Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #8 - Di Luar Dugaan


__ADS_3

Jibril tak tahu harus berkata saat mengetahui fakta tentang wanita yang di cintainya, tak pernah terbersit sedikitpun dalam benaknya ia akan jatuh cinta pada seorang wanita yang berbeda keyakinan dengannya.


Terkejut, merasa tak percaya bahkan Jibril masih berharap semua ini hanya mimpi belaka. Namun fakta adalah fakta, apalagi kini dia menyaksikan sendiri saat Eliza keluar dari gereja bersama beberapa orang.


Setelah security Eliza mengatakan Eliza ada di gereja, Jibril langsung meminta alamat gereja itu dan di sinilah dia sekarang. Sedang memperhatikan Eliza yang sedang berbincang dengan serius dengan seorang pria yang mungkin seumuran dengan Jibril. bahkan, Eliza di rangkul oleh pria itu dan Eliza tampak sangat nyaman.


Hati Jibril seperti di remas, dua fakta ia dapatkan hari ini. Keyakinan Eliza dan fakta mungkin Eliza sudah punya kekasih.


"Astagfirullah, lupakan wanita itu, Jibril. Sudah tidak ada lagi yang perlu di kejar." Jibril menegaskan pada dirinya. Ia pun memutar mobilnya dan pergi dari sana dengan hati yang sudah patah. Namun, Jibril masih teringat dengan mimpinya. Kenapa Eliza yang datang jika pada akhirnya akan seperti ini?


Sementara itu, Elizabeth bergelanyut manja pada pria tampan yang sejak tadi terus merangkulnya dengan posesif. "El, kalau kamu nempel terus sama kakakmu seperti ini maka kemungkinan besar dia nggak akan dapat jodoh," tukas salah satu temannya yang membuat Eliza justru semakin mendekap pria yang tak lain adalah kakaknya itu.


"Biarin, Darrel memang nggak boleh punya pacar. Nanti dia udah nggak sayang lagi sama aku," jawab Eliza yang langsung mendapatkan jitakan dari kakak tersayangnya itu. "Aduh, sakit, Darrel!" Eliza mengusap kepalanya sambil cemberut.


"Suatu hari nanti aku harus menikah, begitu juga dengan kamu. Jadi cepat cari pendamping hidup karena aku sudah bosan jagain kamu terus," tukas Darrel yang membuat Eliza semakin cemberut.


Tak berselang lama, kedua orang tua Eliza menghampiri mereka dan mengajak mereka pulang karena hari sudah siang.


Selama dalam perjalanan pulang, Eliza berceloteh ria menceritakan tentang sahabat barunya yang berbeda keyakinan dengannya. Ini pertama kalinya Eliza menyambut orang lain selain Rubby dalam hidupnya dan itu membuat orang tuanya senang. Selama ini, orang yang terhubung dekat dengan Eliza hanya keluarganya dan keluarga Ruby. Eliza ramah pada orang lain, asyik saat di ajak mengobrol namun ia takkan membuka pintu pertemanan apalagi persahabatan untuk mereka.


Kedua orang tua Eliza saling melempar tatapan seolah mereka sangat puas dengan perubahan Eliza akhir-akhir ini meskipun beberapa minggu sebelumnya Eliza selalu tampak murung.

__ADS_1


"El, minggu depan kamu temui dengan dr. Alma lagi, ya," ujar mommynya yang langsung membuat raut wajah Eliza berubah.


"Mom, aku rasa aku udah nggak perlu lagi menemui dia lagi. Please...,"lirih Eliza.


"Sekali saja, Sayang. Sudah tiga minggu kamu tidak menemuinya," tukas sang ibu dengan lembut namun Eliza menganggap itu desakan.


"Hentikan mobilnya...." Eliza berseru dengan kesal.


"Eliza, please ... jangan mulai!" tegur ibunya apalagi saat ia melihat kemarahan di mata anaknya itu.


"Mom yang mulai," bantah Eliza. "Apa kalian tidak lihat aku baik-baik saja?"


"Iya, Mom. Eliza udah nggak perlu lagi menemui dr. Alma." Darrell menimpali sambil menggengam tangan Eliza dengan lembut. "Kita sudah lihat, 'kan? Eliza baik-baik aja dan dia udah nggak pernah bermimpi buruk," imbuh Darrel.


"Nanti sore aku ada janji sama Rubby dan Shalwa, em ... bisa tolong transfer, Mom?" Cicitnya.


Nyonya Jill langsung terkekeh kemudian ia mengangguk yang membuat Eliza langsung memekik girang, sementara Darrel hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya yang sangat manja itu.


...🦋...


Sementara di sisi lain, Shalwa pun kini terlihat jauh lebih baik setelah menjalin pertemanan dengan Eliza dan Ruby. Kedua gadis itu sangat energik dan mampu menularkan itu pada Shalwa.

__ADS_1


Nenek Shalwa yang menyadari perubahan Shalwa ikut merasa senang, ia juga tak pernah lelah menghibur cucu kesayangannya itu serta menasehatinya. Apapun yang terjadi dalam hidup, semua sudah di atur oleh sang maha kuasa dan apa yang di kehendaki-Nya tak pernah salah.


"Hari ini kamu mau pergi, Shal?" Tanya neneknya.


"Iya, Nek. Rencananya kami mau nonton," jawab Shalwa. "Boleh ya, Nek?" Pintanya memelas yang membuat neneknya tertawa kecil.


"Boleh, nggak boleh pulang di atas jam 9."


"Baik, Nek," jawab Shalwa patuh.


Nenek sebenarnya sungguh penasaran dengan wanita yang sudah merebut hati Jibril, ia penasaran apa kelebihan wanita itu di banding cucunya yang lembut, baik dan penurut. Namun, nenek juga sadar jika berbicara tentang hati, maka logika terkadang tak terpakai.


...🦋...


Saat Eliza dan keluarganya sudah sampai di rumah, security langsung memberi tahu mereka bahwa ada seseorang pria yang datang mencari Eliza. Tentu saja mereka bingung karena selama ini Eliza tak pernah punya teman pria, mereka saling bertanya-tanya siapa pria itu.


Karena penasaran, mereka memeriksa cctv dan betapa terkejutnya Eliza saat mengetahui yang mencarinya adalah Jibril, sang pujaan yang membuat hatinya patah sebelum berbunga.


"Jibril..."


"Akhirnya, dia muncul juga."

__ADS_1


...🦋...


__ADS_2