
Darrel masih tak percaya ada pria macam Jibril di dunia ini, yang di ajak menemui orang tuanya langsung menjawab okay tanpa ragu, seolah ia begitu menginginkan Eliza untuk di jadikan pendamping hidupnya.
Tapi jika boleh jujur, justru hal itu yang di sukai oleh Darrel. Jibril yang selalu apa adanya dan tidak bertele-tele. Dalam dunia bisnis, Darrel sudah cukup mengenal Jibril dari beberapa rekan kerjanya meskipun selama ini Darrel sendiri tak pernah bekerja sama secara langsung dengan Jibril.
Intinya adalah, Darrel tak pernah mendengar berita buruk tentang putra Gabriel Emerson itu. Sehingga ia bisa sedikit membuka hati untuk Jibril.
Setelah Jibril menemui Eliza di apartementnya dan mengungkapkan keinginannya, Jibril pun segera melakukan pekerjaannya lebih cepat dari yang ia jadwalkan. Karena Jibril sudah tak sabar untuk menemui orang tua Eliza juga untuk membawa Eliza menemui orang tuanya sendiri.
"Ini pertemuan terakhirku dengan owner hotel itu, Ummi. Nanti sore aku akan pulang, oh ya, aku akan pulang sama Eliza," ujar Jibril memberi tahu aktifitasnya pada sang ibu.
"Kamu akan pulang berdua aja sama Eliza, Jay?" tanya sang ibu dengan suara yang terdengar cemas dan Jibril tahu apa alasan di balik kecemasan sang ibu.
"Iya, Ummi. Inysaallah aku akan menjaga diri, aku nggak melakukan sesuatu yang membuat kalian semua kecewa," jawab Jibril. "Lagi pula kami naik pesawat umum, ada banyak orang di sana. Insyaallah nggak akan terjadi fitnah apa-apa.," imbuhnya meyakinkan sang ibu.
"Terus bagaimana tanggapan kakaknya Eliza?" terdengar suara sang ibu yang ikutan bertanya.
"Dia bilang sebelum aku membawa Eliza menemui kalian, aku harus menemui orang tua Eliza lebih dulu," jawab Jibril sambil tersenyum.
"Terus kamu jawab apa?" tanya Ummi Firda.
"Okay," jawab Jibril singkat.
"Gitu aja?" tanya Abinya lagi.
"Iya, terus apa lagi?" tanya Jibril dengan daftarnya.
"Nggak apa-apa, ya udah, hati-hati, ya? Ingat pesan Ummi, jaga diri!"
"Inysaallah, Ummi. Ya udah, aku sudah mau sampai di hotelnya," kata Jibril kemudian.
__ADS_1
Setelah mengucapkan salam, Jibril pun menutup sambungan telfonnya. Ia keluar dari taksinya, kemudian ia masuk ke hotel yang bernama Galaxy Star Hotel. Jibril di sambut oleh seorang wanita cantik yang berambut pirang, kemudian ia di persilakan masuk ke sebuah ruangan khusus.
Setelah itu wanita tersebut meminta Jibril menunggu sebentar karena orang yang akan menemui Jibril mungkin akan sedikit terlambat.
Sementara di sisi lain, Eliza terus menggerutu karena tiba-tiba ia memiliki meeting mendadak untuk mewakili Owner dari hotel miliknya.
Padahal hari ini Eliza ingin beristirahat saja di rumah karena nanti sore ia harus kembali melakukan penerbangan, pulang ke negaranya bersama sang pangeran.
Sang pangeran? Eliza terkekeh mengingat pria yang satu itu, pria tua yang sudah berkepala empat tapi masih sangat tampak dan berkharisma.
Eliza juga tak bisa tidur karena mengingat dengan enteng nya Jibril menyanggupi apa yang di minta oleh Darrel. Bahkan pria itu terlihat sangat antusias dan tidak sabar, seolah ini apa yang ia perjuangkan selama ini.
Sesampainya di hotel, Eliza langsung bergegas ke ruang meeting dan sesampainya di sana Eliza hanya bisa menganga melihat Jibril sudah duduk manis sambil membaca berkas di depannya.
"Jibril?" panggil Eliza. Yang di panggil pun langsung mengangkat wajahnya.
"Kamu yang ngapain di sini?" tanya Eliza sembari duduk di kursinya. Jibril yang melihat itu semakin bingung.
"Aku mau bertemu dengan Mr. Charles Wilson," kata Jibril.
"Astaga, istrinya Tuan Charles lagi sakit dan dia memintaku menemui kliennya yang bernama..." Eliza membuka berkas yang di berikan oleh asisten Tuan Charles. "Jibril Emerson?" cicit Eliza tak percaya. Perlahan ia mendongak, menatap Jibril dengan bingung. "Astaga!" seru nya kemudian sambil menepuk jidatnya sendiri. "Jadi relasi bisnis yang dia bilang dari Indonesia itu kamu?" pekik Eliza.
"Kamu kerja di sini?" Jibril balik bertanya. "Asistennya Tuan Charles?"
"Aku salah satu pemegang saham di hotel ini," jawab Eliza yang membuat Jibril semakin terkejut. Jibril pun kembali membuka berkas yang sudah d siapkan oleh Erma, ia membawa berkas itu pelan-pelan dan memang ada nama Elizabeth di sana sebagai salah satu pemegang saham di hotel yang akan membuka cabang di Indonesia.
"Astagfirulla." Jibril menggumam antara bingung sekaligus takjub, begitu juga dengan Eliza yang hanya bisa terkekeh setelah menyadari kekonyolan yang tak memperhatikan bagaimana hotel itu berkembang dan apa saja aktivitasnya karena akhir-akhir ini ia memang sangat sibuk bepergian.
Sementara Jibril juga merasa sangat konyol, ini baru pertama kalinya ia tak benar-benar membaca berkas yang sangat penting seperti itu karena yang mengurus kerja sama ini adalah Micheal dan Charles itu salah satu teman ayah mereka karena itulah Charles mengundang Jibril atau Micheal secara langsung untuk menemuinya.
__ADS_1
"Jadi bagaimana?" tanya Eliza kemudian.
"Sebenarnya ini pertemuan khusus, Eliza. Tuan Charles yang mengundangku secara langsung ke sini, tapi kenapa dia nggak bilang kalau dia nggak bisa datang?"
"Aku rasa dia nggak sempat melakukan itu, istrinya yang saat ini ada di Russia sedang sakit. Baru beberapa jam yang lalu dia terbang ke sana dan dia meminta ku menggantikannya. Itu juga alasan dia memintaku secara khsusus mewakilkan dia karena katanya rekan bisnis yang ini teman lama. Eh nggak tahunya yang datang malah kamu."
"Teman lama yang dia maksud itu Abi, Eliza. Ini aja aku baru pertama kali membuat janji sama dia."
Jibril dan Eliza sama-sama terkejut, bingung dan pada akhirnya sama-sama tertawa geli dengan keadaan yang terus saja mempermainkan mereka.
Karena saat ini keduanya berada dalam pertemuan bisnis, mereka pun berbicara layaknya rekan kerja yang sedang bekerja. Jibril yang tahu bahwa Eliza tak menempuh pendidikan seperti orang pada umumnya merasa takjub karena Eliza bisa melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.
"Oh ya, Tuan Emerson. Saya tidak bisa lama-lama, ya. Karena sore ini saya harus melakukan penerbangan juga," kata Eliza tiba-tiba yang membuat Jibril langsung terkekeh.
"Saya juga harus pulang sore ini ke Indonesia, Nona Whitney. Karena kedua orang tuaku sedang menungguku membawa wanita yang ingin aku nikahi." wajah Eliza merona mendengar apa yang di katakan oleh Jibril itu.
********
Setelah selesai dengan pekerjaannya masing-masing, Jibril dan Eliza pun segera ke Bandara. Namun, Jibril berangkat sendiri begitu dengan Eliza. Entah apa yang ada dalam benak Darrel, tapi ia tak mengizinkan Jibril untuk membawa Eliza ke Bandara dan ia sendiri juga enggan mengajak Jibril pergi ke Bandara bersama.
Jibril merasa aneh dengan sikap Darrel itu, dan ia pun menceritakan hal itu pada Micheal karena saat ini ia memang sedang berbicara dengan Micheal di telfon untuk mengabarkan hasil pekerjaanya selama di London.
Micheal menanggapi hal itu sebagai sesuatu yang wajar, sangat wajar jika seorang Kakak cemburu pada pria yang mendekati adiknya.
"Telfon aku kalau kamu udah sampai, El," pinta Darrel sebelum Eliza check in.
"Iya, jangan khawatir," jawab Eliza sembari melirik Jibril yang kini sudah check in duluan. "Darrel, percuma tahu kamu larang aku dan Jibril pergi ke Bandara berdua toh pada akhirnya kita tetap pulang bersama," goda Eliza sambil mengedipkan mata pada sang kakak. Sementara Darrel enggan menanggapi hal itu, membuat Eliza terkekeh.
Tapi, benar juga apa yang di katakan oleh Eliza, percuma semua jarak di berikan pada mereka jika pada akhirnya mereka tetap pulang bersama dan itu pun dalam perjalanan yang jauh lebih lama.
__ADS_1