempatnya bekerja. Jibril tahu, pencapaian yang Farid dapatkan sekarang ini sangat tidak mudah dan butuh banyak perjuangan serta pengorbanan sehingga ia berhasil menjabat sebagai CEO seperti sekarang.
Yang membuat Jibril takjub, Farid masih bersikap begitu rendah hati bahkan ia masih berteman dengan teman-teman karyawannya dulu, itu adalah rahasia umum yang membuat para karyawannya sekarang begitu menghormati Farid.
"Aku cukup terkejut saat Shalwa bilang Eliza sudah nikah sama kamu, itu seperti fenomena," ujar Farid kemudian yang membuat Jibril terkekeh.
"Setiap takdir itu sebenarnya memang fenomena, Rid, karena itu selalu menjadi kejutan yang tak terduga," jawab Jibril.
Saat Farid dan Jibril masih mengobrol, Eliza dan Shalwa sibuk memilih pakaian, tak terasa setengah jam sudah berlalu dan itu membuat para suami sudah hampir tertidur.
Jibril pun segera menghampiri Eliza. "Sayan, masih lama? Udah setengah jam lho," ujar Jibril.
"Baru setengah jam, Jibril sayang, tunggu sebentar ya," sahut Eliza dengan entengnya.
"Udah, besok-besok kita belanja lagi, okay?" bujuk Jibril.
Farid pun melakukan hal yang sama, ia membujuk Shalwa agar menyudahi acara belanja mereka. "Nafisa susah ngantuk dan lelah, Shal, udah ya?" bujuk Farid.
"Iya, Mas, ini udah kok," jawab Shalwa sambil cengengesan sementara sang suami hanya bisa geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Padahal tadi Shalwa bilang dia hanya akan sebentar karena dia hanya butuh satu atau dua gaun, tapi Farid lupa, jika wanita mengatakan sebentar maka setidaknya mereka harus menunggu setengah sampai satu jam. Karena memang seperti itu hakikatnya wanita.