Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #30 - Tentang Dia


__ADS_3

"Elizabeth, kamu kenapa?" tanya Jibril lagi, Eliza yang mendengar suara Jibril langsung mendongak dan seketika ia berhambur ke pelukan Jibril hingga membuat Jibril terduduk. Sementara Eliza menangis tersedu-sedu di pelukan Jibril yang kini mematung sempurna.


Kedua pria yang hendak memperbaiki cctv itu pun hanya bisa terpaku melihat wanita yang mereka anggap kekasih Jibril itu memeluk Jibril dengan erat, bahkan kini Elzara meremas lengan Jibril dan hal itu mampu mengembalikan kesadaran Jibril.


"Eliza, kamu kenapa?" Jibril berusaha melepaskan Eliza dari pelukannya. Namun, Eliza justru semakin meremas lengan Jibril dan menyembunyikan wajahnya di dada Jibril. Jas yang Jibril kenakan sampai basah karena air matanya.


Jibril menatap kedua pria pekerjanya itu dengan bingung dan penuh tanda tanya, seolah ia bertanya apa yang terjadi. Tentu saja kedua pria itu menggeleng tak tahu.


"Mereka jahat, hiks hiks ...."


"Mereka akan melukaiku, hiks ...."


"Mereka jahat ...."


Jibril mengernyit mendengar suara lirih Eliza yang terdengar begitu pilu, seolah Eliza benar-benar seperti berada dalam mara bahaya. "Eliza, aku disini," lirih Jibril akhirnya.


Eliza pun mendongak saat mendengar suara Jibril, hati Jibril terkesiap melihat wajah gadis itu yang sudah lembab, banjir dengan air matanya, Bibir Eliza bergetar, ia masih terisak.


"Mereka ... Jibril... mereka jahat."


"Tuan, kami tidak melakukan apapun pada kekasihmu, Tuan. Tadi kami datang untuk memeriksa cctv, kami juga sudah memberi tahu dia tapi dia tiba-tiba berlari dan menjerit," tukas salah satu pria itu dengan yakin dan percaya diri karena dia mengatakan apa yang sebenarnya.


Jibril semakin bingung ada apa dengan Eliza, dan tentu dia percaya pada kedua pria itu karena mereka adalah kepala keamanan di perusahaan Jibril yang sudah bekerja sangat lama.

__ADS_1


"Mereka menutup pintu, Jibril. Mereka mau melakukan sesuatu ... mereka ... mereka ...."


"Eliza, tenang dulu, okay? Tenang, aku janji nggak akan ada yang jahat sama kamu, aku nggak akan biarin siapapun melakukan sesuatu sama kamu." Jibril berkata penuh keyakinan, ia menatap mata Eliza yang masih basah karena air mata.


"Aku janji!" Tegas Jibril sekali lagi sembari dengan perlahan ia melepaskan tangan Eliza yang mencengkram lengannya.


Eliza menatap mata Jibril dengan nanar, berharap pria itu benar-benar akan menjaganya. "Sekarang ikut aku!" pelan-pelan Jibril membantu Eliza berdiri. Namun, Eliza masih melirik dua pria itu dengan takut. Mau tak mau Jibril pun menyuruh mereka keluar.


Kini Jibril membawa Eliza duduk di sofa, ia juga memberikan segelas air yang langsung di teguk oleh gadis itu. Jibril memandangi wajah Eliza lekat-lekat, sekarang ia yakin ada yang salah dengan gadis ini.


"Terima kasih," lirih Eliza sembari mengembalikan gelasnya pada Jibril.


"Eliza, aku mau kamu dengerin aku bicara!" seru Jibril tiba-tiba. Eliza hanya menatap Jibril dengan sendu. "Mereka nggak jahat, okay? Mereka kepala keamanan di perusahaanku, mereka sudah lama bekerja dengan keluargaku—"


"Tapi mereka menutup pintu, Jibril. Mereka mau melakukan sesuatu ... mereka nggak bisa di percaya." kerutan di kening Jibril semakin dalam. Selain di liputi rasa takut, Eliza seolah juga di liputi kemarahan.


"Maka ketakutan itu hanya ada dalam otak kamu, Eliza. Bukan pada perilaku orang lain, kamu takut tanpa sebab. Kamu melihat orang lain sebagai penjahat karena itu lah kamu selalu takut. Semua berasal dari diri kamu sendiri," ungkap Jibril panjang lebar penuh penekanan.


Eliza terhenyak mendengar ucapan Jibril. "Jika semua sopir taksi jahat, maka tidak akan ada perusahaan taksi, Eliza. Jika semua orang asing dan orang yang tidak kita kenal itu jahat, maka manusia mungkin sudah saling membunuh. Tidak akan ada pertemanan, persahabatan dan bekerja sama." Eliza kembali terdiam, ia menggigit bibirnya yang kembali bergetar sembari mengelap air mata yang masih membasahi pipinya.


"Semua tergantung dari sudut pandang kita, Eliza. Awalnya aku juga orang asing buat kamu, tapi kamu nggak mikir aku jahat. Coba lakukan itu pada orang lain juga, hm." Jibril melembutkan nada bicaranya apalagi saat ia melihat raut wajah Eliza yang masih tampak cemas.


"Maaf," lirih Eliza kemudian. "Maaf aku sudah membuat ricuh," imbuhnya sambil mengucek matanya.

__ADS_1


"Nggak apa-apa," jawab Jibril melempar senyum lembut. Sebenernya, Jibril sangat penasaran apa yang terjadi dengan Eliza, karena tidak ada kejadian tanpa sebuah sebab. Tidak mungkin Eliza takut pada orang asing tanpa sebab yang kuat. Jibril sangat penasaran dan ingin bertanya, tapi ia menahan rasa ingin tahu itu sampai Eliza sendiri yang memberi tahunya.


Kejadian waktu di rumah sakit dan kejadian sekarang sudah cukup membuat Jibril yakin, gadis yang ia cintai ini memiliki sebuah trauma terpendam.


"Sudah telfon Darrel?" tanya Jibril mengalihkan perhatian Eliza.


Tanpa menjawab pertanyaan Jibril, Eliza memeriksa ponselnya. Ada pesan masuk dari Darrel lima menit yang lalu, katanya dia sudah di jalan.


"Darrel sudah di jalan," lirih Eliza sambil tertunduk. Ia sangat malu sebenarnya karena sudah membuat ulah di depan Jibril, tapi ada satu hal yang membuat Eliza bingung. Kenapa sekarang ia merasa tenang tanpa obat penenang? Sementara selama ini ia selalu meminum obat penenang saat ketakutan itu kembali menghantam dirinya.


"Okay, kita tunggu dia disini." Jibril berkata sembari beranjak dari sofa dan berpindah ke kursinya. Ia pun membuka laptopnya hendak melanjutkan pekerjaannya. Namun, entah kenapa ia tak fokus. Jibril terus melirik Eliza yang masih duduk di sofa. Gadis itu terlihat beberapa kali mengucek matanya. Jibril kembali berusaha fokus pada pekerjaannya, sementara Eliza justru menguap beberapa kali. Pelan tapi pasti kini ia benar-benar tenang karena sudah ada Jibril disana.


Tiba-tiba Eliza kembali merasa mengantuk, ia pun merebahkan diri di sofa dengan berantalkan lengannya. Perlahan Eliza memejamkan mata dan pada akhirnya ia benar-benar tertidur.


Jibril yang kembali melirik Eliza mengernyit bingung, apa gadis itu benar-benar tidur setelah menjerit seperti orang gila?


Jibril memeriksa Eliza dan ternyata gadis itu benar-benar tidur, ia tak merespon saat Jibril melambaikan tangannya di depan wajah Eliza. "Astagfirullah, ada ya orang kayak gini?" gumam Jibril sembari melepas jasnya kemudian ia menutupi tubuh Eliza dengan jasnya itu.


Sementara di luar, Darrel sudah datang dan Erma langsung mempersilahkan Darrel masuk masuk ke ruangan Jibril. Namun, saat Darrel sudah berada di ruangan itu, Darrel tak melihat Eliza. Ia hanya melihat Jibril yang duduk di kursinya.


"Dimana adikku?" tanya Darrel tanpa basi-basi.


"Dia tidur," jawab Jibril santai yang membuat Darrel tercengang.

__ADS_1


"Tidur? Yang bener aja!"


...🦋...


__ADS_2