
Ummi Firda melirik Jibril yang saat ini fokus pada sarapannya, pria itu bersikap seperti biasa seolah tak ada apa-apa. Padahal semua orang tahu saat ini Jibril dalam keadaan yang tak baik-baik saja. Namun, Jibril memperlihatkan seolah ia baik-baik saja walaupun sebenarnya Jibril bahkan tak selera makan.
Ummi Firda, Abi Gabriel dan Jibril sarapan di restaurant hotel karena hari ini juga orang tua Jibril itu harus kembali ke desa.
"Jibril, kamu nggak nambah? Dagingnya enak lho," ujar Ummi Firda untuk menarik perhatian Jibril yang sejak tadi tak bersuara.
"Iya, Ummi," sahut Jibril kemudian ia mengambil satu potong daging panggang itu dengan malas.
Setelah itu Jibril kembali terdiam, sementara Abi dan Ummi Firda hanya bisa saling melirik satu sama lain. "Jibril, nanti akan ada teman Daddy dari Amerika yang mau kesini. Katanya dia tertarik untuk bekerja sama, tapi semua keputusan ada di tangan kamu karena sekarang kamu yang mengambil alih perusahaan," tukas Abi Gabriel panjang lebar memberi tahu Jibril.
"Iya, Abi," jawab Jibril singkat yang membuat kedua orang tuanya itu menghela napas berat.
Ummi Firda merasa gemas sendiri dengan tingkah Jibril akhir-akhir ini, lebih tepatnya sejak saat ia meminta Jibril melupakan Eliza. "Oh ya, nanti Ummi mau ke rumah Aira, habis itu mau nemenin dia periksa kandungannya, kamu mau ikut?" tanya Ummi Firda yang seperti membujuk anak-anak itu.
"Nggak, Ummi. Hari ini jadwalku cukup padat," kata Jibril kemudian ia meneguk air dari gelasnya. Tak berselang lama seorang pria datang membawakan ponsel untuk Jibril.
"Terima kasih," ucap Jibril.
"Sama-sama, Tuan," sahur pria itu kemudian ia pun bergegas pergi.
"Beli ponsel baru, Jay? Bukannya ponsel kamu masih bagus?" tanya Ummi Firda bingung, apalagi selama ini Jibril tidak pernah membeli ponsel hanya untuk mengikuti trend atau bergaya semata.
"Ponselku jatuh, Ummi," jawab Jibril sembari membuka kotak hp barunya itu.
"Jatuh dari mana? Kok bisa?" tanya Abi Gabriel.
"Dari kamar," jawab Jibril yang kini menyalakan ponsel barunya itu.
"Kok bisa jatuh dari kamar? Maksudnya gimana?" tanya Ummi Firda penasaran.
__ADS_1
"Aku lempar dari jendela," jawab Jibril jujur yang membuat kedua orang tua nya itu melongo. Lagi-lagi mereka hanya bisa saling memandang selama beberapa saat sementara Jibril mengecek isi ponsel barunya itu.
"Tapi kamu masih pakai nomor yang lama, kan?" tanya Ummi Firda kemudian.
"Nggak, Ummi. Aku ganti yang baru," jawab Jibril lagi.
"Kenapa nggak pakai yang lama aja, Jibril? Kan ribet lagi nanti kalau ada yang cariin kamu," sambung Abu Gabriel.
"Disana ada nomornya Eliza dan Eliza tahu nomor itu." jawaban Jibril terdengar begitu ambigu di telinga kedua orang tuanya itu, mereka hanya bisa menekuk dahinya.
"Maksudnya?" tanya Ummi Firda ingin mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Jibril mengangkat wajahnya dan menatap kedua orang tuanya yang saat ini tampak menunggu jawaban Jibril. "Oh, maksudku ..." Jibril sungguh ingin melupakan Eliza, tapi kenapa mereka justru terus bertanya, fikirnya. "Kadang-kadang aku masih ingin menghubungi Eliza dan Kadang-kadang aku berharap dia menghubungiku, jadi aku buang aja hp nya dengan begitu nggak ada harapan lagi."
Abi dan Ummi melongo mendengar jawaban lugas Jibril, kedua bola mata mereka mmebulat menatap Jibril yang kini masih sibuk dengan hp barunya.
Ummi dan Abi pun lagi-lagi hanya bisa saling melempar tatapan bingung, mereka sungguh tak bisa berkata-kata dengan tindakan konyol yang di lakukan putra mereka itu.
"Dia lempar hp dari jendela kamarnya cuma karena... Kadang-kadang masing ingin menghubungi Eliza?" gumam Ummi tak percaya. "Dan dia juga berharap di hubungi, karena itu hp nya di buang?" Abi Gabriel hanya bisa mengangguk pelan.
"Anakku kok bodoh banget ya? Kan bisa blokir kontak Eliza atau buang sim card-nya aja, ganti nomor yang baru," keluh Ummi Firda lesu.
"Mungkin dia nggak kefikiran sampai kesana kali, Sayang."
***
"Hati-hati di jalan, ya? Jangan lupa telfon Nenek kalau sudah mendarat nanti, biar Nenek nggak kefikiran." Shalwa hanya bisa mengulum senyum mendengar wanti-wanti sang nenek yang selalu sama sejak tadi.
Saat ini Shalwa sudah berada di Bandara, dia akan kembali ke kampung halamannya. Kembali pada kehidupan yang sesungguhnya, pada tempat dimana ia sempat mencoreng namanya sendiri demi menyelamatkan perasaannya.
__ADS_1
Shalwa tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Namun, yang pasti ia ingin membuka lembaran baru dalam hidupnya bersama pria yang sekali lagi di pilihkan oleh orang tuanya.
Farid mengantar Shalwa ke bandara, pria itu menunjukan cinta dan keseriusannya pada Shalwa yang membuat Shalwa selalu tersentuh hatinya.
"Iya, Nek," jawab Shalwa singkat sembari mencari kontak Eliza, setelah itu ia pun mencoba menghubungi nomor temannya itu tapi hasilnya sama saja sejak beberapa hari yang lalu. Eliza tak bisa di hubungi.
"Apa segitu marahnya dia sama aku?" gumam Shalwa.
Ia pun menghubungi Ruby dan memberi tahu bahwa kini ia sudah berada di bandara, Shalwa pasti akan kembali lagi nanti ke kota ini karena calon suaminya memiliki pekerjaan di kota besar ini.
Bahkan, pernikahan Shalwa dan Farid di atur akan di laksanakan di Jakarta. Ia pulang hanya untuk kembali ke rumah orang tuanya sebelum nanti Shalwa benar-benar akan tinggal di rumba suaminya.
"Telfon siapa lagi?" tanya Nenek.
"Teman, Nek," jawab Shalwa.
Sementara itu, Farid kini justru di hubungi oleh atasannya yang meminta Farid kembali ke kantor. "Shal, aku tinggal nggak apa-apa, ya? Soalnya aku harus kembali ke kantor sekarang juga," kata Farid.
"Oh, iya. Nggak apa-apa kok, sebentar lagi aku juga check in," jawab Shalwa.
"Ingat! Hati-hati di jalan!" seru Nenek untuk yang ke sekian kalinya.
"Iya, Nek, iya," jawab Shalwa dengan gemas.
Farid pun membawa Neneknya itu pulang sebelum Farid kembali ke kantor, saat dalam perjalanan pulang, Farid juga mendapatkan berbagai nasehat dari sang Nenek agar menjadi suami yang baik untuk Shalwa serta membimbing Shalwa agar menjadi istri yang baik untuknya.
Sementara Shalwa, kini ia duduk di ruang tunggu sembari melihat-lihat foto kebersamaannya dengan Ruby juga Eliza.
Takdir sungguh unik, Shalwa lari ke Jakarta karena ia malu pada tetangga yang pasti akan menggosipkannya karena batal menikah dengan Jibril. Dan sesampainya di Jakarta ia justru bertemu dan berteman dengan wanita yang tanpa sadar menjadi penyebab batalnya pernikahan mereka.
__ADS_1
Namun, kini semuanya seolah kembali lagi menjadi sebuah misteri. Jibril dan Eliza justru terpisah, menyisakan segala luka dan air mata.
Jika saja Shalwa tahu akhirnya akan begini, mungkin di masa lalu ia takkan melepaskan Jibril jika pada akhirnya tak ada yang memiliki pria itu.