Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #48 -


__ADS_3

Jibril menatap pantulan dirinya sendiri di cermin, ia tersenyum pada bayangannya seolah Jibril sedang berbicara dengan diri sendiri. Tak berselang lama, terdengar ketukan pintu dari luar. Jibril segera mengambil jas yang sudah ia siapkan kemudian pria itu juga menyemprotkan parfum ke tubuhnya.


Setelah itu, Jibril segera keluar dan ketiga temannya sudah menunggu di depan pintu dengan pakaian yang juga sangat rapi tentu juga wangi.


"Ckck, bro! Tampan juga kamu, ya!" celetuk Arkan yang langsung membuat kedua temannya itu tertawa.


"Tapi sayang, tampan-tampan gini di tinggal nikah sama doi." Rehan menimpali sambil terkekeh.


"Belum jodoh," sambung Bayu.


"Mau gosip atau pergi?" tanya Jibril dengan dingin.


"Ah, si pangeran keliatannya nggak sabar ingin melihat mantan calon istrinya di pelamninan," goda Arkan dan seketika ketiga teman Jibril itu tertawa geli. Sementara Jibril yang di goda justru memasang wajah biasa saja.


Malam ini mereka di undang ke acara resepsi pernikahan Shalwa dan Farid yang di gelar cukup tertutup, hanya mengundang beberapa teman dekat Farid maupun Shalwa.


Jibril dan ketiga temannya juga tentu di undang oleh Farid karena mereka dulu sempat berteman baik dalam sekolah yang sama.


Ke empat pria tampan itu pun pergi dengan membawa mobil Jibril, selama dalam perjalanan mereka terus mengoceh panjang lebar dan seperti biasa Jibril hanya diam, sesekali ia menimpali teman-temannya itu dengan respon yang tak seberapa.


"Neh anak nggak akan dapat jodoh kalau masih kayak es batu," celetuk Arkan.


"Paling nanti jodohnya yang panas-panas, seksi-seksi, biar mencair," sambung Rehan.


"Asal hanya seksi di kamar, aku pasti cair," sambung Jibril yang seketika membuat ketiga temannya itu tergelak.

__ADS_1


"Bisa juga punya otek mesum ya neh bocah," seru Bayu.


"Mesum itu normal bahkan wajib kalau sama pasangan," jawab Jibril dan lagi-lagi itu membuat ketiga temannya tertawa.


Sementara di sisi lain, Shalwa kini sedang menikmati perannya sebagai ratu semalam dalam acara resepsi pernikahannya dengan Farid.


Rasanya Shalwa masih sulit percaya kini ia benar-benar telah resmi menjadi istri dari pria yang sama sekali tak di cintainya tapi sangat mencintainya.


Tak lupa Shalwa mengundang Ruby ke acara itu. Namun, sayangnya Shalwa tak bisa mengundang Eliza karena Eliza kini sudah berada di London. Walaupun begitu, Eliza tetap mengirimkan hadiah sebagai ucapan selamat pada temannya itu.


Tak berselang lama Farid melihat kedatangan Jibril dan ketiga temannya, Farid langsung menyambut mereka semua dengan hangat.


Jibril mengucapkan selamat pada Farid juga pada Shalwa, meskipun di masa lalu sempat terjadi masalah yang berdampak pada hubungan kedua keluarga, Jibril dan Shalwa tetap mencoba berinteraksi layaknya seorang teman.


"Shalwa nggak mau, katanya itu berlebihan. Selain itu, uangnya bisa kami pakai untuk masa depan," jawab Farid yang langsung mendapat pujian sebagai pasangan serasi dari Arkan dan teman-temannya.


Di sana tentu juga ada keluarga Shalwa, Jibril pun tanpa ragu langsung menghampiri mereka, menyapa mereka dengan hormat dan ramah. Awalnya, mereka masih enggan berbicara dengan Jibril. Namun, tiba-tiba Jibril mengatakan sesuatu yang membuat mereka tersenyum.


"Kalau saja Shalwa nikahnya sama aku, maka kemungkinan dia besar dia hanya senang tapi nggak bahagia. Karena Shalwa hanya mencintai, sedangkan sekarang Shalwa menikah dengan orang yang mencintai dan pasti akan memastikan kebahagiaan dia."


Kedua orang tua Shalwa mengulum senyum, membenarkan apa yang di katakan Jibril. "Aku benar-benar minta maaf, aku tahu aku sudah membuat kekacauan. Aku benar-benar minta maaf," lirih Jibril dengan begitu tulus.


"Mungkin ini memang sudah takdirnya, Jibril," ucap ibunya Shalwa yang membuat Jibril langsung tersenyum.


Takdir tak pernah salah dalam menentukan garisnya, jika awalnya terasa pahit, maka akhirnya pasti akan terasa manis. Yang perlu di lakukan hanya berbaik sangka, tetap mengikuti garis takdir itu dengan hati yang ikhlas. Karena manusia hanya tahu apa yang di inginkan saat ini sedangkan Tuhan tahu apa yang di butuhkan manusia kelak.

__ADS_1


********


Eliza sangat senang mendengar berita pernikahan Shalwa dengan Farid, rasanya ingin sekali ia menghadiri pernikahan itu. Namun, saat ini Eliza di sibukan dengan aktivitas barunya, yaitu sekolah.


Darrel mendaftarkan Eliza ke kelas bisnis atas dasar keinginan Eliza sendiri, kini adiknya itu benar-benar sangat berbeda dengan Eliza yang dulu. Eliza kini lebih aktif, selalu saja menemukan kegiatan setiap harinya dari pagi sampai malam. Eliza hanya akan ada di rumah di akhir minggu, layaknya orang pada umumnya.


Seperti saat ini, Eliza sedang makan siang bersama teman-teman kelasnya di salah satu cafe. Teman-temannya itu terdiri dari perempuan dan laki-laki, dan Eliza tak sedikitpun terlihat curiga apalagi takut pada mereka.


Setelah menghabiskan makan siangnya, Eliza segera pulang dengan naik taksi karena sore ini Darrel sudah harus kembali ke Indonesia.


Sesampainya di apartement, Eliza melihat kakaknya sudah siap pergi. "Maaf aku telat, tadi aku masih makan siang sama teman-teman," kata Eliza sembari melempar tasnya ke sofa.


"Iya, nggak apa-apa. Tapi aku harus pergi sekarang, nggak perlu di antar, kamu istirahat aja di rumah," ujar Darrel. Eliza hanya mengangguk pelan.


Sebenarnya ada perubahan resah dalam hatinya karena Darrel akan pulang, yang artinya dia akan benar-benar tinggal sendirian di sini. Namun, Eliza sudah bertekad akan belajar hidup mandiri.


"Jaga diri ya, Sayang. Dua minggu lagi Mommy akan kesini," kata Darrel sembari mengecup pelipis Eliza.


Hati Darrel juga tak tenang sebenarnya meninggalkan Eliza, Tapi selama ini Darrel sudah mengawasi Eliza dan adiknya itu terlihat sangat mampu tinggal sendirian.


"Iya, salam sama mereka. Bilang nggak usah khawatir, aku janji akan jaga diri," ucap Eliza meyakinkan Darrel.


Sebelum pergi, Darrel memeluk Eliza seolah ia enggan meninggalkan sang adik. Namun, jika Eliza saja kuat dan berani, lalu apa yang perlu di khawatirkan oleh Darrel?


Eliza mengantar Darrel sampai ke taksi, ia terus menatap taksi itu hingga taksi yang di tumpangi Darrel hilang dari pandangan mata. Eliza mengulum senyum dan berkata pada dirinya sendiri. "Kehidupan yang sesungguhnya di mulai."

__ADS_1


__ADS_2