Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #6 - Dua Hati Yang Patah


__ADS_3

Meskipun Jibril kini memiliki kesempatan untuk mengejar Eliza, namun itu tak serta merta membuatnya bahagia. Apalagi ada banyak orang yang dia sakiti karena hal ini, tapi sekarang ia bisa apa? Kejujuran terkadang memang sangat pahit, namun itu sangat penting.


Batalnya pernikahan Jibril dan Shalwa tentu menggegerkan semua orang, dan seperti dugaan mereka, para tetangga mulai bergosip ini dan itu. Keluarga Shalwa mengirim Shalwa ke rumah neneknya yang ada di Jakarta, karena mereka tak ingin Shalwa terus mendengar cemoohan tetangga tentangnya.


Abi dan Ummi juga meminta Jibril pergi ke Jakarta untuk sementara sampai keadaan lebih tenang, namun Jibril menolak karena ia tak ingin lari dari masalah dan melimpahkan semuanya pada Keluarganya.


Jibril sudah meminta maaf pada seluruh anggota keluarganya yang sangat kecewa padanya, Aira bahkan marah dan enggan berbicara dengan Jibril karena ia menilai kakaknya itu telah mempermainkan harga diri dan perasaan seorang wanita.


Ummi Firda pun terlihat merenungi apa yang terjadi, ia sering menyendiri selama beberapa hari ini hingga akhirnya Jibril kembali menemuinya untuk meminta maaf.


"Aku benar-benar minta maaf, Ummi," lirih Jibril sembari memegang tangan ibunya.


"Nggak ada yang perlu di maafkan sebenarnya, Jay. Hanya saja..." Ummi Firda menghela berat. "Ummi merasa bersalah pada Shalwa dan keluarganya, kita sudah sangat menyakiti mereka."


"Maafin aku..." Hanya satu kata itu yang bisa Jibril ucapkan untuk saat ini. "Aku sangat mengecewakan, maaf karena aku sudah menghancurkan kalian semua."


Ummi Firda mengusap kepala Jibril seperti yang biasa ia lakukan saat anaknya itu masih kecil, sambil tersenyum Ummi berkata, "Jangan terus merasa bersalah, Nak. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik, kejujuran itu memang pahit tapi itu lebih baik dari pada kebohongan yang manis."


"Itu yang selalu fikirkan, Ummi. Aku nggak mau berbohong, karena dampaknya berkali-kali lipat lebih menyakitkan."


"Lalu sekarang rencana kamu apa? Kamu nggak mau mengejar wanita itu? Siapa namanya?"

__ADS_1


"Elizabeth."


"Nama yang bagus, apa dia cantik?"


"Tidak secantik Ummi dan Aira."


Ummi Firda mengulum senyum mendengar jawaban Jibril, meskipun kata orang anaknya itu dingin dan kaku, namun untuk keluarganya Jibril begitu manis dan hangat.


Satu minggu telah berlalu, gosip di luar sana lagi hangat-hangatnya di sampaikan dari satu mulut ke mulut yang lain. Namun sebisa mungkin baik keluarga Shalwa maupun keluarga Jibril mencoba mengabaikan hal itu.


Dan jika ada yang bertanya kenapa pernikahan batal, maka kedua keluarga sepakat menjawab bahwa ini keputusan kedua mempelai dan mereka menghormati keinginan anak-anak mereka. Ada sebagian orang yang mendukung, apalagi orang-orang yang gagal dalam pernikahannya hingga berakhir percerain. "Lebih baik tidak memulai sama sekali dari pada berakhir dengan percerain." begitulah kata mereka. Namun, tentu juga ada yang mengatakan hal buruk.


Di sisi lain, Shalwa pun selalu berusaha menenangkan hatinya yang remuk. Dan selama satu minggu ini tiada malam yang ia lewati tanpa air mata, namun ia mencoba ikhlas dengan keadaan yang ada meskipun itu sangat sulit, tak jarang ia merasa semua ini sungguh tak adil. Namun, Shalwa harus selalu mengingat, Tuhan sang penulis takdir mengetahui takdir apa yang baik dan tidak baik untuk hamba-Nya.


Tiba-tiba anak itu terjatuh, Shalwa berlari membantunya namun di saat yang bersamaan datang orang lain yang juga membantu dan langsung mengomelinya. "Makanya, jangan main lari-larian begitu."


"Namanya juga anak-anak, Mbak. Pasti mainnya begini," kata Shalwa. "Tapi anak mbak cantik sekali meskipun sedang menangis."


"Astaga! Ini anak tetangga, bukan anakku!" pupil mata Shalwa melebar mendengar ucapan wanita cantik itu, Shalwa terlihat salah tingkah sekaligus merasa bersalah. "Udah, nggak usah merasa bersalah begitu. Aku juga nggak kenal sama mereka," kekeh wanita itu kemudian ia berjalan menuju kursi yang tadi di tempati Shalwa.


Shalwa pun duduk di sisinya. "Beberapa kali aku melihat kamu di sini, merenung dan tampak sedih." Shalwa mengernyit saat mendengar ucapan wanita itu. "Aku melihatmu karena aku juga ada di sini setiap hari, menghibur hati yang patah."

__ADS_1


Shalwa tertegun, sepertinya yang patah hati bukan hanya dirinya sekarang." Tapi mau bagaimana lagi? Hidup bukan hanya tentang satu hati, 'kan? Sekarang ada pria yang mematahkan hatiku, mungkin besok akan ada pangeran yang akan menyatukan hatiku kembali. Kemudian menjadikanku ratunya dan kami hidup bahagia selamanya seperti di dongeng." Shalwa mendengarkan celotehan gadis asing itu dengan seksama, apa yang di impikan gadis itu sama seperti yang di impikannya.


"Lagi pula...." gadis itu menghela napas berat. "Hidup belum berakhir hanya karena kita putus cinta dan bukan putus aliran napas, kehilangan jantung, kehabisan darah dan sebagainya." seketika Shalwa terkekeh mendengar ocehan gadis ini, hatinya sedikit terhibur.


"Nama mbak siapa? Namaku Shalwa..." Shalwa mengulurkan tangannya pada gadis cantik di sampingnya.


"Elizabeth...." Eliza menyambut uluran tangan Shalwa sambil melempar senyum manis. "Berapa lama kamu patah hati?" Tanyanya yang justru membuat Shalwa kembali terkekeh.


"Satu minggu," jawab Shalwa jujur.


"Ck, baru satu minggi," decak Eliza meremehkan. "Aku sudah dua bulan," imbuhnya dengan wajah mendung.


"Di putusin pacar?" Tanya Shalwa.


"Pria yang aku taksir ternyata punya calon istri," jawab Eliza lirih. "Kalau kamu? Di putusin pacar atau tunangan?"


"Calon suamiku mengaku mencintai wanita lain dua hari sebelum pernikahan kami, jadi pernikahan kami batal."


"Gila! Kejam banget calon suami kamu! Jahat bener!"


"Dia adalah pria terbaik yang pernah aku temui, bahkan kejujurannya membuat dia semakin terlihat baik di mataku meskipun itu menghancurkan hatiku."

__ADS_1


...🦋...


...Ketika dua hati yang di patahkan bertemu, hmmm...


__ADS_2