Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #19 - Cinta Yang Bersambut


__ADS_3

"Shalwa, tetanggamu itu aneh," seru Eliza kemudian. "Oh ya, dia punya calon istri sebelumnya. Kamu kenal nggak?"


Shalwa terperangah mendengar pertanyaan Eliza, ia ingin menjawab dengan jujur tapi lidahnya terasa kelu. Ia juga tak mungkin berbohong karena cepat atau lambat Eliza pasti tahu dan Shalwa tak mau di anggap membohongi temannya.


"Shal, kok malah diam?"


"Oh, ituβ€”"


Ucapan Shalwa terpotong saat tiba-tiba kembali ada yang datang ke ruang rawat Eliza.


Kali ini yang datang adalah Darrel, pria itu menatap Eliza dengan cemas. Namun, ia juga menghela napas lega saat melihat keadaan Eliza yang baik-baik saja dan tidak mengalami luka yang serius.


"Aku langsung kesini saat mendapatkan kabar kecelakaanmu, apa kata dokter?" tanya Darrel yang tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya pada sang adik.


"Kata dokter aku mengalami geger otak yang lumayan parah, aku harus istirahat total, nggak boleh banyak beraktivitas, nggak boleh banyak berfikir dan satu hal lagi, nggak boleh banyak di suruh-suruh. Apalagi di suruh kerja," jawab Eliza panjang lebar dan tentu Darrel tahu semua itu bohong.


Darrel menyentil kening Eliza dengan gemas kemudian berkata," Ucapan itu do'a lho, hati-hati." Eliza hanya tersenyum menanggapi ucapan kakaknya itu.


Karena sudah ada Darrel yang menjaga Eliza, Shalwa dan Ruby pun pamit pulang apalagi haru sudah sore. Eliza dan Darrel mengucapkan terima kasih pada kedua sahabat Eliza itu karena mereka sudah perduli dan mau menjaga Eliza.


...πŸ¦‹...


Sementara itu, Jibril berkunjung ke rumah Aira yang langsung di sambut dengan girang oleh Via. Apalagi Jibril membawakan beberapa cemilan kesukaan Via. Namun, sayangnya Aira tak menyambut kakaknya itu karena ia masih sedikit kecewa dengan apa yang di lakukan Jibril pada Shalwa.


"Gimana kondisi kandunganmu, Dek?" tanya Jibril dengan lembut.


"Baik," jawab Aira singkat yang membuat Jibril terkekeh. Ia pun duduk di sisi adiknya itu, memijit pundak Aira dengan lembut seolah sedang merayunya.


"Dek, kakak lakuin ini juga karena memikirkan Shalwa. Karena nggak semua perjodohan berakhir dengan cinta seperti perjodohan kak Micheal dan mbak Zenwa," ucap Jibril yang langsung membuat Aira menoleh padanya. "Hanya karena kak Micheal berhasil melupakan cinta pertamanya kemudian dia mencintai istrinya, bukan berarti aku akan bisa melakukan hal yang sama," imbuhnya.

__ADS_1


"Tapi kasian Shalwa, Kak. Dia itu pasti malu, keluarga kita juga malu," tukas Aira.


"Kakak tahu, tapi malu itu akan menghilang secara perlahan. Sedangkan rasa sakit karena ternyata pria yang menikahinya mencintai wanita lain, apakah akan hilang secara perlahan atau justru akan semakin sakit dengan seiring berjalannya waktu?"


"Tapi kan Kaka bisa belajar mencintai Shalwa seperti kak Micheal yang belajar mencintai mbak Zenwa."


"Hanya karena kak Micheal berhasil melakukan itu, bukan berarti kaka juga berhasil melakukannya, Aira. Nggak ada jaminan, makanya kakak ambil keputusan ini."


Aira terdiam sejenak, jika ia membayangkan berada di posisi Jibril, maka mungkin dia akan melakukan hal yang sama. Tapi membayangkan berada di posisi Shalwa, jiwa perempuannya merasa tak terima.


"Terus bagaiamana dengan wanita yang kaka maksud itu? Apa kaka sudah lamar dia?" tanya Aira kemudian, Jibril menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Baguslah, jangan dulu lamar dia dalam waktu dekat ini. Kasihan Shalwa dan keluarganya."


Jibril hanya mengulum senyum menanggapi ucapan adiknya itu, bagaimana mungkin dia melamar Eliza kalau pernikahan mereka saja tak mungkin terjadi karena perbedaan keyakinan yang mereka anut.


"Oh ya, kata mas Arsyad ada rumah temannya yang mau di jual, rumahnya bagus dan nyaman. Kakak mau nggak?" tanya Aira yang kini sudah lebih hangat pada Jibril, tentu hal itu membuat Jibril senang dan tenang. Jibril paling tidak bisa jika di abaikan oleh Aira dan umminya, ia akan merasa tidak tenang.


"Kakak masih lebih nyaman di hotel untuk sementara, kalau pun mau beli rumah atau apartemen, Kaka mau yang dekat dengan kantor," jawab Jibril.


"Nggak usah, mereka juga pasti sibuk. Biar kaka cari sendiri nanti," balas Jibril yang memang tak mau merepotkan siapapun.


...πŸ¦‹...


Keesokan harinya, Eliza di perbolehkan pulang oleh dokter setelah ia di periksa secara menyeluruh dan tak ada luka serius yang di alami Eliza, hal itu membuat Eliza senang. Eliza pun mengirimkan pesan pada Jibril dan memberi tahu bahwa ia sudah pulang.


Jibril yang membaca pesan Eliza itu hanya bisa mengulum senyum. Apalagi panggilan taun es batu yang Eliza sematkan pada dirinya itu terdengar lucu, dan ia sedikit heran kenapa Eliza tak sungkan memanggilnya begitu?


^^^Elizabeth ^^^


^^^"Aku sudah boleh pulang, kata dokter aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku, Tuan es batu. Lain kali, aku akan mengajakmu makan pasta hangat dan aku akan membayarnya, anggap saja sebagai ucapan terima kasih" ^^^

__ADS_1


Me


"Syukurlah."


^^^Elizabeth ^^^


^^^"Apa nggak kepanjangan balasanmu itu?" ^^^


Jibril mengernyit bingung membaca pesan Eliza, kemudian ia kembali membaca pesannya sendiri yang hanya satu kata itu. Lagi-lagi Jibril teringat dengan rumus memahami wanita dari Eliza. Sambil tersenyum, Jibril mengetik pesan untuk Eliza.


Me


" Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, semoga lekas sembuh. Dan tidak perlu berterima kasih karena aku sudah menolongmu, itu sudah menjadi kewajibanku. Tawaran pasta hangat cukup menarik, pastikan kamu membawa dompet."


...πŸ¦‹...


Di sisi lain, Eliza tercengang membaca pesan panjang lebar dari Jibril. Ia sulit itu percaya bahwa yang membalas pesannya itu adalah si tuan es batu. "Apa jangan-jangan ponselnya di hack?" gumam Eliza.


Ia pun menghubungi Jibril secara langsung, tak lama kemudian panggilannya terjawab. "Jibril, ini kamu, kan?" tanya Eliza.


"Iya, kamu fikir siapa?" Jibril balik bertanya sambil terkekeh.


"Oh, kamu sudah bisa membalas pesanku panjang lebar, aku takut ponsel kamu di hack orang," ucap Eliza dengan serius dan langsung terdengar suara tawa Jibril dari seberang telfon. Eliza tertegun, rasanya ingin sekali dia melihat Jibril tertawa secara langsung.


"Ada-ada aja kamu ini, aku cuma mengikuti rumus memahami wanita yang di ajarkan kamu," jawab Jibril dan kini Eliza yang tertawa geli.


"Anak pintar," serunya senang.


Sekarang Eliza semakin yakin, cintanya sungguh bersambut dengan hangat. Ia pun terus memancing Jibril agar banyak bicara, dan sepertinya usahanya itu tak sia-sia karena Jibril kini lebih banyak bicara dari sebelumnya.

__ADS_1


Di sisi lain, Jibril juga tampaknya menikamati obrolannya dengan Eliza yang terasa ringan dan menyenangkan. Kini ia pun sadar apa yang Eliza katakan benar, ia telah mencair untuk wanita itu.


...πŸ¦‹...


__ADS_2