Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab 60 - Menuju Restu


__ADS_3

TSetela menempuh perjalanan yang tak sebentar, tentu saja itu membuat Jibril sangat lelah. Ia ingin segera pergi beristirahat karena di London kini masih tengah malam.


Jibril naik ke taksi ke hotel tempat ia menginap, sementara Eliza pulang bersama Darrel. Dalam perjalanan ke hotel, Jibril kembali mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Eliza. Ia juga meyakinkan sang ibu agar mau merestuinya. Namun, tampaknya kedua orang tua Jibril tak bisa langsung mengiyakan begitu saja apa yang sangat di inginkan oleh Jibril.


Ummi Firda meminta Jibril pulang terlebih dahulu agar mereka bisa bicara secara langsung, ia juga meminta Jibril membawa Eliza jika memang Eliza menginginkan hal yang sama. Meskipun jawaban sang ibu masih begitu ambigu,tapi itu sudah cukup membuat Jibril merasa senang, setidaknya kini ia punya harapan untuk cintanya.


Sementara di rumah, Ummi Firda menceritakan tentang keinginan Jibril pada seluruh anggota keluarganya. Tentu saja mereka sangat terkejut, apalagi setelah mendengar siapa yang ingin Jibril nikahi. Namun, mereka tahu keinginan Jibril tak bisa mereka tentang meskipun latar belakang keluarga Eliza berbeda dari latar belakang keluarga Jibril.


Lagi pula, kini kedua insan itu sudah seamin dan seiman. Namun, yang menjadi beban fikirkan mereka adalah keluarga Eliza sendiri. Apakah mereka akan memberikan restu pada Jibril dan Eliza? Bagaimana jika mereka justru menganggap Jibril telah mempengaruhi Eliza agar berubah? Bagaimana jika mereka menyalahkan Jibril?


Berbagai pertanyaan muncul dalam benak mereka, dan kini mereka hanya bisa menunggu Jibril pulang agar mereka bisa berbicara lebih jelas dan pasti.


****


Keesokan harinya, Darrel menemui Eliza yang masih tidur di kamarnya. Adiknya itu terlihat sangat lelah, tentu saja, Eliza yang sekarang bukanlah Eliza yang dulu. Yang hanya tidur, bangun, makan dan belanja. Sekarang Eliza sudah bekerja dan melakukan beberapa aktivitas sosial.


Christie sudah bercerita semuanya pada Darrel, tentu saja Darrel sangat terkejut. Ia juga tak percaya bagaimana bisa mereka justru di pertemukan lagi setelah sekian lama. Dan saat bertemu, Jibril justru langsung mengajak Eliza menikah. Tentu saja hal itu tak bisa di terima begitu saja oleh Darrel.


"Eliza?" Darrel mengguncang pundak Eliza.


"Hm?" sahut Eliza sembari menarik selimutnya.


"Bangun, El. Ada yang mau aku tanyakan sama kamu," ujar Darrel. Sekali lagi ia mengguncang tubuh Eliza, tapi adiknya itu seperti orang pingsan saja. Ia hanya menggumam malas, kemudian membenarkan posisi tidurnya agar lebih nyaman.


"Eliza!" seru Darrel lagi dengan suara lantang yang membuat Eliza menggeram kesal, ia pun langsung bangun dari tidurnya.


"Apa, Darrel? Aku capek banget, aku masih ngantuk," gerutu Eliza.


"Ini sudah jam 10, El. Udah siang," seru Darrel. Eliza berdecak kesal.

__ADS_1


"Iya, tapi aku benar-benar mengantuk, Darrel. Memangnya hal penting apa yang kamu tanyain? Nggak bisa nanti kalau sudah bangun?" ketus Eliza.


"Nggak, ini penting!" sergah Darrel. "Aku mau tanya soal Jibril," imbuhnya yang membuat kedua bola mata Eliza langsung terbuka lebar.


"Ada apa lagi sama dia?" tanya Eliza sembari menguap, ia kembali menjatuhkan dirinya ke ranjang kemudian Eliza pun memejamkan matanya.


"Dia melamar kamu, kan? Terus kamu terima dia? Eliza, sebaiknya kamu tolak pria itu," tukas Jibril yang membuat Eliza terbelalak.


"Kenapa?" tanya Eliza kemudian dengan suara lirih.


"Kalau kamu berhubung sama dia, keluarga kita bisa malu, Eliza. Nanti orang-orang berfikir kamu pindah keyakinan karena Jibril, orang-orang akan kembali membicarakan kamus seperti dulu."


Mendengar peringatan Darrel itu membuat Eliza langsung tersenyum masam. Sejak Eliza memutuskan untuk terjun dan berinteraksi dengan banyak orang, mereka memang tak melakukan kejahatan seperti yang Elizabeth takutkan. Namun, ada satu kesalahan atau bahkan kejahatan orang yang tak bisa di kendalikan, tak bisa di laporkan atau bahkan sang pelaku tak sadar bahwa mereka melakukan kejahatan itu.


Kejahatan tersebut adalah ikut campur urusan orang lain, menghakimi keputusan orang lain tanpa mereka tahu apa yang melatar-belakangi seseorang mengambil keputusan tersebut. Bagi Eliza, itu adalah kejahatan yang sangat mengerikan dan mungkin tak bisa di hentikan.


"Cukup aku dan Tuhanku yang tahu fakta yang sebenarnya," jawab Eliza singkat.


"Darrel..." Eliza kembali duduk tegak, ia memegang tangam Darrel dengan lembut, menatap mata kakaknya itu dengan sayu kemudian melanjutkan. "Apapun kata orang, aku nggak perduli selama keluargaku bisa mengerti aku. Dan aku yakin, kamu, Mommy, Daddy, Chritie, kalian akan mengerti aku. Akan menghormati keputusanku."


Darrel menarik napas panjang, kehidupan Eliza yang dulu begitu datar kini telah punya banyak warna dan cerita. Ada begitu banyak perjalanan yang Eliza tempuh, bahkan Eliza sudah mengunjungi beberapa negara yang tak pernah Darrel kunjungi selama ini.


"Dan soal Jibril, aku memang masih mencintainya," ungkap Eliza dengan lirih. "Tapi aku tidak akan menikahinya kalau kamu dan Mommy Daddy nggak merestui." lanjutnya dengan begitu serius. Darrel menatap mata sang adik, Darrel merasa tersentuh dengan besarnya cinta Eliza pada keluarganya meskipun kini keyakinan mereka telah berbeda.


"Kenapa? Yang satu keyakinan sama kamu 'kan Jibril," ujar Darrel yang membuat Eliza terkekeh.


"Hanya itu, kan? Sedangkan yang selalu ada untukku selama ini adalah keluargaku, jadi kalian tetap nggak akan tergantikan," ujar Eliza dengan pasti.


"Bagaiamana jika Mommy dan Daddy benar-benar nggak merestui kalian?" tanya Darrel sekali lagi.

__ADS_1


"Ya aku akan memilih Mommy dan Daddy." Darrel tersenyum senang mendengar jawaban sang adik. Karena yang sebenarnya mereka takutkan selama ini adalah ada orang menjauhkan Eliza dari mereka.


"Ya udah, sekarang kamu bisa lanjut tidur lagi, tapi akan lebih baik kalau kamu sarapan dulu," tukas Darrel kemudian. Namun, saat Eliza hendak menjawab tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.


"Ada apa, Chris?" tanya Darrel.


"Di luar ada tamu," kata Christie sambil mengulum senyum.


"Oh, okay. Sebentar lagi aku akan keluar," kata Darrel.


"Bukan buat kamu, Honey. Tapi tamu Eliza," ujar Christie yang membuat Eliza menggeram kesal.


"Aku benar-benar masih mengantuk Chris, kata padanya temui aku nanti sore, siapapun itu," gerutu Eliza. Ia menarik selimut hingga menyelimuti seluruh tubuhnya.


"Yang datang Jibril Emerson, Eliza," tukas Christie yang membuat Eliza kembali beranjak, kedua matanya terbuka lebar. Darrel juga terlihat terkejut mendengar kabar itu.


"Aku rasa dia serius soal lamaran itu," ujar Chrstie lagi dan hal itu membuat Darrel tampak tak menyukainya. Christie yang menyadari hal itu hanya bisa mengulum senyum, kemudian ia berkata pada Eliza. "Cuci muka, gosok gigi dan temui dia, okay?"


********


Jibril mengetuk-ngetukan jarinya di paha, entah kenapa sekarang ia sedikit gugup dan mungkin inilah yang di rasakan oleh seorang pria yang ingin melamar kekasihnya.


Tak berselang lama Darrel, Eliza dan Christie menemuinya. Jibril langsung melempar senyum ramahnya.


"Ada keperluan apa, Jibril?" tanya Darrel tanpa basa-basi.


"Tadi malam aku sudah berbicara dengan orang tuaku tentang Eliza, mereka ingin aku membawa Eliza menemui mereka," jawab Jibril yang juga tanpa basa-basi.


Eliza dan Darrel yang mendengar jawaban Jibril itu hanya bisa tercengang, beda halnya dengan Eliza yang justru menahan senyum geli dengan sikap Jibril yang begitu lurus itu.

__ADS_1


"Sebelum kamu membawa Eliza menemui orang tuamu, aku ingin kamu menemui orang tua kami terlebih dulu," sahut Darrel yang langsung di sanggupi oleh Jibril.


"Okay, kapan?"


__ADS_2