Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bonchap 1 - Drama Ala Eliza


__ADS_3

"Eliza?"


"Sayang?" Jibril mengguncang pundak sang istri yang saat ini masih terlelap padahal matahari sudah tinggi.


"Ayo bangun, katanya pagi ini mau udang bakar. Aku sudah belikan," bisiknya dengan lembut.


Sang istri hanya menggeliat malas, ia menarik guling dan memeluknya dengan erat. Hal seperti ini sudah sering terjadi, Jibril sendiri terkadang merasa heran karena Eliza sedikit bebal saat dibangunkan. "Elizabeth, ayo bangun, Sayang. Aku harus pergi ke kantor setelah ini," ujar Jibril sedikit kesal yang membuat Eliza langsung bangun dari tidurnya.


Tiba-tiba mata wanita itu sudah berkaca-kaca, bahkan bibirnya bergetar dan hidungnya sudah kembang kempis. "Kenapa lagi?" tanya Jibril.


"Kamu capek ya ngurus aku?" Tentu saja Jibril melongo mendengar tudingan sang istri. "Jadi benar dong kata orang, suami itu nggak betah ngurus istrinya kalau lagi hamil muda, karena istrinya pasti manja dan merepotkan," tukas Eliza lagi sambil menyingkap selimutnya.


"Seharusnya jadi suami kamu itu harus sabar dong, Sayang, aku hamil juga karena kamu yang hamilin." Eliza terus menggerutu sambil menarik Jibril agar beranjak dari ranjang, setelah itu merapikan ranjangnya. Ini adalah suatu kemajuan dalam pernikahan mereka, meskipun Eliza mengaku dia lelah ketika harus bersih-bersih kamarnya, akan tetapi dia tetap membersihkan ranjangnya setiap hari.


Kini Jibril sudah punya pembantu rumah tangga yang bekerja 24 jam, membersihkan rumah dan memasak untuk mereka.


"Istriku, bukan begitu maksud aku," ucap Jibril dengan lembut. Ia memeluk Eliza yang saat ini sedang merapikan selimutnya. "Ya udah, aku minta maaf karena sudah mengganggu tidur kamu." lanjutnya mengalah, seperti biasa.


"Aku tuh ngantuk, lemas, wanita kalau lagi hamil muda bawaannya memang begini. Kalau kamu nggak percaya, tanya aja sama Aira, Ummi, dan Mommy," tukas Elizabeth cemberut.


"Iya, aku percaya," kekeh Jibril.


Jibril menyentuh tangan Eliza yang masing memegang selimut, kemudian ia pun merapikan selimut itu mengikuti pergerakan Eliza. Bahkan, sesekali Jibril mencium sang istri yang membuat Eliza langsung merona. Sejak hamil, dia bukan hanya sensitif dalam emosi, tapi juga dalam setiap sentuhan.

__ADS_1


Setelah memastikan seluruh ranjangnya rapi dan bersih, Eliza bergegas mencuci wajahnya. "Sayang?" Tiba-tiba Eliza berteriak yang membuat Jibril langsung berlari ke kamar mandi.


"Ada apa?" tanya Jibril dengan panik.


"Sayang, kayaknya hari ini aku malas nyuci deh." Jibril langsung membuang napas kasar mendengar apa yang dikatakan oleh sang istri, padahal tadi dia sudah panik karena Eliza berteriak di kamar mandi.


Jibril melirik keranjang baju kotor yang sebenarnya hanya berisi pakaian dalam mereka, baik Jibril mau pun Eliza memang tak membiarkan orang lain mencuci pakaian dalam mereka sejak dulu.


"Ya udah, biar nanti aku yang cuci," kata Jibril yang hanya di tanggapi gumaman oleh Eliza.


Namun, setelah Jibril pergi, wanita itu merasa gemas sendiri melihat pakaian dalam mereka yang tak dicuci sejak kemarin. Ia pun membawa barang-barang itu ke tempat cucian, ternyata sudah ada Bibi yang juga sedang mencuci di sana.


"Bi, permisi dulu, ya. Aku mau nyuci," kata Eliza.


Ia segera memasukan semua pakaian itu ke dalam mesin cuci, setelah semuanya selesai, Eliza juga menjemurnya sendiri.


Sementara itu, Jibril berdecak kesal karena Eliza tak kunjung datang ke meja makan. Ia menyusul sang istri ke kamar, tapi dia tak ada di sana. Saat Jibril keluar kamar, wanita itu sudah muncul. "Ya Allah, Sayang, kamu dari mana sih?"


"Habis nyuci," jawab Eliza santai.


"Loh, katanya malas," sahut Jibril.


"Gemas aku kalau liat cucian numpuk, bikin sakit kepala," ujar Eliza yang membuat Jibril menggeram tertahan, mau sarapan saja drama Eliza berputar panjang begini. Dan ini bukan pertama kalinya, seharusnya Jibril sudah terbiasa dengan drama wanita dalam rumah tangga, tapi entah kenapa pria itu masih suka gemas.

__ADS_1


Akhirnya, kini mereka sudah duduk di meja makan, sudah ada udang bakar yang Eliza mau. Namun, tiba-tiba Eliza merasa mual saat melihat udang itu. Ia langsung berlari ke dapur dan memuntahakan cairan bening di wastafel.


"Sayang?" Jibril tampak sangat cemas melihat sang istri yang selalu seperti ini beberapa hari terkahir, Jibril memijat tengkuk Eliza.


"Udangnya amis, ih, bau," keluh Eliza meringis yang membuat Jibril juga meringis.


Demi udang bakar ini, Jibril harus mengganggu Arsyad subuh-subuh, dan Arsyad pun harus meminta kokinya ke restaurant juga subuh-subuh demi iparnya yang sedang mengidam ini.


"Nggak amis, Sayang, enak kok. Makan dikit aja, ya?" bujuk Jibril.


"Nggak mau, aku mau makan yang lain," rengek Eliza. "Aku mau sup hangat aja."


"Terus udangnya?"


"Buang aja, jangan-jangan udangnya nggak bersih yang dicuci."


"Astagfirullah, nggak, Sayang, itu udang yang biasa kita makan, aku pesan dari restaurant Arsyad."


"Ya pokoknya pagi ini aku mau sup."


"Ya udah, biar Bibi masakin sup, sekarang aku harus ke kantor."


"Jangan, pijetin kepalaku, aku sakit kepala."

__ADS_1


__ADS_2