
Setelah mengantar Nenek pulang, Farid langsung melajukan mobilnya menuju kantor dengan semangat. Hari ini ia sangat bahagia karena Shalwa menerima pinangannya, Farid tak mau perduli apa kata orang atau tetangga mereka nanti. Farid hanya perduli dengan kebahagiaannya dan kebahagiaan Shalwa.
Dan sesampainya disana, Farid langsung menemui sang bos besar yang sudah menunggunya. "Maaf, Pak Darrel, saya terlambat. Tadi saya masih mengantar tunangan saya ke Bandara," ujar Farid sembari mendaratkan bokongnya di kursi yang ada di depan Darrel.
"Tidak apa-apa, Farid. Aku juga baru sampai," ucap Darrel. "Jadi begini, Farid. Dua minggu lagi aku akan ke London, aku ingin kamu bekerja lebih baik dari sebelumnya. Sebagai direktur utama perusahaan ini kamu memikul tanggung jawab yang sangat besar, selain itu aku sangat percaya padamu, Farid. Jadi pastikan perusahaan berjalan dengan baik."
"Baik, Pak. Saya janji akan menjalankann amanah ini dengan baik," Jawab Farid dengan yakin. "Tapi kenapa tiba-tiba, Pak? Apa ada masalah?"
"Nggak ada, aku cuma mau membawa adikku ke London. Sedangkan Daddy dan Mommy sangat sibuk jadi nggak bisa menemani Eliza ke London." Farid mengangguk mengerti dengan apa yang di sampaikan oleh atasannya itu.
Sementara Darrel sengaja berbicara berdua saja dengan Farid karena ia sangat mempercayai Farid, selain itu mereka sudah dekat layaknya teman. Darrel menyaksikan perjuangan Farid dari yang awalnya hanya karyawan biasa yang sangat cerdas, berprestasi, jujur dan sangat konsisten dalam bekerja hingga akhirnya semua itu mengantarkan Farid pada kursi direktur.
Darrel tak punya alasan untuk meragukan kinerja Farid.
"Oh, ya. Kapan pernikahanmu? Sepertinya aku nggak bisa hadir," ujar Darrel lagi.
"Tanggalnya masih belum di tentukan, Pak. Tapi saya harap Pak Darrel dan Bu Eliza bisa datang di pernikahan kami nanti," ujar Farid penuh harap. Tentu ia sangat ingin pernikahannya di hadiri oleh orang yang berjasa dalam karirnya hingga sampai di titik ini.
"Semoga saja bisa, Farid."
Sementara di sisi lain, Eliza mengeluarkan beberapa pakaian dari dalam lemarinya. Memisah yang sudah tidak di pakai atau yang belum pernah di pakai sama sekali. Eliza memasukan semua pakaiannya itu ke dalam tas setelah itu Eliza memanggil securitynya untuk membawa barang-barang itu ke dalam mobil.
"Memangnya mau kemana, Non? Kok berat banget tas ini, apa isinya?" tanya Pak Satpam penasaran.
"Baju yang nggak pernah aku pakai, Pak. Mau aku sumbangkan," jawab Eliza.
"Apa karena Non Eliza mau ke London? Memangnya nggak mau pulang lagi ke Indonesia, Non?" tanya Pak Satpam yang membuat Eliza terkekeh.
__ADS_1
"Kenapa? takut kangen sama aku?" gurau Eliza yang membuat satpamnya itu ikut terkekeh sekaligus bingung, jarang sekali Eliza bercanda seperti ini padanya. Namun, beberapa hari ini Eliza lebih sering bercanda.
"Bukan begitu sih, Non. Cuma saya khawatir, katanya London itu di luar negeri, Non. Banyak orang asing, bahaya kalau Non Eliza tinggal sendirian di sana," ujar pak Satpam yang memang mengkhawatirkan Nona mudanya itu. Apalagi selama ini sedikit banyak ia tahu tentang trauma Eliza. Namun, entah mengapa tiba-tiba Eliza justru mau pergi ke London.
"Aku sudah dewasa dan bisa jaga diri, Pak. Selain itu, nggak semua orang asing itu jahat kok. Kalau orang asing itu jahat, mungkin kita semua sudah saling membunuh. Terus nggak akan ada yang nemanya pertemanan atau rekan kerja," jawab Eliza panjang lebar yang membuat Pak Satpam langsung tersenyum sumringah.
Sementara Eliza mengikuti apa yang pernah di katakan Jibril padanya dan kini hal itu menjadi pegangannya untuk melawan trauma yang ia selalu menghantuinya.
"Wah, Non Eliza makin pintar," seru Pak Satpam yang langsung membuat Eliza tertawa. Setelah itu ia pun segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya menuju salah satu panti asuhan tempat keluarnyanya selalu memberikan sumbangan setiap bulannya. Masih ada banyak gadis remaja yang tinggal di panti asuhan itu sehingga pakaian Eliza pun pasti akan cocok untuk mereka.
Eliza mungkin kini terlihat berbeda, lebih ceria dari sebelumnya, karena itu lah cara dia menghibur diri dan mengalihkan patah hatinya. Bahkan, Eliza kehilangan beberapa kilogram berat badannya karena ia benar-benar tak selera makan.
Setelah berfikir cukup lama, merenungi kembali jalan hidupnya yang selama ini hanya tidur, makan, main Kemudian tidur lagi, akhirnya Eliza memutuskan kembali ke London. Ia ingin kembali ke tempat dimana ia kehilangan warna dalam hidupnya, tempat yang menorehkan luka mendalam untuknya juga untuk keluarganya.
Sekarang Eliza ingin memperbaiki semuanya dan ia yakin hal pertama yang harus ia lakukan adalah melawan traumanya sendiri.
Jibril menyibukan diri dengan semua pekerjaannya untuk mengalihkan segala perhatiannya dari Eliza yang masih bersemayam dalam benaknya.
Hal itu cukup berhasil, hingga tiba-tiba ia kedatangan Micheal yang membuat suasana hatinya menjadi sedikit lebih baik. "Aku bersyukur kamu ngga menusuk perut kamu seperti romeo," gurau Micheal yang membuat Jibril terkekeh.
"Nggak lah, akal sehatku masih jalan," sanggah Jibril.
"Oh ya? Hp sampai jadi korban begitu apa akal sehatmu benar-benar masih jalan?" pekik Micheal. Micheal cukup terkejut saat mendengar pengaduan sang ibu tentang adiknya yang menjadi konyol karena patah hati. Walaupun sebenarnya Micheal sangat mengerti bagaimana sulitnya melupakan seseorang yang di cintai, apalagi ketika ia tak bisa memilikinya karena suatu hal.
Rasa sakit itu benar-benar berlipat ganda bahkan tak sedikit yang melampiaskan rasa sakit itu pada suatu hal yang tak masuk akal, seperti apa yang di lakukan oleh Michael dulu.
"Aku fikir itu jalan terbaik, dari pada aku nggak tahan dan menghubungi dia," jawab Jibril sejujurnya.
__ADS_1
"Kan bisa di blokir kontaknya, Jibril Emerson."
"Aku nggak tega," sahut Jibril.
"Ya kamu ganti sim card kalau gitu," balas Micheal.
"Contact dia masih tersimpan di telepon," jawab Jibril lagi yang membuat Micheal tak bisa lagi berkata-kata.
Pria itu pun hanya bisa mengetuk-ngetukan jarinya di meja Jibril sementara Jibril masih fokus pada laptop dan tumpukan berkas di depannya.
"Okay, gimana kalau kita pergi makan siang sekarang?" tanya Micheal kemudian. Jibril melirik arlojinya, memang sudah jam setengah 1.
"Iya," sahut Jibril akhirnya.
Micheal pun merangkul adiknya itu layaknya teman, tak hanya itu, Micheal juga memukul pinggang Jibril saat adiknya itu hanya berjalan layaknya robot dengan wajah dinginnya.
"Apa sih, Ka?" tegur Jibril.
"Sabar, ikhlas. Biasanya kalau kita ikhlas melepaskan sesuatu, kita akan mendapatkan pengganti yang lebih baik atau sesuatu itu akan di kembalikan dalam versi yang lebih baik," ujar Michael yang membuat Jibril terkekeh.
"Iya, faham kok," sahut Jibril.
Kedua pria itu pun pergi bersama dengan mengendari mobil Micheal. Dan mereka berhenti di salah satu masjid untuk melaksanakan sholat Dzuhur sebelum mereka pergi ke restaurant.
Setelah sholat, Jibril keluar lebih dulu dari masjid sementara Micheal bertemu dengan salah satu temannya dan masih sedikit berbincang. Jibril menunggu Micheal di mobil dan tanpa sengaja Jibril melihat Eliza di seberang jalan sedang membagi-bagikan sesuatu pada anak jalanan. Di sisi Eliza ada seorang pria yang berpakaian seragam dari perusahaan taksi. Jibril sedikit mengernyit karena Eliza pernah mengatakan ia takut pada sopir taksi.
Jibril segera mengalihkan pandangannya, apalagi kedua matanya kini kembali berkaca-kaca.
__ADS_1
"Please, ya Allah. Jangan lagi, jangan pertemukan kami lagi dalam keadaan yang seperti ini."