Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #41 - Keputusan Akhir?


__ADS_3

Aira masuk ke ruangan Jibril tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dan hal itu cukup membuat kakaknya itu terkejut apalagi Aira datang sendiri. "Ada apa, Ai?" tanya Jibril yang masih fokus pada pekerjaannya.


"Nggak, tadi cuma kebetulan lewat sini," jawab Aira mendekati sang kakak. "Kata Ummi, Kak Jibril udah berangkat pagi-pagi banget, tapi kata Mbak Erma, Kak Jibril baru sampai. Kaka masih menemui Eliza?" Jari-jemari Jibril yang tadinya sibuk menari di atas keyboard langsung terhenti saat ia di todong dengan pertanyaan yang bahkan tak terbersit dalam benak Jibril.


Ia mengangkat wajahnya, menatap Aira yang kini berdiri di depan mejanya. "Aku ketiduran tadi di jalan," jawab Jibril kemudian dengan dingin.


"Oh, begitu," gumam Aira kemudian ia menarik kursi dan duduk di depan sang kakak. "Ummi khawatir, Kak."


"Memangnya aku ngapain?" tanya Jibril bingung.


"Ya karena kakak menghindar dari Abi dan Ummi, mereka kefikiran," seru Aira penuh penekanan. "Kakak jangan salah faham sama kami semua, bukan maksud kami nggak menghagrgai perasaan kaka. Kami cuma mau menjaga-"


"Memangnya apa yang aku lakukan sampai aku perlu di jaga?" Jibril memotong kata-kata Aira yang kembali memancing emosi Jibril. "Kasih aku sedikit waktu dong, Ai." lanjut Jibril.


"Aku cuma mau mengingatkan Kaka, Ummi kan selalu bilang supaya Kita saling mengingatkan," balas Aira.


"Kamu mengingatkan atau menyudutkan?" sergah Jibril, ia menatap Aira dengan tajam. Aira sudah membuka mulut hendak menjawab kakaknya itu. Namun, ia kembali menutup mulutnya saat ia tak tahu harus mengatakan apa.

__ADS_1


"Kasih aku sedikit waktu untuk bernafas, Aira! Sedikit saja!" seru Jibril kemudian. "Aku sudah meninggalkan pesan pada pelayan hotel supaya memberi tahu Abi dan Ummi kalau aku sudah ke kantor jika memang mereka mencariku," tukas Jibril kemudian.


"Kamu itu lebih pengalaman dalam hubungan seperti ini, apa kamu mudah melupakan orang yang kamu cintai, hm? Gampang?" hati Aira mencolos mendengar pertanyaan Jibril itu. "Susah, kan? Kamu butuh waktu, kamu butuh ruang, aku juga sama, Aira!" Aira menatap nanar kakaknya yang saat ini tampak sangat berbeda.


"Aku juga kecewa sama kamu yang memberi tahu Ummi dan Abi tentang Eliza mendahului aku, aku sudah bilang aku akan memberi tahu mereka aku bahkan ingin memperkenalkan Eliza dengan mereka. Kamu tahu kenapa? Karena aku akan meminta pendapat mereka tentang Eliza, Aira. Tapi kamu mendahului aku, berbicara seolah aku dan Eliza menjalin hubungan resmi dan kami harus segera di pisahkan secara paksa! Kami tahu batasan kami, kami hanya butuh sedikit saja waktu untuk beradaptasi dengan keadaan kami tapi kamu terlalu cepat menghakimi kami."


"Aku cuma khawatir, Kak Jibril," sanggah Aira. "Aku cuma nggak mau nanti Kaka larut dalam perasaan kakak dan melupakan fakta-fakta yang ada di sekitar kakak. Bagaimana kalau Kaka terjerumus pada nafsu Kaka karena mencintai Eliza? Kasian Abi dan Ummi, Kak," lirih Aira di akhir kalimat yang justru membuat Jibril tersenyum kecut


"Khawatir bukan begini caranya," sanggah Jibril lagi. "Kamu fikir aku mengabaikan nasehat kamu selama ini? Aku juga memikirkannya, Ai. Kalau aku memang aku nggak perduli dengan fakta yang ada, perbedaan yang ada, aku sudah menjalin hubungan dengan Eliza setelah pernikahanku batal dengan Shalwa. Atau mungkin aku sudah mengumbar kata-kata cinta sama dia. Tapi kamu tahu kapan aku berani mengungkapkan perasaan itu? Baru dua hari yang lalu, Ai. Itu pun setelah sekian lama aku memendamnya dan berusaha melupakannya. Aku dan Eliza hanya sama-sama mengakui cinta kami, terus kamu fikir setelah itu kami pacaran dan merencanakan pernikahan? hm? Nggak, Aira!"


Aira terdiam seribu kata mendengar ungkapan panjang lebar Jibril. Aira bahkan merasa ini pertama kalinya sang kakak mengungkapkan perasaannya dengan menggebu-gebu, penuh emosi, penekanan, begitu berbeda dari Jibril yang biasanya.


"Dan pagi ini tiba-tiba kamu datang, bertanya apakah aku masih menemui Eliza. Apakah benar-benar serendah itu aku di mata kamu hanya karena aku mencintai seorang wanita? Hm? Aku sudah janji sama Ummi akan berhenti menemui Eliza maka itu yang akan lakukan. Sekarang kalian puas?"


***


Eliza menatap foto masa kecilnya saat ia masih berada di London, ia tersenyum saat mengingat betapa bahagianya saat dia pindah ke sana. Namun, kebahagiaan itu harus terenggut karena sebuah tragdi mengeaskan dan sampai detik ini Eliza tak berani berfikir akan kembali ke kota indah tapi ada kenangan buruk di dalamnya itu.

__ADS_1


Eliza menghela napas berat, meletakkan kembali foto itu ke dalam laci setelah itu ia melemparkan tubuhnya ke ranjang. Eliza memejamkan mata tiba-tiba ia teringat bagaimana Jibril menitikan air matanya kemarin, seketika Eliza membuka matanya lebar-lebar.


Eliza menghela napas berat, ia mengambil ponselnya dan mencari contact Jibril. Rasanya ingin sekali menghubungi pria itu, bertanya apakah dia baik-baik saja? Eliza tidak tahan rasanya mengingat raut wajah sedih Jibril dan semua itu di sebabkan karenanya. Walaupun baru sekali bertemu dengan orang tua Jibril, Eliza bisa merasakan betapa besarnya cinta Jibril untuk ibunya begitu juga sebaliknya.


Elizabeth kembali mengulang ingatannya pada masa lalu, mungkin akan lebih baik jika ia tak pernah bertemu dengan Jibril. Mungkin sekarang Jibril dan Shalwa sudah bahagia menjadi suami istri dan Eliza masih pada kehidupan yang sama seperti dulu.


"Tuhan, kenapa takdirmu penuh misteri seperti ini? Apa salahku dalam mencintainya? Dosa apa yang sudah kami lakukan sampai kami harus mengalami rasa sakit ini?"


Eliza mengusap wajahnya dengan kasar, ia juga mengingat bagaimana kemarahan keluarganya pada dirinya. Sekarang, ia benar-benar telah menyakiti dan mengecewakan semua orang.


Eliza segera turun dari kamarnya, ia bergegas ke kamar ibunya dan ia mendapati sang ibu yang menangis sambil memeluk fotonya. Hati Eliza terenyuh, ia pun berjalan pelan mendekati sang ibu dan memeluknya dengan lembut.


Nyonya Jill terperanjat. Namun, tangisnya semakin menjadi saat ia tahu Eliza yang memeluknya. "I'am sorry, Mom," lirih Eliza.


Sang ibu langsung menoleh, ia menatap putrinya itu dengan sendu kemudian berkata, "Mom akan memberikan apapun yang kamu mau, Sayang. Asal kamu bahagia, tapi tidak yang satu ini."


"Aku tahu," tandas Eliza dengan cepat. "I'm sorry, aku akan berusaha melupakannya, aku janji."

__ADS_1


__ADS_2