
Halalkan atau tinggalkan? Dua pilihan yang sama-sama sulit bagi Jibril, bagaimana cara dia menghalalkan wanita yang ia cintai sementara Tuhan sendiri takkan merestui itu. Maka, Jibril hanya punya satu jalan terakhir. Lupakan!
Jibril harus bisa melupakan Eliza bagaimana pun caranya!
Setelah menemui kakeknya pagi-pagi, Jibril pun segera berangkat ke kantor karena hari sudah siang. Namun, saat di tengah jalan ia justru melihat mobil Eliza yang terparkir di pinggir jalan.
Jibril menekuk keningnya, bingung dengan apa yang sebenarnya di lakukan Eliza disana. Dan apakah gadis itu sudah boleh membawa mobil? Apa keadaannya sudah baik-baik saja?
Jibril berdecak kesal, ia tak boleh terlalu memikirkan Eliza lagi. Jibril pun menambah kecepatan mobilnya hingga melewati mobil Eliza. Namun, hatinya tak ingin pergi begitu saja. Bagaimana kalau ternyata terjadi sesuatu dengan gadis itu seperti waktu itu?
Setelah pergelokan batin yang cukup berat, akhirnya Jibril memutar kembali mobilnya, ia kalah pada perasaannya.
Jibril menghampiri mobil Eliza yang masih terparkir di tempatnya. Jibril keluar dari mobil kemudian ia mengetuk pintu mobil Eliza.
Sementara di dalam, Eliza yang tiba-tiba mendengar ketukan di pintu mobilnya sangat terkejut. Tangannya gemetar dan badannya panas dingin hingga ia menyadari yang ada di luar mobilnya adalah Jibril.
Seketika Eliza menghela napas lega, ia pun langsung membuka pintu mobil. "Ada apa?" tanya Jibril dengan dahi mengkerut karena ia melihat raut wajah Eliza yang tampak pucat dan terlihat cemas.
"Ban mobilku kempes," jawab Eliza merengek. Tanpa berbicara, Jibril pun memeriksa ban mobil Eliza dan benar saja, salah satu ban mobilnya kempes.
__ADS_1
"Kenapa kamu nyetir sendiri? Kamu masih sakit, kan?" Jibril menatap kening Eliza yang masih di perban kecil.
"Aku udah baikan, lukanya udah kering," jawab Eliza sambil memegang kepalanya. "Aku tadi dari rumah Ruby karena Ruby lagi demam, pas aku pulang ... eh, ban mobilku bocor. Aku udah telfon Darrel, Darrel bilang tunggu sebentar lagi karena dia lagi meeting. Aku udah telfon papa, tapi papa juga sibuk. Mama juga sibuk, semuanya sibuk. Aku jadi bingung mau minta tolong siapa." papar Eliza panjang lebar tanpa jeda yang membuat Jibril justru terkekeh.
"Astagfirullah, Eliza. Kamu kan bisa suruh Darrel panggil orang buat bawa mobil kamu kemudian kamu bisa pulang naik taksi," ujar Jibril gemas.
"Aku nggak mau naik taksi, nanti aku di culik," tandas Eliza apa adanya tapi Jibril justru menganggap gadis itu sedang bergurau sehingga ia pun tertawa geli. Eliza yang di tertawakan seperti itu oleh Jibril tentu langsung terlihat kesal, ia cemberut dan melempar tatapan tajam pada Jibril hingga Jibril pun langsung bungkam saat menyadari itu.
"Aku serius," tukas Eliza kemudian. "Aku kan nggak kenal sama sopir taksinya, kalau nanti tiba-tiba aku di bawa ke suatu tempat terus aku di bunuh, gimana?" kedua alis Eliza menyatu saat mengeluhkan ketakutannya itu pada Jibril, membuat Jibril semakin gemas.
"Astagfirullah, jangan berburuk sangka pada orang lain, Eliza. Itu tidak baik," tegur Jibril mengingatkan.
"Kamu beneran takut naik taksi?" tanya Jibril untuk memastikan.
"Iya," ketus Eliza dengan pipi yang cemberut.
"Terus? Kapan Darrel akan datang?" tanya Jibril lagi.
"Mana aku tahu, mana aku lapar lagi, belum makan," rengek Eliza sambil memegang perutnya yang memang sudah keroncongan sejak tadi.
__ADS_1
Jibril terdiam sejenak memikirkan solusi dari masalah Eliza, kemudian ia melirik arlojinya dan menyadari Jibril sudah tak punya waktu karena sebentar lagi ia juga ada meeting.
"Aku panggilkan orang, ya? Kamu tunggu aja sebentar," kata Jibril tapi Eliza langsung menggeleng tegas, raut wajahnya seperti anak-anak yang takut di tinggal pergi oleh bapaknya. "Kenapa?" tanya Jibril heran.
"Aku kan nggak kenal sama orangnya, kalau ternyata nanti yang datang orang jahat, gimana? Aku juga nggak punya ban serep," rengek Eliza lagi yang memang sangat ketakutan jika harus berinteraksi dengan intens dengan orang asing.
"Nggak, Eliza. Aku kenal baik dengan orangnya, dia nggak akan jahatin kamu," tegas Jibril meyakinkan.
"Nggak ada jaminan dia nggak jahat, kan?" desak Eliza yang mulai tampak cemas dan itu membuat Jibril sedikit bingung. Tatapan mata Eliza tampak berbeda, bahkan ia bergerak gelisah di tempatnya seolah ia benar-benar takut. Membuat Jibril merasa kasihan dan ia pun mencemasan gadis ini.
"Okay, jadi kamu mau apa?" tanya Jibril kemudian dengan dengan lembut.
"Tungguin ...." Eliza kembali merengek yang membuat Jibril menghela napas berat.
"Okay, kamu ikut aku ke kantor karena sekarang aku ada meeting. Nanti aku akan mengantar kamu pulang," ujar Jibril kemudian yang membuat Eliza langsung tersenyum sumringah.
Jibril pun segera memanggil orang untuk membawa mobil Eliza dan mengganti bannya yang bocor, setelah itu Jibril membawa Eliza masuk ke dalam mobil.
"Ya Allah, bagaimana aku bisa melupakannya jika selalu saja ada alasan yang mempertemukan kami dan membuat kami dekat seperti ini?" gumam Jibril sambil melirik Eliza dari ekor matanya.
__ADS_1
...🦋...