
Selama dalam perjalanan ke hotel, Eliza terus meremas jari jemarinya karena ia sungguh gugup, takut, cemas, segala prasangka buruk berkelana dalam benaknya. Namun, Eliza terus kembali mengingat kata-kata Jibril maupun kata-kata dr. Alma. Ini sudah saatnya ia keluar dari zona nyaman dan aman.
"Kenapa, Non? Panas ya? Kok kayak gelisah gitu?" tanya si sopir tiba-tiba yang membuat Eliza hanya bisa tersenyum kaku. "Padahal AC-nya sudah nyala kok, Non. Tapi cuaca di luar memang sedikit panas," imbuh si sopir. Eliza kembali hanya tersenyum kaku.
Perasangka buruk kembali hadir dalam benaknya, mungkinkah sopir ini hanya pura-pura perduli? Kemudian setelah itu dia akan menipu dengan kebaikannya. Namun, perasangka Eliza musnah saat tiba-tiba sopir itu membuka kaca mobilnya dan memberikan uang pada seorang pengamen jalanan saat di lampu merah.
"Jangan di buat beli yang nggak penting, tabung biar bisa beli seragam sekolah!" seru sopir itu pada si pengamen yang memang masih remaja. Si pengamen tampak sangat senang dan megucapkan terima kasih berkali-kali.
"Bapak kenal dengan anak itu?" tanya Eliza memberanikan diri.
"Nggak, Non. Cuma sering liat di sini kalau akhir minggu, kalau hari-hari biasa palingan sore sampai malam ngamen, bahkan masih dengan seragam sekolahnya yang sudah kuning dan tidak terawat," jawab sopir panjang lebar yang membuat Eliza takjub.
"Jadi setiap hari bapak kasih mereka uang?" tanya Eliza lagi penasaran.
"Sebisa saya, Non. Kalau lagi rame, saya kasih uang, kalau sepi, paling saya kasih nasi bungkus aja." jawaban itu membuat hati Eliza tersentuh.
Jibril benar, tak semua orang asing itu jahat. Semua tergantung dari hati dan fikiran setiap pribadi itu sendiri. Kini mobil kembali berjalan dan kali ini Eliza lebih santai. Sesampainya di hotel Eliza mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkan pada sopir itu.
"Non, ongkosnya nggak sebanyak ini," kekeh sopir itu.
"Bukan buat bapak, tapi buat anak itu. Suruh beli seragam dan sepatu ya, Pak," seru Eliza yang membuat si sopir terperangah.
"Beneran, Non?" Eliza hanya mengulum senyum kemudian mengangguk. "Saya akan langsung berikan kalau begitu, Non. Mereka pasti senang karena bisa sekolah dan memakai seragam seperti teman-teman yang lain. Non juga pasti senang kan kalau sama dengan teman sekolahnya?"
"Aku nggak sekolah, Pak," kekeh Eliza yang membuat sopir itu melongo. Namun, melihat penampilan Eliza rasanya wanita itu memang tidak perlu sekolah. Hanya perlu meneruskan bisnis keluarga.
Setelah itu, Eliza masuk ke hotel untuk mencari Jibril. Namun, Eliza teringat ia belum memberi tahu kedatangannya pada pria itu. Saat Eliza mencoba menghubungi Jibril, tiba-tiba ia menabrak seorang wanita yang membawa kue ulang tahun. Alhasil kue itu jatuh berantakan dan tentu sekarang takkan bisa di makan. Wanita itu terlihat sangat kesal, sementara Eliza hanya bisa meringis.
"Aduh, maaf," ucap Eliza menyesal. "Biar aku ganti kuenya, ya?" perempuan di depannya itu mendelik kesal.
__ADS_1
"Kalau jalan pakai mata dong, Mbak," seru wanita itu yang membuat Eliza meringis.
"Dimana-dimana orang itu jalan pakai kaki, Mbak. Bukan pakai mata, mata untuk melihat, memandang, menatap," sanggah Eliza kesal karena ia sudah minta maaf tapi wanita di depannya ini justru mengatakan hal seperti itu. Wanita itu pun tampak semakin kesal.
"Ya maksudku ... kamu kalau jalan itu lihat-lihat dong, Neng! Biar nggak nabrak orang, sekarang kue untuk anakku hancur, kan?" gerutu wanita itu.
"Aku ganti deh, aku belikan kue yang lebih bagus dan lebih lucu, biar anak Mbak nggak nangis. Anak Mbak suka apa? Mobil-mobilan? Robot-robotan? Aku punya kenalan yang bisa bikin kue lucu-lucu," tukas Eliza panjang lebar yang membuat wanita di depannya justru semakin terlihat kesal.
"Anakku cuma suka kue simple, hitam begitu aja udah suka!" serunya penuh penekanan. "Dan anakku itu cuma suka kue buatanku, bukan buatan orang lain! Aku jauh-jauh terbang kesini cuma buat ngasih kue ini untuk anakku dan sekarang kuenya udah hancur."
"Cuma suka kue hitam? Kok kayak tuan es batu sih?" gumam Eliza sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Tak berselang lama seorang pria datang dan menanyakan kenapa kuenya bisa ada di lantai. "Sayang, kok kuenya bisa di lantai?"
"Kuenya mabuk dari pesawat, Bang Gabriel. Makanya sekarang tiduran di lantai!" Eliza langsung tertawa terbahak-bahak saat mendengar jawaban wanita di depannya yang tak lain ada Ummi Firda itu.
Bahkan, Abi Gabriel pun ikut tertawa geli mendengar jawaban istrinya itu. Tentu saja Ummi Firda langsung merengut kesal karena ia justru di tertawakan.
"Nggak lah, malas aku pergi-pergi lagi, aku capek," tukas Ummi Firda merajuk.
"Ya udah, bagaimana kalau Mbak bikin kue aja di hotel ini? Mbak jangan khawatir, yang punya hotel ini pacarku kok."
"Hah?" pekik Ummi Firda dan Abi Gabriel bersamaan, pasangan suami istri itu langsung saling melempar tatapan dengan mata yang melotot sempurn.
Sementara Eliza menyunggingkan senyum polosnya sambil mengangguk-anggukan kepalanya penuh rasa percaya diri.
"Pacar ... kamu?" tanya Ummi Firda untuk memastikan.
"Emm ... belum pacaran sih, tapi kami saling mencintai kok," ujar Eliza kali ini suaranya terdengar lirih bahkan ia tertunduk seolah ada yang mengganjal di hatinya.
__ADS_1
Seketika Umi Firda mengingat cerita Jibril tentang wanita yang telah mengisi relung hatinya. Jibril sedikit bercerita tentang wanita itu da rasanya karakter wanita tersebut mirip sekali dengan wanita di depannya.
"Elizabeth?" tanya Ummi Firda kemudian yang membuat Eliza terperangah.
"Wah, Mbak kok bisa tahu namaku?" pekik Eliza terkejut.
"Oh, tahu dong. Kalau kamu adalah pacar yang punya hotel ini, maka aku adalah ibunya."
"Hah?" pekik Eliza dengan mata yang melotot sempurna.
🦋
Sementara di sisi lain, Jibril sibuk menghabiskan waktunya bersama ketiga keponakannya di rumah Aira. Ia enggan pulang ke hotel karena di sana Jibril tak melakukan apapun.
Hingga tiba-tiba Aira mendapatkan kabar dari Ummi-nya kalau dia berada di hotel untuk memberikan kejutan ulang tahun pada Jibril.
Aira pun mengajak Jibril dan anak-anaknya ke hotel. "Kok Ummi nggak bilang kalau mau ke sini?" tanya Jibril sembari menggendong baby Ali yang sudah siap pergi sementara Aira membawa tas yang berisi barang-barang baby Ali.
"Itu namanya kejutan, Om!" seru Tanvir nyaring.
"Aku sudah besar, masa masih di kasih kejutan kayak anak-anak," gumam Jibril tak percaya.
"Syukurin aja lah, Om," sambung Tanvir lagi yang membuat Jibril geleng-geleng kepala.
Mereka pun segera pergi ke hotel, Tanvir dan Via sangat senang dan semangat karena mereka berfikir akan ada pesta dan kue.
Sesampainya di hotel, Jibril dan Aira tercengang karena mereka melihat kebersamaan kedua orang tua mereka dengan Eliza.
"Oh, ini anakku yang berulang tahun sudah datang," seru Ummi Firda yang membuat Eliza hanya bisa menelan ludah dengan kasar.
__ADS_1
...🦋...