Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #71 - Pacaran Setelah Menikah


__ADS_3

Eliza menatap sang suami yang saat ini tengah fokus bekerja, usia Jibril yang matang membuat auranya pun lebih matang dari sebelumnya. Itu benar, Jibril tak terlihat tuan melainkan terlihat matang dan berkharisma.


Saat ini mereka sedang ada di kantor Jibril, Eliza memaksa ikut karena ia tak punya pekerjaan hari ini. Lagi pula, pekerjaan Eliza memang ada di London.


Eliza sudah memikirkan masa depannya bersama sang suami, jika pekerjaan Jibril di Indonesia, maka tak mungkin Eliza mempertahankan pekerjaannya yang di London.


"Jibril?" panggil Eliza pada sang suami yang hanya di jawab gumaman.


"Boleh nggak kalau aku berhenti bekerja?" tanya Eliza yang membuat sang suami langsung mengernyitkan keningnya.


"Kenapa?" Jibril balik bertanya sambil berbalik badan, menatap sang istri yang saat ini duduk bersila di sofa.


"Soalnya aku nggak mau pisah-pisah dari kamu, pekerjaanku kan di London, sedangkan pekerjaan kamu di sini." Jibril terdiam sejenak memikirkan apa yang dikatakan Eliza, itu memang ada benarnya, fikir Jibril.


"Kamu masih ingin berkarir nggak?" tanya Jibril lagi, ia tak ingin meminta Eliza berhenti berkarir hanya karena dirinya.


"Sebenarnya ..." Eliza menghampiri Jibril dan tiba-tiba duduk di pangkuan sang suami yang membuat Jibril terkejut. Namun, seketika Jibril membalas perbuatan Eliza dengan menarik pinggangnya hingga kini keduanya semakin dekat.


Eliza merona, apalagi wajah keduanya kini begitu dekat hingga membuat Eliza bisa merasakan napas hangat Jibril menerpa wajahnya. "Sebenarnya apa, Sayang?" tanya Jibril dengan suara yang sedikit serak.

__ADS_1


"Sebentar, kayanya aku mau duduk di kursi aja deh," ucap Eliza sembari menggeliat, mencoba turun dari pangkuan Jibril. Namun, tentu saja Jibril tak membiarkannya. Ia justru semakin menarik pinggang Eliza sambil mengedipkan matanya, membuat wajah Eliza semakin merah merona.


"Sebenarnya apa?" tanya Jibril lagi. Bukannya menjawab, Eliza hanya berdeham beberapa kali guna menetralkan perasaannya yang bergemuruh.


"Aku lupa mau ngomong apa," ujar Eliza dengan sejujurnya yang seketika membuat Jibril tertawa.


"Kok bisa lupa? Baru beberapa detik yang lalu kamu mau ngomong," tukas Jibril.


"Soalnya kamu bikin aku gugup," jawab Eliza yang kembali membuat Jibril tertawa.


"Kenapa gugup?" tanya Jibril menggoda.


"Posisi begini terlalu dekat." Jibril langsung tertawa mendengar jawaban Eliza yang selalu jujur.


"Oh, aku ingat mau ngomong apa tadi," seru Eliza kemudian, Jibril hanya menaikan ujung alisnya. "Sebenarnya dulu aku berkarir itu untuk mencari jati diri, dan merubah hidupku biar nggak monoton, keluar dari trauma dan memperbanyak pengalaman aja. Sekarang semua itu sudah aku dapatkan, dan aku juga sudah menemukan jati diriku," tutur Eliza panjang lebar.


"Oh ya?" Eliza langsung mengangguk yakin mendengar pertanyaan Jibril.


"Jati diriku sekarang adalah istri kamu, aku mau jadi ibu rumah tangga aja, kayak Ummi. Gimana? Boleh nggak?" tanya Eliza penuh harap.

__ADS_1


"Boleh banget, Sayang, lagi pula wanita memang tidak punya kewajiban untuk bekerja kok," jawab Jibril. "Inysaallah, aku akan memenuhi semua kebutuhan kamu, kebutuhan primer, sekunder, dan tersier," imbuhnya yang membuat Eliza tertawa.


"Sepertinya itu tidak diragukan lagi, secara kamu adalah pewaris keluarga Emerson," ucap Eliza. "Oh ya, kita harus memikirkan resepsi pernikahan kita. Aku mau acaranya yang sederhana aja, terus semua rekan kerja kamu, terutama yang wanita, harus di undang, ya? Biar mereka tahu kalau kamu sudah menikah, terus semua rekan kerja orang tuaku juga harus di undang, biar mereka tahu kalau aku sudah menikah. Soalnya Kadang-kadang meraka mencoba menjodohkan aku sama anak-anak mereka."


Jibril kembali dibuat tertawa dengan permintaan Eliza yang terbilang kontradiksi itu, di satu sisi dia ingin pernikahannya sederhana. Sementara di sisi lain ia ingin mengundang semua rekan kerja dari dua keluarga, dan yang pasti rekan kerja mereka tidaklah sedikit.


"Iya, kita fikirkan nanti, sekarang boleh aku lanjut bekerja?" tanya Jibril yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Eliza tapi ia tetap tak beranjak dari pangkuan Jibril. "Bisa kembali ke sofa, Sayang?" tanya Jibril dengan lembut.


"Sebentar," jawab Eliza santai yang justru mengalungkan lengannya ke leher Jibril. "Aku masih suka posisi ini," imbuhnya sambil tersenyum malu-malu.


Tatapan keduanya bertemu, begitu intens dan dalam. Saat Jibril mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri, tiba-tiba pintu ruangan terbuka yang membuat kedua insan itu terperanjat. Eliza langsung melompat dari pangkuan Jibril sementara Jibril langsung pura-pura bekerja di laptopnya.


"Maaf," ucap Erma sambil menahan senyum melihat tingkah pengantin baru di depannya ini. "Tadi saya sudah ketuk pintu tapi tidak ada jawaban," ujarnya.


"Nggak apa-apa, ehem ehem ...." Jibril menjawab sambil berdeham, jantungnya berdetak begitu cepat seperti maling yang tertangkap basah saat mencuri.


Sementara Eliza kembali duduk di sofa, ia pura-pura santai sambil memainkan ponselnya padahal jantungnya seperti akan melompat dari tempatnya.


...🦋...

__ADS_1


Detik detik END 😊


So, jangan sampai ketinggalan setiap episodenya ya.


__ADS_2