Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #33 - Cinta Itu Tanpa Syarat, Tapi...


__ADS_3

Tatapan Eliza tiba-tiba berubah menjadi sendu sementara jantung Jibril berdetak lebih cepat mendengar pengakuan Eliza. "Aku mencintaimu, Jibril. Sangat mencintaimu karena kamu membuatku merasakan sesuatu yang tak pernah aku rasakan selama ini."


"Sebenarnya aku juga mencintaimu, Elizabeth."


Tanpa berfikir panjang, Jibril pun mengungkapkan cinta pada wanita yang telah merebut hatinya itu. Hal itu membuat Eliza begitu terharu hingga ia menitikan air matanya. "Dan saat aku jatuh cinta padamu, aku ingin menikahimu, menjadikanmu ratu dalam hidupku." lanjut Jibril dengan suara yang begitu rendah.


Tatapannya sayu dan nada bicaranya terdengar begitu lembut, membuat hati Eliza semakin bergetar.


"Aku pun menginginkan hal yang sama, hanya saja aku takut dengan perbedaan kita," lirih Eliza sejujurnya. "Tapi, bisakah kau tetap menyatukan cinta ini, Jibril? Bukankah cinta itu anugerah?"


"Benar, Eliza. Cinta itu anugerah, kita tidak memerlukan syarat apapun dan dari siapapun untuk mencintai. Hanya saja ... kita punya satu syarat untuk menjadikan seseorang pasangan kita, yaitu iman yang sama." Jibril berkata dengan suara tercekat di tenggorokannya.


Saat insan yang lain pasti akan bahagia saat cinta yang mereka rasakan bersambut. Namun, beda halnya dengan Eliza dan Jibril yang harus bersedih karena cinta mereka mungkin akan melawan restu dari semesta.


"Aku tahu," lirih Eliza tertunduk sedih. Jibril pun tak bisa menyembunyikan kesedihan di matanya yang terpancar dengan jelas. Rasanya, baru kali ini ia benar-benar merasakan sesak di dadanya, seperti terhimpit batu yang begitu basar. "Kalau begitu, kenapa kamu tidak menikahi Shalwa saja? Dia sangat cocok untuk kamu, Jibril."


Jibril terbelalak mendengar pernyataan Eliza, ia fikir Eliza belum tahu tentang masa lalunya bersama Shalwa." Aku udah tahu bahwa Shalwa adalah calon mantan istrimu, "kekeh Eliza dengan hambar sembari menyeka air matanya.

__ADS_1


Bertambah satu hal lagi yang membuat hatinya sakit karena cinta itu.


"Aku nggak bisa menikahi seorang wanita sementara hatiku mencintai wanita lain, Eliza," tukas Jibril penuh penekanan.


Tiba-tiba Eliza menangis sesegukan yang membuat Jibril menghela napas lesu, ia pun kembali mengambilkan tissue dan berkata, "Hapus air mata, Eliza. Jangan menangis, aku mohon!" Jibril memohon sepenuh hati, ia tak sanggup setiap kali melihat wanita itu menitikan air matanya. Jibril seolah ingin memeluk dan menenangkannya sementara ia tak bisa melakukan hal itu sekarang.


"Tapi aku sedih," lirih Eliza pilu.


"Aku tahu," lirih Jibril karena ia pun merasakan hal yang sama. "Eliza, menikah lah denganku tapi ..."


"No," jawab Eliza dengan cepat sambil menggeleng yang membuat hati Jibril semakin sakit. Rasanya lebih baik cintanya di tolak karena bertepuk sebelah tangan dari pada cintanya bersambut tapi harus kembali di hempaskan. "Bisakah syarat itu kita singirkan saja?" Eliza menatap Jibril dengan sendu.


Untuk pertama kalinya, Jibril pun menitikan air mata. Siapa yang sangka ternyata kasih yang tak sampai bisa begitu menyakitkan.


"Lalu untuk apa cinta itu ada, Jibril?" desis Eliza.


"Mungkin hanya untuk di rasakan," jawab Jibril yang membuat Eliza kembali tertawa sumbang. "Aku mohon jangan bersedih, Elizabeth. Please ..." Jibril memohon dengan suara yang begitu lembut nan rendah justru membuat Eliza semakin sedih karena permohonan itu menandakan cinta Jibril yang besar untuknya.

__ADS_1


"Kamu sangat mencintaiku, hm?" lirih Eliza yang hanya di balas anggukan oleh Jibril. Ia mengucek matanya dan berusaha menyembunyikan air mata yang sudah mengintip di pelupuk matanya. "Kamu juga nangis?" tanya Eliza dengan nada setengah merengek.


"Iya, rasanya dadaku sesak," jawab Jibril sejujurnya. Eliza pun juga mengambilkan tissue dan menyerahkannya pada pria itu.


"Apalagi aku," gumam Eliza sembari menghapus air mata Jibril dengan tissue yang ia pegang. Jibril termangu dengan apa yang di lakukan wanita itu. "Kamu juga jangan menangis, aku kaget liat kamu nangis gini," ungkap Eliza yang justru membuat Jibril terkekeh.


Wanita ini selalu punya sejuta pesona untuk menghangatkan hatinya dan mengembalikan perasaan cerianya.


"Eliza, aku ingin membawamu menemui keluargaku. Aku ingin memperkenalkanmu pada mereka," tukas Jibril yang membuat Eliza tent saja terkejut.


Hubungan mereka saat ini sungguh abu-abu dan seolah masih berada di antara langit dan bumi. Tidak naik dan juga tidak turun. Keduanya tidak meng-klaim kepemilikan satu sama lain. Namun, cinta yang terpaut dalam hati dan terucap dari bibir jelas menandakan keduanya ingin saling memiliki.


Jibril sadar dirinya begitu naif. Namun, sekali saja ia tak ingin menolak apa yang ia rasakan. Sekali saja ia ingin membiarkan rasanya mengambil alih. Entah apakah ini benar atau salah, Jibril akan melihatnya nanti.


Anggaplah itu memang gila, tapi bukankah definisi cinta itu memang gila?


"Kalau begitu aku juga mau membawamu menemui keluargaku, Jibril. Kamu mau?" tanya Eliza yang langsung di jawab anggukan oleh Jibril.

__ADS_1


Eliza tersenyum samar, begitu juga dengan Jibril. Untuk sejenak, kedua insan itu ingin menikmati perasaan cinta yang mereka rasakan dengan harapan suatu hari nanti keduanya akan menemukan satu titik untuk menyatukan cinta mereka. Menjadikan teman hidup yang akan melangkah bersama selamanya.


...🦋...


__ADS_2