
"Jibril, Ummi mau minta sesuatu sama kamu," ujar ummu Firda tiba-tiba. "Tolong jauhi Elizabeth jika kamu masih menghormati Ummi sebagai ibu kamu!"
Hati Jibril seperti di remas mendengar permintaan sang ibu yang begitu mendadak itu, Jibril bahkan menahan napas, ia meraskan sesak yang teramat di dadanya. Jibril kini melirik Aira dengan tatapan kecewa, padahal Jibril ingin berbicara sendiri dengan orang tuanya tapi Aira mendahului Jibril.
"Ummi mohon, Nak!" lirih Ummi Firda dengan tatapan sendu. Permohonan seperti itu sebelumnya tidak pernah di lakukan oleh Ummi Firda pada anak-anaknya, tentu saja hal itu membuat Jibril tak berkutik.
Kedua mata Jibril kembali terasa panas, detak jantungnya berpacu lebih cepat. Ia tak tahu harus mengatakan apa sekarang, yang ia bisa ia lakukan hanya berusaha menahan rasa sakit yang membuncah di hatinya.
"Ummi nggak akan melarang kamu kalau Eliza cuma teman ataupun sahabat, Ummi percaya kamu tahu dimana batasan kamu, Jibril. Ummi nggak khawatir kamu punya teman perempuan, dari mana pun asal perempuan itu. Karena Ummi yakin, putra Ummi sangat tahu bagaimana menjaga diri dan bagaimana menjaga kehormatan keluarga." dengan susah payah Jibril menelan ludahnya, membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering.
"Tapi jika perasaan kamu itu adalah cinta, maka Ummi mohon, Jibril! Berhenti sampai di sini aja, karena cinta itu seperti ombak yang menerpa tanpa bisa di terka. Kamu akan terbawa arus dan mungkin kamu nggak akan menemukan cara untuk menyelamatkan diri. Jadi, sebelum semua itu terjadi, jauhi ombak itu, Sayang."
Tanpa terasa Jibril menitikan air matanya, dimana hal itu cukup membuat Abi, Ummi dan Aira terkejut juga tercengang. Jibril bahkan menggigit bibirnya yang bergetar seolah menahan isak tangis.
Ummi Firda membisu saat melihat putranya mengucek matanya sambil menunduk dalam. Ada perasaan bersalah yang menyapa hatinya karena ia telah menghancurkan perasaan Jibril yang baru saja berbunga. Namun, ia harus melakukan ini.
"Ini demi kebaikan kalian berdua juga," lirih Ummi Firda kemudian.
Jibril sungguh tak mampu bersuara, entah kenapa tiba-tiba ia seperti kehilangan seluruh kekuatannya.
"Kak, bukan maksud kami nggak faham bagaimana perasaan kalian," sambung Aira. "Tapi ini yang terbaik, Kak. Kalau kaka memaksakan hubungan dan perasaan kalian, akan ada dua keluarga yang menentang."
Jibrik semakin kehilangan kata-kata, lagi-lagi ia hanya bisa mengucek matanya yang terasa semakin panas bahkan pandangannya kini menjadi buram karena air mata yang tertumpuk di pelupuk matanya.
"Jibril..." kali ini sang ayah yang angkat bicara. "Kamu sudah dewasa, fikirkan baik-baik dampak dari setiap keputusan yang kamu ambil. Kamu sudah membuat hubungan keluarga kita dan keluarga Shalwa retak, jangan kamu buat dua keluarga yang bahkan belum saling mengenal juga dalam masalah, Jibril."
__ADS_1
"A-aku... faham," lirih Jibril akhirnya dengan suara yang tercekat.
"Kalau gitu janji sama kami, kamu tidak akan menemui Elizabeth lagi!" Pinta Ummi Firda yang semakin menghancurkan perasaan Jibril. Baru saja ia terluka, dan sekarang seseorang menabur garam di atas lukanya.
"Ummi...." lirih Jibril memelas, air mata kembali mengalir dari sudut matanya.
"Maaf, Sayang. Tapi untuk yang satu ini Ummi nggak mau di tawar!" Tegas Ummi Firda tak ingin di bantah yang membuat perasaan Jibrik benar-benar terkoyak.
Tanpa Jibril dan yang lainnya tahu, Eliza berada di balik pintu dan mendengarkan semua yang mereka bicarakan. Tadinya Eliza kembali untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Namun, apa yang ia temukan justru hal yang sangat menyakitkan hatinya.
Bukan hanya keluarganya yang mendesak Eliza melupakan Jibril, kini keluarga Jibril melakukan hal yang sama agar dia melupakan Eliza.
Eliza tak mampu membendung air mata yang kini mengalir deras di pipinya, berkali-kali ia menyeka air mata itu dengan sapu tangan Jibril tapi berkali-kali juga air mata itu tumpah.
"Baik, Ummi," ucap Jibril kemudian yang membuat hati Eliza semakin remuk, ia membekap mulutnya sendiri agar isak tangisnya teredam. "Jika memang itu yang Ummi mau, baik!" Jibril berkata dengan suara yang gemetar.
Aira yang menyaksikan kakaknya patah hati itu hanya bisa membisu seribu kata, ia tak tega, tapi semua sudah terlanjur terjadi. Ummi Firda dan Abi Gabriel pun hanya bisa menyaksikan air mata Jibril tanpa bisa berbuat apa-apa.
Tadinya mereka datang ke sini untuk memberikan kejutan pada Jibril, tapi mereka justru di buat terkejut dengan fakta cinta Jibril. Mereka tahu, kini kedatangan mereka bukannya membuat Jibril bahagia tapi justru membuat Jibril terluka.
Jibril beranjak dari kursinya dan saat itu lah yang baru menyadari ada ponsel Eliza di meja. Jibril segera menyambar ponsel itu. "Aku mau ke kamar, aku belum mandi," ujar Jibril yang hanya ingin menghindari orang tuanya.
Tak ada yang mencegah Kepergian Jibril, meraka tahu Jibril butuh waktu sendiri.
Saat Jibril keluar dari ruangan itu, Jibril tercengang menyaksikan Eliza yang berdiri di depan pintu dengan air mata yang berderai.
__ADS_1
"Eliza...." lirih Jibril pilu.
Eliza mengambil ponselnya dari tangan Jibril kemudian berkata, "Selamat tinggal, Tuan es batu!"
"Elizabeth, aku—"
"Bukan cuma kamu, aku pun di paksa untuk melupakanmu, Jibril. Semua orang menentangnya," lirih Eliza putus asa.
"Maafin aku," ucap Jibril penuh penyesalan.
"Sudah takdirnya begini, seharusnya kita dengarkan kata mereka sejak dulu!" gumam Eliza. "Mungkin kita memang hanya bisa sampai di sini!" Jibril menggeleng, sungguh berat rasanya melepaskan Eliza.
"Secepat ini?" tanya Jibril. "Baru kemarin kita berencana mencobanya, Eliza."
"Iya, baru kemarin, Jibril! Dan hari ini kamu membuat janji pada ibumu bahwa kamu akan berhenti menemuiku, kamu akan melupakanku!" desis Eliza penuh penekanan.
"Aku nggak punya pilihan lain," tukas Jibril kemudian.
"Kalau begitu aku juga!" setelah mengucapkan kalimat itu Eliza langsung pergi meninggalkan Jibril.
Eliza menyeka air matanya yang masih saja tumpah. Rasanya baru sesaat ia merasakan indahnya cinta, dan sekarang semuanya di renggut paksa.
Jibril pun hanya bisa memandangi punggung Eliza yang kini melangkah semakin jauh darinya. Bukan maksud Jibril tak ingin memperjuangkan Eliza dan menyatukan cinta mereka, ia sungguh menginginkan hal itu. Namun, sebelum Jibril memiliki kesempatan itu orang tuanya justru datang dan memberikan perintah sebaliknya.
Baru saja Jibril merasakan bagaimana rasanya mencintai dan di cintai. Namun, semesta bertindak seolah ia tak memiliki rasa dalam hati. Lalu, apa arti istikharah cintanya?
__ADS_1
Hanya sampai di sinikah kisah itu?