
"Jalan, yuk? Mumpung akhir minggu neh, aku juga udah telfon Shalwa. Dia mau ikut katanya, apalagi minggu depan dia udah mau balik ke kampung halamannya."
Eliza yang mendengar apa yang di katakan Ruby itu cukup terkejut. Ia langsung menoleh dan menatap Ruby yang saat ini sedang tiduran di ranjang Eliza sambil bermain ponsel.
" Kenapa? Kalian masih diam-diaman?" tanya Ruby.
Eliza mencoba menghindar, ia yang baru saja selesai langsung bergegas ke kamar mandi untuk menjemur handuknya yang basah.
"El, kamu nggak musuhan 'kan sama Shalwa?" tanya Ruby mengikuti Eliza ke kamar mandi.
"Nggak, kenapa harus musuhan?" Eliza balik bertanya dan menampilkan raut wajah tenangnya padahal ia juga memikirkan pertemanannya dengan Shalwa yang sedikit renggang.
"Sejak saat itu, kalian berdua saling menghindari," tukas Ruby menghela napas berat. "Padahal Shalwa itu nggak salah lho, El. Buktinya dia tetap mau berteman sama dia meskipun tanpa sadar kamu sudah membuat pernikahannya batal."
"Memang kapan aku menyalahkan dia?" tanya Eliza dengan nada sedikit kesal.
"Ya nggak pernah sih," gumam Ruby meringis.
"Aku tuh menghindar bukan karena menyalahkan dia atau apa, Rub. Aku cuma... Cuma nggak enak, aku udah buat dia batal nikah. Buat dia patah hati, aku nggak enak, aku malu," lirih Eliza akhirnya.
__ADS_1
"Baby, itu bahkan salah kamu, itu salah si tuan es batu," sanggah Ruby menghibur.
"Jibril juga nggak salah, Rub. Namanya perasaan 'kan memang nggak bisa di paksa, dari pada berantakan di tengah jalan lebih baik di cegah dari awal," seru Eliza yang membuat Ruby sedikit bingung.
Ia memperhatikan sahabatnya itu yang saat ini sedang menyisir rambutnya." Kamu menjalin hubungan resmi dengan tuan es batu itu?" tanya Ruby tajam.
Eliza hanya melirik Ruby dari ekor matanya sekilas dan ia enggan terlihat enggan menjawab pertanyaan Ruby. Ruby melongo, ia langsung mendekati sahabatnya itu dan sekali lagi bertanya." Kamu menjalin hubungan sama Jibril? Kalian pacaran? Hah?"
"Siapa yang pacaran?" Eliza terkejut saat tiba-tiba mendengar suara ibunya, ia langsung menoleh dan sang ibu masuk ke kamarnya dengan membawa nampan yang berisi susu dan roti untuk Elzara.
Eliza langsung mebatap Ruby, memberi isyarat agar Ruby tak membuka suara." Kok malah diam? Siapa yang pacaran?"
"Teman Ruby, Mom," jawab Eliza dengan cepat sambil melempar senyum kaku.
"Mom harap lain kali kamu menjaga jaga jarak sama dia, kecuali jika untuk berteman."
"Tapi aku mencintai dia, Mom," seru Eliza kemudian dengan berani yang membuat hati sang ibu terkesiap. Ia pun menatap Eliza yang saat ini tertunduk.
"Cinta itu hanya perasaan sesaat, El. Bisa jadi sebenarnya kamu cuma kagum sama dia, coba jauhi dia dan mom jamin kamu pasti bisa melupakannya."
__ADS_1
"Lalu bagaimana jika tidak bisa?"
"Harus bisa!"
...🦋...
"Sejak kapan Kaka pergi berdua aja sama cewek? Bagaimana kalau terjadi fitnah?" Aira bertanya pada Jibril yang saat ini sedang bermain dengan baby Ali.
Karena sekarang hari sabtu, Jibril meluangkan waktunya untuk bermain dengan keponakannya. Dan sesampainya di rumah, iia justru mendapatkan omelan dari Aira yang entah mendapatkan laporan dari mana bahwa ia makan berdua saja dengan Eliza
"Aira, kami makan di tempat umum dan di ruangan terbuka," jawab Jibril dengan tenang. "Lagi pula kaka makan di restoran Arsyad, tidak ada yang terjadi. Kami hanya makan dan mengobrol," imbuhnya.
"Oh ya? Mengobrol tentang apa? Seorang Jibril yang kaku dan dingin pada semua manusia tiba-tiba bisa mengobrol dengan wanita asing?"
"Aira, aku mencintainya dan dia bukan lagi wanita asing." Aira tentu tak terkejut mendengar jawaban kakaknya itu. Jibril yang selalu berkata jujur.
"Lalu apa kalian bertemu untuk mengobrol tentang perasaan cintamu?" tanya Aira dengan tajam.
"Kami saling mencintai," jawab Jibril lirih.
__ADS_1
"Cinta itu cuma sekedar rasa yang perlu di rasakan kalau sudah tahu takkan bisa di satukan, Kak. Lalu apa yang membuat kalian harus bertemu dan mengobrol?"
...🦋...