
Eliza yang polos dan berfikir apa lurus-lurus seperti biasa menuduh Jibril membohonginya karena suaminya itu mengatakan meraka tak berdosa meskipun sholat subuhnya terlambat, Eliza sedih dan takut berdosa pada Tuhan.
"Mommy selalu bilang sejak kecil, jangan melakukan dosa dengan sengaja. Nanti masuk neraka," gerutu Eliza sembari melipat mukenanya dengan asal.
"El, makunenya jangab dilipat, Sayang, 'kan basah," seru Jibril karena mukena Eliza sebenarnya basah di sebabkan rambut Eliza yang juga basah.
Saat mandi tadi masih terjadi sedikit drama, Eliza dan ingin mandi sendiri tapi Jibril justru menemani istrinya itu mandi besar. Eliza juga menuding Jibril sebagai pria mesum, padahal Jibril hanya ingin memastikan Eliza mandi wajib dengan benar.
Setelah drama itu selesai, drama berlanjut pada Eliza yang membicarakan dosa mereka karena lebih memilih tidur dari pada sholat seperti yang Jibril katakan.
"Oh ya, aku lupa," sahut Eliza.
Jibril pun mengambil gantungan dan menggantung mukena Eliza di dekat Eliza. "Mommg 'kan bilang dosa yang disengaja, sedangkan kita kesiangan itu nggak sengaja, Elizabeth," ujar Jibril dengan tenang.
"Jadi insyaallah, kesalahan kita dimaafkan kok, apalagi kita nggak tidur sebelum subuh dan sudah niat mau sholat. Selain itu kita juga nggak bangun sedikitpun setelah adzan, jadi ini murni kesalahan yang tidak disengaja." lanjutnya.
"Bener juga sih," gumam Eliza membenarkan kata-kata sang suami. Jibril yang mendengar gumanan sang istri hanya bisa terkekeh, baru malam hari pertama Eliza menjadi istrinya dan sudah ada beberapa drama yang membuat Jibril harus mengelus dada.
"Tiba-tiba aku lapar," keluh Eliza sambil mengusap perutnya yang memang terasa lapar bahkan sudah terdengar keroncongan.
__ADS_1
"Ya udah, kita sarapan sekarang," ajak Jibril. Eliza langsung terlihat semangat dan ia sudah hendak pergi dari kamarnya. Namun, Jibril mencegah Eliza dan meminta istrinya itu untuk memakai kerudung.
"Tapi 'kan aku cuma di dalam rumah, Sayang," keluh Eliza.
"Iya, justru itu aku mau kamu pakai kerudung, anggap aja ini latihan biar kamu terbiasa. Kalau kamu sudah terbiasa pakai kerudung di dalam rumah, apalagi kalau ke luar rumah," kekeh Jibril sembari memakaikan kerudung Eliza.
"Tapi rambutnya masih basah," keluh Eliza lagi.
"Mau sarapan atau keringkan rambut?" tanya Jibril menggoda. Namun, istrinya itu menanggapi dengan serius dan ia memikirkan pilihan yang di berikan oleh Jibril.
"Makan dulu aja deh, aku lapar banget," jawab Eliza.
"Banyak banget masakanmu, Sayang," kata Abi Gabriel.
"Aku tadi bingung mau masak apa, Bang," jawab Ummi Firda singkat. "Oh ya, kita makan duluan aja. Palingan mereka masih lama keluar dari kamar," imbuhnya.
Namun, baru saja Ummi Firda duduk di kursinya, Jibril dan Eliza sudah datang. "Oh, bangun juga kalian," seru Abi Gabriel sambil melemparkan tatapan menggodanya pada Jibril.
"Iya, Abi, gara-gara Jibril nggak bangun jadi kita kesiangan, subuhnya hilang deh," celetuk Eliza yang membuat mertuanya itu tertawa. "Kok malah ketawa, Bi? Katanya kalau meninggalkan sholat itu dosa," imbuh Eliza.
__ADS_1
Jibril yang mendengar ocehan sang istri hanya bisa geleng-geleng kepala, di usianya yang tak lagi muda rupanya tak serta merta membuat Eliza berubah.
"Iya kalau disengaja," kekeh Firda. "Ya udah, lebih baik kalian duduk dan ayo sarapan."
"Wah, ada roast meat," seru Eliza kemudian ia langsung mencicipi daging bakar itu. "Hem, enak, beli dimana?" tanyanya kemudian yang membuat ibu mertuanya langsung mendelik.
Sementara Abi Gabriel justru terkekeh melihat ekspresi sang istri. "Memangnya kamu nggak mencium aroma daging panggang dari baju ibu mertuamu, El?" goda Abi Gabriel yang sempat membuat Eliza mengernyit bingung. Namun, ia meringis saat menyadari apa maksud ayah mertuanya.
"Jadi Ummi yang masak?" cicit Eliza.
"Iya, enak 'kan?" Eliza hanya bisa tersenyum tipis sambil mengangguk.
"Semua ini Ummi yang masak?" tanya Jibril yang hanya di jawab anggukan kepala oleh sang ibu. "Lain kali jangan masak terlalu banyak, Ummi. Pasti Ummi capek," tegur Jibril.
"Ummi cuma mau siapin sarapan untuk kalian, mumpung Ummi masih ada di sini," sahut Ummi Firda.
"Ummi memang ibu yang sangat baik," seru Eliza tanpa ragu. "Beruntung aku punya ibu mertua seperti Ummi, bangun tidur sudah banyak makanan. Udah kayak Mommy aja di rumah," celotehnya yang entah kenapa justru membuat Ummi Firda tertawa.
"Kalau gitu kamu harus jadi anak menantu yang baik untuk kami," ujar Ummi Firda.
__ADS_1
"Pasti," jawab Eliza percaya diri. "Tapi aku nggak bisa masak. Nanti aku belikan makanan yang enak aja di luar" lanjutnya yang membuat mertuanya itu terperangah. Ibaratnya mereka seperti di terbangkan ke angkasa setelah itu di hempaskan ke dasar jurang.