
Seluruh keluarga Shalwa sudah menentukan tanggal pernikahan untuk Farid dan Shalwa, mereka tak ingin lagi menunda-nunda hal baik ini apalagi kedua mempelai sudah membuat keputusan yang pasti.
Farid pun sangat bersemangat untuk pernikahannya ini, satu-satunya yang membuat ia tak semangat karena bosnya ternyata tak bisa hadir.
Kebahagiaan Shalwa saat akan di nikahkan dengan Farid memang tak sebesar kebahagiaannya saat ia di jodohkan dengan Jibril. Namun, Shalwa merasakan perasaan nyaman dan tenang setiap kali ia bersama Farid.
Shalwa berjanji pada dirinya sendiri, ia akan menjadi istri yang baik untuk sang suami kelak. Ia juga akan menyiapkan diri untuk menjadi ibu yang baik.
Selama ini Shalwa memang tak pernah lupa berdoa agar ia bisa menjadi makmum pria yang ia cintai, dan siapa sangka ternyata apa yang di kehendaki Tuhan jauh lebih baik dari yang ia harapkan. Shalwa akan menjadi makmaum dari pria yang mencintainya dengan tulus, apalagi yang di inginkan oleh seorang wanita selain di cintai dengan begitu tulus.
Setiap orang bermimpi menikah dengan orang yang di cintai. Namun, setup orang berkewajiban mencintai orang yang di nikahi. Itulah yang selalu Shalwa ingat dan akan ia terapkan.
Sementara di sisi lain, Jibril masih menjalani hidupnya seperti biasa. Ia menyibukan diri dengan pekerjaan, dengan beberapa kegiatan amal yang ia lakukan bersama kakak dan adiknya. Dan tentu Jibril juga meluangkan banyak waktu untuk ketiga keponakannya.
Tak jarang Jibril membawa Tanvir atau Livia pergi makan, berbelanja atau bermain. Hal itu sangat mampu mencairkan hati Jibril yang terkadang masih terasa perih setiap kali ia teringat dengan kasihnya yang tak sampai.
Jibril tak sanggup memperjuangkan cintanya, kini biarkan semesta yang mengambil alih kisahnya.
__ADS_1
Begitu juga dengan Eliza yang kini sudah mendarat di London bersama Darrel. Takut, cemas, tapi juga semangat, semuanya di rasakan oleh Eliza yang selama ini benar-benar hanya hidup membuka mata dan menutup mata tanpa tahu tujuan dan arti hidup yang dia jalani.
Darrel dan Eliza naik taksi menuju apartement, mereka sudah sangat kelelahan dan ingin istirahat. Namun, di tengah jalan tiba-tiba Eliza meminta sopir taksi memutar arah dan memintanya membawa Eliza ke gedung dimana cerita pahit Eliza di mulai.
"Kamu gila, El? Mau ngapain kesana?" pekik Darrel yang tak habis fikir dengan apa yang ada dalam benak Eliza. Trauma itu membuat Eliza takut pergi ke London, takut bertemu orang baru. Dan kini gadis itu justru ingin pergi ke gedung tempat kejadian mengerikan itu?
"Cuma mau tahu aja, apa yang akan terjadi jika aku ke sana," jawab Eliza dengan mata yang berkaca-kaca.
Bukannya Eliza berani, ia masih sangat takut dan jiwanya pun seolah masih memberontak. Kenangan masa lalu bekelebat dalam benaknya seperti mimpi buruk yang takkan membiarkan tidurnya tenang.
Namun, Eliza sudah menguatkan tekad untuk merubah hidupnya. Dia ingin memulai hidup yang baru, dan ia tahu garis untuk memulai hidup itu adalah garis dimana hidupnya berubah.
"Mau di bangun?" tanya Eliza sambil menoleh pada sang kakak.
"Iya, kata temanku gedung itu mau di bangun jadi hotel. Pembangunannya sudah mau selesai," jawab Darrel enggan. Gedung itu bukan hanya meninggalkan trauma yang mendalam untuk Eliza, tapi juga untuk keluarganya. Apalagi Eliza di temukan dalam keadaan yang sangat mengenaskan di gedung itu.
Eliza terdiam sejenak sementar taksi masih terus melaju menuju gedung itu. "Kita putar balik ya, El? Kamu juga pasti capek, kan? Kamu harus istirahat nanti kamu sakit," desak Darrel.
__ADS_1
"Nggak, kita ke sana," tegas Eliza tak mau di bantah. Darrel tampak kesal dengan keputusan Eliza. Namun, adiknya itu menggengam tangan Darrel dengan lembut kemudian berkata. "Jangan biarkan apapun menakutimu, apalagi hanya masa lalu. Ini hanya masa lalu, Darrel. Waktu itu aku masih kecil, aku masih lemah. Tapi sekarang aku sudah dewasa dan kuat, kamu juga pasti lebih kuat, kan?"
Darrel tertegun mendengar ucapan sang adik, ia hanya bisa menatap Eliza dengan nanar. "Bukannya itu prinsip kalian semua? Jangan biarkan apapun menakuti kita." ulang Eliza penuh penekanan.
Darrel membalas genggaman tangan Eliza, sambil tersenyum ia berkata, "Okay, kita pergi kesana."
Elizabeth semakin memiliki kekuatan untuk melawan rasa takutnya, selama dalam perjalanan, ia memperhatikan jalan di sekitarnya yang masih tak berubah.
Elzara mengenang masa kecilnya yang dulu sangat indah dan tanpa terasa itu membuatnya tersenyum. Sesamapainya di depan gedung yang mereka tuju, tiba-tiba Eliza kembali di hantam rasa takut. Tangannya sampai berkeringat dingin. Namun, Eliza mencoba tegar.
Ia dan Darrel pun mendekati gedung itu dan masuk ke dalamnya. Eliza kembali mengingat kekejam dua pria yang telah merenggut warna hidupnya itu, ia menitikan air mata tapi Eliza segera menyeka nya.
"Darrel?" panggil Eliza dengan lirih.
"Mau pulang?" tanya Darrel dengan lembut.
"Boleh aku berinvestasi di hotel ini atas namaku?"
__ADS_1
"Apa?"