Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #20 - Pertemuan


__ADS_3

"Astagfirullah, di jodohkan?" pekik Shalwa saat ia mendapatkan kabar dari neneknya bahwa ia akan kembali di jodohkan dan kali ini dengan sepupunya sendiri yang bernama Farid.


"Iya, Shal. Kamu mau nggak?" tanya sang nenek dengan wajah yang terlihat prihatin dengan situasi Shalwa.


"Jelas nggak mau, Nek!" seru Shalwa yakin. "Pernikahan itu bukan seperti memilih sekolah mana yang akan aku jadikan tempatku menuntut ilmu selama beberapa tahun kemudian aku bisa keluar saat aku tidak nyaman. Pernikahan itu adalah sebuah rumah yang akan aku tempat seumur hidupku, Nek. Kenapa keputusan nggak jelas kayak ini bisa di ambil gitu aja?"


Shalwa sungguh tak habis fikir dengan apa yang di inginkan kedua orang tuanya yang kini justru ingin menikahkan ia dengan Farid, saudara sepupunya yang juga tinggal di Jakarta dan saat ini sedang bekerja sebagai direktur utama di salah satu perusahaan yang cukup besar di Jakarta.


"Tapi Farid setuju, Shal," ujar sang nenek.


"Tapi aku nggak! Aku nggak mau!" tegas Shalwa. "Aku nggak mau menikah sama Farid cuma untuk pelarian, Nek. Akan seperti apa pernikahan kami nanti?"


"Kami fikirkan dulu keinginan orang taumu ini matang-matang, Nak. Nenek yakin, meraka memutuskan ini demi kebaikan kamu juga," ucap nenek berharap Shalwa mau mengerti. Namun, Shalwa tampaknya tak sedang ingin berkompromi saat ini.


Hatinya baru saja terluka karena seorang pria, dan tak mungkin ia lari pada pria lain apalagi pria itu adalah sepupunya sendiri.

__ADS_1


...🦋...


"Kamu masih sakit lho, El. Masa udah mau pergi-pergi?" tanya Nyonya Jill karena putrinya itu bersikeras untuk pergi.


"Kata dokter nggak ada luka serius, Mom," jawab Eliza.


"Oh ya? Bukannya kemarin kamu bilang geger otak parah?" sambung Darrel yang membuat Eliza berdecak kesal.


"Cepetan, Darrel. Nanti terlambat!" seru Eliza sambil melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


Setelah itu mereka pergi bersama, sebenarnya Darrel sedang sangat sibuk begitu juga dengan kedua orang tuanya. Namun, Darrel masih harus meluangkan sedikit waktunya untuk mengantar Eliza ke restaurant karena Eliza tak di perbolehkan menyetir sendiri untuk sementara waktu. Eliza juga tak mungkin pergi naik taksi dan mereka juga memang tak punya sopir karena Eliza menolak adanya orang baru dalam hidup mereka.


Bahkan, perdebatan panjang terjadi saat Tuan Henry ingin mempekerjakan security di rumah mereka, Eliza takut pada pria asing itu. Namun, setelah di bujuk dan di yakinkan bahwa security mereka yang bernama pak Norman itu adalah pria baik-baik dan bisa di percaya, Eliza mencoba mempercayai pria itu. Untuk membuat Eliza semakin percaya padanya, pak Norman juga memperkenalkan seluruh keluarganya. Ia punya seorang putri dan juga keponakan perempuan, ia berjanji takkan melakukan hal buruk pada siapapun, justru pak Norman bekerja untuk membantu menjaga keamanan keluarga Eliza.


Trauma Eliza memang takkan mudah hilang, karena Eliza sendiri tak mau menerima keadaan itu. Apalagi setelah melompat dari lantai 2 di gedung itu, Eliza menjalani perawatan intensif selama berbulan-bulan, membalut seluruh hidupnya berubah.

__ADS_1


...🦋...


"Nanti mau aku jemput jam berapa?" tanya Darrel saat menurunkan Eliza di depan sebuah restaurant. "Atau mau pulang sama Ruby?" lanjutnya karena memang Darrel mengira Eliza menemui Ruby.


"Nanti aku telfon," jawab Eliza. Darrel pun hanya mengangguk pasrah, Eliza terpaksa tak memberi tahu bahwa sebenarnya ia ingin menemui Jibril.


Setelah Darrel pergi, Eliza langsung masuk ke restaurant dimana ia pernah makan pasta bersama Jibril. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Jibril. Namun, pria itu tampaknya belum datang.


Eliza pun memilih duduk di meja yang waktu itu ia tempati bersama Jibril, tak lama kemudian pria yang ia tunggu datang yang membuat Eliza langsung tersenyum sumringah dan matanya berbinar. Namun, senyumnya tiba-tiba musnah saat ia melihat Jibril datang bersama seorang wanita yang menggendong bayi. Bahkan, Jibril merangkul wanita itu dengan posesif. Elizabeth kembali merasa patah hati, binar di matanya pun padam.


"Hai, Elizabeth," sapa Jibril.


"Istri kamu?" tanya Eliza tanpa basa-basi, Jibril sudah membuka mulut hendak menjawab. Namun, Eliza justru kembali bersuara. "Kamu bilang belum jodoh, lah ini datang-datang bawa anak. Pantas aja kamu mau aku ajak makan pasta hangat, mau memperkanalkan istri sama anak kamu?" tuduh Eliza dengan dada bergemuruh yang membuat Jibril tak bisa menahan senyum gelinya.


Sementara Aira yang datang bersama Jibril hanya bisa melongo melihat tingkah Eliza. Aira pun hendak menjawab tuduhan Eliza tapi tiba-tiba kedatangan Tanvir dan Via bersama Zenwa menarik perhatian Eliza, apalagi Tanvir langsung berkata dengan suara lantang. "Ini kan Tante yang cium Om Jibril terus di tampar sama Om terus nggak punya uang pas belanja!"

__ADS_1


...🦋...


__ADS_2