Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #63 - Syarat?


__ADS_3

Nyonya Jill duduk merenung memikirkan putrinya yang mengalami begitu banyak hal dari kehidupan, tragedi masa kecil yang mengerikan, menutup diri, sehingga semua perubahan yang terjadi sampai membawa Eliza pada titik yang sekarang. Tentu saja semua itu bukan hal yang mudah bagi keluarga Eliza, mereka juga mengalami pergelokan batin yang cukup melelahkan.


Namun, jika memang ini takdir yang harus Eliza jalani, mereka pun tak bisa apa-apa. Apalagi kini Eliza sudah dewasa, sudah bisa membuat keputusannya sendiri.


Sekarang ia hanya bisa berharap Eliza akan tetap menjadi putrinya meskipun nanti dia harus menikah dengan seorang muslim.


Keesokan harinya, Nyonya Jill membangunkan Eliza karena putrinya itu masih tidur padahal hari sudah siang.


"Aku masih ngantuk banget, Mom," gerutu Eliza.


"Jibril sama keluarganya sudah di jalan lho, El," seru Nyonya Jill yang membuat Eliza terperanjat, ia pun segera bangkit dari tidurnya kemudian melirik jam yang sudah menunjukan pukul 11.


"Kenapa aku nggak di bangunin dari tadi, Mom?" keluh Eliza yang membuat sang ibu langsung geleng-geleng kepala.


"Sudah dari tadi aku bangunin kamu, El. Tapi kamu udah kayak orang pingsan," ucap Nyonya Jill. "Cepat mandi setelah itu turun!" titahnya.


Tanpa membuang waktu Eliza langsung beranjak turun dari ranjangnya, ia bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.


Layaknya lamaran seperti orang pada umumnya, Jibril dan kedua orang tuanya memang akan datang ke rumah Eliza untuk meminang Eliza secara resmi. Sebenarnya Jibril dan keluarganya belum menghubungi Jill, tapi ia terpaksa berbohong pada Eliza supaya anaknya itu segera bangun.


Sementara di sisi lain, Jibril saat ini sedang bersiap begitu juga dengan kedua orang tuanya. Jika dulu Jibril tak merasa gugup sedikitpun saat berbicara dengan Darrel, kini Jibril justru merasa gugup dan cemas saat membayangkan akan berbicara secara langsung pada orang tua Eliza untuk meminta putri meraka.


"Kenapa?" tanya Abi Gabriel yang melihat Jibril tampak gelisah.


"Gugup, Bi," jawab Jibril singkat dan seketika sang ayah pun terkekeh.

__ADS_1


"Tenang, jangan gugup. Hubungan kalian sudah kami restui, lamaran ini hanya untuk meresmikan hubungan kalian menuju jenjang pernikahan," tutur Abi Gabriel.


"Kalian sudah siap?" tanya Ummi Firda yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Sudah, kita berangkat sekarang?" tanya Abi Gabriel.


"Tunggu," ucap Ummi Firda. "Ada apa dengan matamu, Jay?" tanyanya sembari menyentuh lingkaran hitam di bawah mata Jibril.


"Mungkin karena kurang tidur, Ummi. Soalnya tadi malam aku cuma tidur dua jam," jawab Jibril.


"Kenapa?" tanya sang ibu lagi penasaran.


"Mungkin gara-gara gugup," jawab Abi Gabriel sambil terkekeh.


"Sayang, jangan ungkit-ungkit usia Jibril terus! Memang apa salahnya kalau Jibril sudah berusia 39 tahun? Dia tetap tampan, masih segar," ujar Abi Gabriel membela sang putra yang terus saja di ejek oleh ibunya sendiri. Sementara Jibril justru hanya terkekeh dengan gerutuan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Dalam sejarah keluarga kita nggak ada tuh yang menikah di atas 35 tahun, Bang. Jibril ini mencetak sejarah lho," seru Ummi Firda lagi.


"Ya dia memang mencetak sejarah, rela memendam cintanya selama bertahun-tahun hingga akhirnya takdir mengembalikan cinta itu dengan sendirinya. Sejarah yang indah, kan?" kekeh Abu Gabriel.


"Aku rasa kita bisa pergi sekarang sebelum kegugupanku naik level," sambung Jibril akhirnya.


Mereka pun segera bergegas menuju rumah Eliza yang jaraknya cukup jauh dari rumah Jibril, sepanjang perjalanan Ummi Firda memberikan nasihat pada Jibril sebagai bekal untuk kehidupan rumah tangganya kelak.


Apalagi karakter serta latar belakang Eliza dan Jibril bertolak belakang, akan ada banyak perbedaan pendapat, pemikiran dan sebagainya dalam rumah tangga mereka kelak.

__ADS_1


"Tapi apapun yang terjadi, Ummi harap kamu bisa menjadi yang baik untuk keluargamu, Jay. Karena hidup dalam rumah tangga itu nggak cukup hanya mengandalkan saling mencintai," tukas Ummi Firda. "Ada yang lebih penting dari itu, yaitu keimanan dan ketaqwaan kalian. Bawa cinta kalian pada ketaqwaan dan insyaallah Allah akan menjaga cinta kalian, jangan sekali-kali kamu mengykuti nafsu. Karena setan itu kalau liat orang menikah, maka misi dia adalah memisahkan suami dari istrinya dengan berbagai cara yang biasanya orang berfikir itu adalah cara terbaik. Sedangkan kalau liat orang pacaran, meraka akan berusaha menyatukan meraka dalam segala cara yang terlihat indah."


"Inysaallah, Ummi. Jika kalian meridho'i pernikahan ini, maka aku yakin Allah juga akan meridho'i kami."


Selang beberapa menit akhirnya kini mereka sampai di rumah Eliza, mereka pun di sambut dengan hangat oleh kedua orang tua Eliza. Sambutan yang membuat kedua orang tua Jibril juga merasa nyaman dan merasa sangat di hargai.


"Silakan duduk!" mereka di persilakan duduk di ruang tamu, setelah itu Nyonya Jill memanggil Eliza setelah itu ia menyiapkan minuman dan cemilan untuk keluarga Jibril.


"Hai?" sapa Eliza saat ia sudah berada di ruang tamu, Eliza tersenyum sumringah, membuat wanita itu tampak begitu cantik.


"Assalamualaikum, Eliza," ucap Jibril sambil terkekeh yang membuat Eliza langsung salah tingkah. Di luar dugaan, ayah Eliza justru ikutan tertawa saat melihat raut wajah Eliza.


Eliza mengenakan pakaian casual seperti biasa dan ia tak mengenakan hijab seperti yang Jibril harapkan, walaupun begitu Jibril tak mempermasalahkan itu karena ia tahu Eliza masih dalam proses belajar. Eliza pun pun duduk di samping ayahnya, ia juga melempar senyum ramah pada kedua orang tua Jibril yang di balas dengan senyum ramah juga oleh mereka.


Tak lama kemudian Nyonya Jill datang membawa minuman segar dan beberapa cemilan untuk tamunya. "Terima kasih," kata Jibril saat calon ibu mertuanya itu meletakkan minuman di depannya.


Nyonya Jill hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Jibril, setelah itu ia pun duduk di samping Eliza.


"Terima kasih jamuannya," kata Abi Gabriel kemudian menyeruput jus jeruk yang di suguhkan untuknya. "Kita sama-sama tahu bahwa anak-anak kita sudah saling mencintai sejak lama, dan setelah berpisah sekian tahun, kini mereka di pertemukan kembali dan situasi dan kondisi yang berbeda." Abi Gabriel menatap Jibril kemudian ia menatap Eliza, sambil tersenyum dia berkata. "Putraku ini tidak pandai mengungkapkan perasaannya, karena itu lah kami shock saat tiba-tiba dia bilang sudah menemukan wanita yang ingin dia jadikan istri," imbuhnya.


Nyonya Jill dan suaminya tersenyum mendengar kata-kata Abi Gabriel dan mereka tahu itu benar, apalagi Darrel juga Christie sudah bercerita pada mereka tentang Jibril. Sementara Jibril hanya bisa menunduk dalam, entah kenapa ia merasa kata-kata ayahnya terlalu panjang, atau memang seperti ini cara orang melamar? Jibril sungguh tidak mengerti.


"Aku juga shock, Om," sahut Eliza. "Malah pilihan kalimat mengajak nikahnya itu agak gimana gitu, Om. Masa Jibril bilang gini 'Gimana kalau kita nikah aja?'" semua orang yang mendengar cerita Eliza itu langsung terkekeh. Ummi Firda pun hanya bisa geleng-geleng kepala, entah watak siapa yang di wariskan pada Jibril sehingga putranya itu benar-benar kaku seperti itu.


"Kami bersedia memberikan restu kami untuk kalinya," ujar Tuan Henry kemudian. "Tapi kami punya beberapa syarat, jika Jibril bisa memenuhinya maka kami bersedia melepaskan Eliza untuknya."

__ADS_1


__ADS_2