Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #72


__ADS_3

Jibril membawa Eliza berbelanja karena sampai sekarang baju muslimah Eliza tak seberapa. Mereka memilih salah satu butik yang memang hanya menyediakan baju syar'i. Saat masuk ke butik itu, Eliza langsung menampilkan raut wajah yang tak biasa.


"Kenapa?" tanya Jibril yang menyadari perubahan raut wajah istrinya.


"Kamu yakin aku bisa pakai baju begituan? Kayaknya bakal ribet deh," gerutu Eliza yang justru di tanggapi dengan senyum oleh sang suami.


"Coba dulu, Sayang, jangan dibayangkan," ujar Jibril. Eliza hanya mengangguk patuh, karena mau puluhan kali dia bilang tidak akan nyaman dengan baju seperti itu, Jibril takkan mentoleransi dengan mengatakan Aku terima kamu apa adanya atau Tidak apa-apa selama kamu nyaman.


Memang benar, Jibril tak bisa membiarkan Eliza hanya merasa nyaman dalam penampilannya tapi penampilan itu tidak baik untuknya yang kini menjadi seorang muslimah.


Pegawai butik menyambut kedatangan mereka dengan ramah dan langsung menanyakan mereka menginginkan baju seperti apa.


"Yang panjang, besar, tapi bahannya yang adem, Mbak. Yang nggak panas, yang gampang cuci sama nyetrikanya," ujar Eliza panjang lebar yang membuat pegawai itu tertawa kecil.


"Kami punya gamis premium dengan bahan yang sudah pasti adem, Kak," jawab pegawai tersebut, ia pun membawa Jibril dan Eliza ke salah satu sisi butik yang menyimpan gamis dengan kualitas premium.

__ADS_1


Di luar dugaan, Eliza justru tampak menyukai baju-baju yang terpasang di menequin.


"Keliatannya cantik banget ya," ucap Eliza takjub.


"Baju yang ini baru datang, Kak, bisa dicek bahannya dan bisa dicoba juga," ucap sang pegawai sembari mengmbilkan satu gamis berwarna putih polos tapi terlihat sangat anggun. Bahkan, Eliza merasa jatuh cinta pada baju itu.


"Okay, aku coba dulu. Di mana ruang gantinya?" tanya Eliza.


"Di sebelah sini." pegawai tersebut mengantar Eliza ke ruang ganti.


"Masuk!" seru Eliza sambil menarik Jibril.


"Masyaallah, istriku cantik sekali," puji Jibril yang membuat sang istri langsung merona.


"Bantuin," ujar Eliza sambil berbalik badan. Tadinya Eliza berfikir mungkin Jibril akan menggodanya seperti di film-film yang ia tonton. Namun, Jibril hanya menaikan resleting itu tanpa melakukan apapun membuat Eliza hanya bisa geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Gimana? Panas nggak bahannya? Atau merasa ribet?" tanya Jibril. Eliza berputar di depan cermin sebelum menjawab pertanyaan suaminya, ia memperhatikan dirinya sendiri yang terlihat tampak sangat berbeda dalam balutan gamis besar nan lebar ini.


"Nggak kok, nyaman," jawab Eliza akhirnya yang membuat Jibril tersenyum senang.


Jibril mendekati Eliza, ia menatap istrinya itu penuh cinta sembari menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Eliza karena tadi Eliza sempat membuka kerudungnya. Jibril teringat dengan mimpinya dulu, rasanya sekarang ia seolah melihat Eliza dalam mimpi itu atau di mimpi itu ia melihat Eliza yang sekarang. Entahlah, yang pasti Jibril merasa hidupnya begitu sempurna setelah memiliki Eliza sebagai istrinya.


"Kamu cantik banget, Sayang, aku sampai nggak bisa mengalihkan pandanganku pada yang lain. Kamu seperti fenomena alam dalam hidupku yang membuatku begitu takjub, sampai aku kehilangan kata-kata. Aku cuma bisa mengatakan satu hal untuk keindahanmu ini, Masyaallah."


Pipi Eliza terasa panas mendengar kata-kata Jibril yang begitu menggetarkan hati dan jiwanya, kakinya terasa lemas dan dia seperti akan pingsan.


"Ak—" ucapan Eliza terhenti saat tiba-tiba ada yang membuka pintu ruang ganti tersebut, dengan cepat Jibril memeluk Eliza di dadanya karena dia tidak tahu yang membuka pintu apakah perempuan atau laki-laki.


"Maaf, aku nggak tahu kalau ada orang," kata orang tersebut yang ternyata seorang perempuan.


Namun, Eliza mengenali suara perempuan itu.

__ADS_1


"Shalwa?"


__ADS_2