
Ummi Firda terhenyak saat mendengar apa yang di katakan oleh putranya itu, yang tadinya Ummi Firda masih mengantuk karena di desa masih pagi, kini kedua matanya langsung terbuka lebar setelah mendengar Jibril mengatakan sudah menemukan calon istri.
Ummi Firda tentu saja sangat senang apalagi usia Jibril yang tak lagi muda, ia bahkan begitu antusias ketika Jibril ingin ibunya itu berbicara dengan sang wanita. Namun, saat Ummi Firda mendengar wanita itu menyebutkan namanya, seketika ia bungkam tak tahu harus berkata apa lagi.
Ummi Firda juga sungguh tak habis fikir, bagaimana bisa mereka kembali bertemu lagi? Dan sejak kapan? Apakah selama ini mereka diam-diam saling berhubungan?
Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benak Ummi Firda saat ini. Rasanya sulit percaya, setelah 6 tahun berlalu kini tiba-tiba Jibril mengatakan akan menikahi Eliza.
"Eliza, aku ingin bicara dengan Jibril," kata Ummi Firda.
"Ada apa, Sayang? Jibril sudah di London?" tanya Abi Gabriel yang baru saja bangun. Ummi Firda hanya mengangguk pelan.
"Iya, Ummi?" kembali terdengar suara Jibril dari seberang telfon.
"Jibril, apa Elizabeth yang dulu yang kamu maksud?" tanya Ummi Firda tanpa basa-basi.
"Iya, Ummi," jawab Jibril yang membuat sang ibu langsung menghela napas lesu.
"Bagaiamana bisa kalian bertemu? Apa kalian janjian? atau selama ini kalian diam-diam saling menghubungi?" tanya Ummi Firda dengan tingkat kecemasan yang begitu tinggi. "Jibril, kamu nggak ada niatan kawin lari, kan? Kamu pergi ke London memang untuk urusan bisnis, kan? Bukan karena ada tujuan lain, apalagi selama ini Eliza memang tinggal di London." tanpa ragu sedikit pun Ummi Firda mengungkapkan apa saja yang ada dalam benaknya saat ini.
Sementara Jibril yang mendengar ocehan sang ibu justru terdengar terkekeh, membuat Ummi Firda semakin bingung dan cemas.
"Dengar, Jibril! Ummi nggak akan ikhlas kalau-" ucapan Ummi Firda menggantung saat ia menyadari sesuatu, ia sangat mengenal putranya itu dan tak mungkin Jibril akan menikahi seseorang yang berbeda keyakinan darinya.
__ADS_1
"Dia sudah mualaf?" tanya Ummi Firda mencicit, dan entah kenapa ada perasaan gugup saat ia menunggu jawaban Jibril.
"Alhamdulillah sudah, Ummi," jawab Jibril yang kembali membuat Ummi Firda terhenyak. "Dan pertemuan kami tidak di sengaja, Ummi. Aku juga tidak pernah sekalipun diam-diam menghubungi Eliza, apalagi ada niatan kawin lari. Aku kan sudah janji, aku akan menikahi wanita yang di restui oleh seluruh keluargaku," jawab Jibril panjang lebar.
Rasanya ini masih seperti mimpi, sulit bagi Ummi Firda untuk mempercayai informasi yang ia dengar dari mulut Jibril. Namun, rasanya juga tak mungkin jika Jibril berbohong. Anak itu tak pernah pandai dalam merangkai kebohongan.
"Kamu yang memintanya supaya kamu bisa menikah sama dia?" tanya Ummi Firda lagi dengan tajam.
"Nggak, Ummi. Aku sama sekali nggak berkontribusi dalam mualafnya Eliza. Aku aja terkejut setelah tahu dia ternyata sudah menjadi seorang muslimah, dan itu pun sejak 6 bulan yang lalu. Jika saja aku tahu hal itu, mungkin aku sudah mencarinya untuk menikahi nya."
********
Bandara, London.
Eliza melongo mendengar apa yang di katakan Jibril pada ibunya itu, ia tersipu, karena kata-kata Jibril memang menggambarkan bahwa pria itu masih mencintainya.
Jika cinta mereka sudah di restui oleh Tuhan, mungkinkah keluarga mereka juga akan memberikan restu itu? Apalagi Eliza merasa sangat tidak pantas untuk Jibril.
Sementara Christie yang saat ini berjalan di sisi Eliza langsung menyikut Eliza kemudian mengedipkan sebelah matanya pada sang adik, Christie merasa begitu gemas dengan Jibril dan segala penuturan pria itu yang seolah tak perlu di fikir lagi. Sekarang Christie mulai memahami kenapa adik iparnya itu tak bisa move on dari sosok Jibril.
"Ummi, jika Ummi merestui kami, aku ingin menikahi Eliza," ujar Jibril dengan begitu enteng nya.
Ia tahu mungkin ini terlalu cepat, tapi setelah di fikir-fikir, ini sama sekali tidak terlalu cepat karena kisah cinta mereka sudah di mulai sejak 6 tahun yang lalu, dan itu bukan waktu yang cepat.
__ADS_1
"Jibril, pernikahan itu bukan seperti bisnis, Nak. Ada banyak hal yang harus fikirkan, dan pernikahan itu bukan hanya menyatukan kamu dan pasanganmu. Tapi juga kamu dan keluarga pasanganmu," tukas Ummi Firda kemudian.
"Aku tahu, Ummi. Aku juga akan meminta resti dari keluarga Eliza," ucap Jibril.
"Restu apa? Aku aja belum nerima lamaran kamu," sambung Eliza sambil mendelik.
Mereka sambil berjalan menuju keluar Bandara, dan saat Christie melihat Darrel, ia dan Ayesha langsung mempercepat langkahnya menghampiri pria yang sudah melambaikan tangan pada mereka.
"Kamu boleh berfikir dulu, Eliza. Aku tidak masalah menunggu jawaban dari kamu," sahut Jibril.
Darrel yang melihat keberadaan Jibril di sana juga tampak begitu terkejut, bahkan Darrel merasa dia hanya salah lihat dan beberapa Darrel mengucek mata nya. Namun, pria itu memang benar-benar Jibril. Pria yang dulu ia tolak mentah-mentah untuk mencintai sang adik.
Eliza pun juga mempercepat langkahnya menuju sang kakak, beda halnya dengan Jibril yang berjalan santai sambil berbicara dengan sang ibu.
"Eliza, dia..." Darrel masih menatap Jibril kemudian ia menatap Eliza yang kini sudah ada di hadapannya. "Kamu janjian sama dia? Kalian masih saling berhubungan?" entah itu pertanyaan atau pernyataan, tapi apapun itu Eliza sangat tidak menyukainya.
"Tanya deh sama Christie" ujar Eliza sambil menguap. Darrel pun langsung mengalihkan tatapannya pada sang istri.
"Dia pria yang aku ceritain itu lho, Darrel," ujar Christie yang memahami rasa penasaran sang suami. Darrel yang mendengar jawaban Christie cukup terkejut, ia sama sekali tak menyangka ternyata dunia cukup sempit sehingga yang terpisah jarak dan waktu kini bisa di pertemukan kembali.
"Kita pulang, ini sudah sangat larut dan kalian pasti mengantuk," ujar Darrel kemudian.
Ia pun membawa ketiga wanita itu pergi, meninggalkan Jibril tanpa sedikit pun ada niatan bagi Darrel untuk menyapa Jibril. Tampaknya hal itu tak masalah bagi Jibril, pria itu tetap melempar kan senyum lembut nya.
__ADS_1
"Jangan terburu-buru mengambil kesempatan, Jibril. Kamu harus memikirkan segala sesuatunya dengan matang lebih dulu. Jangan lupa lakukan Istikharah supaya kamu dapat petunjuk yang lebih kuat." seru sang ibu dengan nada yang rendah.
"Tapi apa Ummi akan merestui jika aku menikah dengannya?" tanta Jibril untuk mendapatkan jawaban pasti, selama beberapa saat Ummi Firda tak kunjung memberikan jawabannya, membuat Jibril sedih.