
Meskipun tak mengadakan perayaan besar untuk akad nikah Jibril dan Eliza, mereka tetap mengadakan makan malam bersama di rumah Jibril yang sudah berhasil ia beli dari hasil keringatnya sendiri. Beberapa pakaian Eliza juga sudah dibawa ke rumah itu karena setelah ini mereka akan tinggal di sana. Lagi pula mereka sudah menikah, memangnya mau tinggal di mana lagi selain di rumah itu.
"Ini semua masakan Tante?" tanya Eliza sembari memperhatikan melihat menu makan makan yang sangat menggiurkan itu, kelihatannya sangat enak bahkan membuat Eliza tiba-tiba lapar.
"Iya, semoga kamu suka ya sama masakan Ummi," jawab Ummi Firda dengan lembut.
"Iya, Ummi," jawab Eliza yang baru menyadari panggilan untuk ibu mertuanya masih sering salah.
"Aku nggak nyangka ternyata Mbak bisa masak makanan selezat ini," ujar Nyonya Jill yang kini sudah mencicipi masakan besannya itu.
"Alhamdulillah kalau Mbak suka," sahut Ummi Firda.
Tak berselang lama terdengar bel pintu beberapa kali, yang datang sepertinya tak sabar ingin masuk. "Biar aku yang buka, itu pasti kerjaan Tanvir," ujar Jibril.
"Biar aku aja, kamu temenin mereka," sahut Eliza. Ia pun segera bergegas membuka pintu.
Eliza mengernyit saat melihat seorang gadis dan pria remaja ada di depan rumahnya. "Assalamualaikum, Tante," sapa gadis itu dengan ramah.
__ADS_1
Alih-alih menjawab, Eliza justru bertanya, "Cari siapa ya, Dek?" mendapatkan pertanyaan seperti itu, gadis tersebut.
"Aku Livia, Tante, masa nggak ingat? Keponakan Om Jibril," seru Livia yang membuat Eliza melongo. Ia sungguh tak percaya bocil kecil yang dulu sering ia temui kini sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik.
"Oh my god, Kamu cepat banget tumbuhnya, Livia. Padahal dulu kamu masih segini." Eliza mengukur pendek Livia dengan tangannya.
"Alhamdulillah, Tante, karena Via punya orang tua yang tepat, jadi tumbuhnya cepat dan baik," jawab Via sambil tersenyum lebar, Eliza yang mendengar hal itu pun juga tersenyum lebar. Entah kenapa rasanya dia ikut bahagia melihat Via yang tumbuh besar menjadi remaja yang sangat cantik.
"Terus ini siapa? Pacar kamu?" tanya Eliza yang membuat Via langsung melotot.
Berbeda dengan Eliza yang tak mengenali Tanvir, rupanya pria remaja itu memiliki ingatan yang cukup kuat sehingga ia bisa dengan mudah mengenali Eliza. "Wah, jadi Tante yang menikah sama Om Jibril itu Tante yang ini? Kok bisa Om Jibril mau menikah sama Tante? Kan dulu pernah ditampar sama Om Jibril," tukas Tanvir panjang lebar yang membuat Eliza meringis.
Ia ingin memarahi Tanvir dan memintanya tak mengungkit masalah itu, tapi masalahnya sekarang Tanvir sudah menjadi seorang pria remaja, bukan bocil seperti dulu.
Jibril yang ada di dalam segera keluar karena Eliza tak kunjung kembali. "Oh, kalian sudah datang," seru Jibril saat melihat kedua keponakan ya sudah datang. "Orang tua kalian mana?" tanya Jibril karena seharusnya mereka datang dengan keluarga mereka.
"Mereka di belakang, Om, kami datang sama sopir," jawab Tanvir.
__ADS_1
"Memangnya kenapa nggak bareng?" tanya Eliza penasaran.
"Mama tadi sakit perut, Tante," jawab Tanvir tapi pandangannya pada Eliza tampak berbeda, ia seperti mencurigai Eliza akan suatu hal.
"Kalau Ummi tadi masih sibuk ngurus adik Azmi," sambung Livia.
"Ya udah, kalian masuk gih!" seru Jibril, bukannya mengikuti perintah Jibril, Tanvir justru menajamkan tatapannya pada Eliza.
"Om, kenapa Om mau menikah sama dia?" tanya Jibril dengan entennya. "Memangnya Om nggak pusing kalau nanti dia tiba-tiba cium Om di tempat umum? Malu, Om, bukan muhrim," kata Tanvir yang semakin membuat Eliza meringis. Sementara Jibril yang mendengar hal itu justru terkekeh, ia pun merangkul Eliza dengan mesra membuat jantung Eliza langsung berdegup kencang. Ini pertama kalinya Jibril menunjukan kepemilikannya pada Eliza di depan orang lain.
"Sekarang sudah boleh, Tanvir, kami sudah menikah jadi sudah boleh jika mencium dan dicium," ujar Jibril yang langsung membuat Eliza tersipu.
"Ayo masuk, Sayang," ajak Jibril yang terdengar begitu mesra di telinga Eliza.
"Ayo!" balas Eliza yang juga merangkul Jibril dengan mesra. Tanvir yang melihat hal itu hanya bisa tercengang, Paman yang selama ini ia kenal dingin, cuek dan seolah tanpa ekspresi kini berubah drastis.
"Om kenapa, ya?"
__ADS_1