Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #50 - Seiring Berjalannya Waktu


__ADS_3

"Om Jibril?"


"Om, bangun!"


"Om Jibril! Nanti subuhnya di makan kokkok lho."


"Om Jibril? Nanti Om cepat tua kalau tidak sholat subuh."


Jibril yang saat ini masih terlelap dalam tidurnya dan larut dalam mimpinya harus terganggu karena ulah anak-anak yang menarik selimut serta terus bersuara nyaring.


"Azmi, Om sudah sholat tadi." jawab Jibril dengan suara paraunya.


"KAK ALI!" bocah berusia 6 tahun itu berteriak lantang yang membuat Jibril meringis dan langsung menutup telinganya.


"Kak Ali! Katanya Om Jibril sudah sholat subuh, jadi subuhnya tidak di makan kokkok!" Azmi masih berteriak sangat nyaring yang pada akhirnya membuat Jibril mau tak mau harus bangun dari ranjangnya.


Tak berselang lama Ali pun datang ke kamar pamannya itu dengan membawa segelas kopi." Oh, subuhnya sudah, Om? Terus kata Ummi di suruh tanyain dhuha-nya, soalnya sekarang bapaknya ayam sudah bangun," ujar Ali sembari meletakkan segelas kopi itu di atas nakas.


Sambil menguap Jibril turun dari ranjangnya, ia melirik jam dinding yang menunjukan pukul setengah sebelas.


Jibril memang sudah bangun sejak tadi, bahkan ia sudah sholat subuh tentu sholat dhuha juga ia laksanakan. Namun, sekitar jam 9 ia merasa begitu mengantuk sehingga Jibril kembali bergelut dalam selimutnya.


Bagaiamana mungkin ia tak mengantuk? Semalaman Jibril mengerjakan sebuah proyek yang sangat penting sehingga ia baru tidur setelah sholat subuh, setelah itu ia kembali bekerja dan saat matahari sudah tinggi, ia melaksanakan sholat dhuha setelah itu barulah ia kembali tidur.


"Terima kasih kopinya, Ali," ucap Jibril sembari menyeruput kopi yang masih sedikit panas itu.


"Sama-sama, Om," jawab anak yang kini berusia 8 tahun itu. "Oh ya, kata Ummi, Om di suruh makan kalau sudah bangun. Ummi lagi pergi ke pasar sama Nenek Sri." lanjutnya.


"Terus Abi kalian kemana?" tanya Jibril lagi.

__ADS_1


"Sudah pergi bekerja lah, Om. Kan sudah siang," sambung Azmi. "Om tidak bekerja? Memangnya Om tidak mencari duit kayak Abi?" Jibril terkekeh mendengar pertanyaan polos keponakannya ini.


"Om tidak perlu cari duit banyak-banyak, nggak ada yang Om harus kasih makan. Kalau Abi 'kan harus kasih kita makan, itu namanya tugas kepala rumah tangga," celoteh Ali panjang lebar yang berhasil membuat Jibril tertawa.


Tak berselang lama Livia datang ke kamar Jibril untuk menjemput kedua adiknya itu." Maaf ya, Om. Mereka pasti ganggu, padahal tadi sama Ummi sudah di pesan supaya jangan ganggu tidur Om Jibril," ujar Livia sambil meringis karena kedua adiknya itu tak mendengarkan perintah ibu mereka.


"Terus siapa yang bikinin aku kopi, Via?" tanya Jibril.


"Via, Om. Tadinya cuma Via siapin, eh nggak tahunya boca ini malah bawa ke kamar Om Jibril," jawab Via.


Livia yang kini sudah beranjak remaja memiliki sikap yang begitu baik bahkan ia sangat dewasa saat mengayomi kedua adiknya,tak hanya itu, Via juga sangat tahu bagaimana caranya berbakti pada keluarga orang tua angkatnya yang sudah ia anggap orang tua kandung sendiri.


"Terima kasih, Livia. Kopinya enak," ucap Jibril.


"Sama-sama, Om," sahut Via sambil tersenyum. "Oh ya, adik-adik kaka yang tampan, kita keluar, ya? Biarin Om Jibril istirahat dulu," ajak Via.


"Tapi orang istirahat itu malam, Kak Livia. Bukan siang-siang begini," seru Azmi dengan suara cemprengnya.


"Ali!" tegur Livia dengan tegas. "Kita keluar, yuk!" ajaknya. Dengan sedikit memaksa, Livia menarik kedua adiknya itu keluar dari kamar Jibril.


Sementara Jibril hanya terkekeh sambil geleng-geleng kepala melihat beraneka ragam karakter anak-anak Aira dan Arsyad.


Tanpa terasa, 6 tahun sudah berlalu. Muhammad Azmi Ibrahim, Bayi merah yang dulu Jibril gendong kini sudah bisa membangunkan Jibril jika Jibril menginap di rumah Aira seperti sekarang. Bahkan tak jarang bocah itu mengingatkan Jibril agar tak bangun siang supaya subuhnya di di makan ayam katanya, karena itulah yang selalu Aira dan Arsyad ajarkan pada mereka sehingga mereka sudah terbiasa bangun pagi.


Selain itu, Ali yang dulu juga masih bayi dan menggemaskan kini sudah sering mengantarkan kopi ke kamar Jibril di pagi hari. Dan si cantik Livia pun kini sudah tumbuh menjadi remaja yang cantik dan menawan, dan tentu hal itu membuat kakak sepupunya semakin menjaga ketat pergaulan Livia.


Dan dalam waktu 6 tahun ini, Jibril masih menyendiri. Bukan karena tak ada wanita yang mau menjadi pasangannya, melainkan karena hatinya masih terasa berat untuk menerima wanita lain dalam hidupnya. Jibril sadar, usianya tak lagi muda dan sudah sewajarnya ia punya keluarga kecil yang bahagia. Ia juga sadar, pernikahan itu juga sunnah dan ibadah panjang yang menyempurnakan agamanya.


Namun, setiap kali ia mulai di dekati oleh wanita, mendekati wanita atau bahkan kembali di jodohkan entah oleh orang tuanya, oleh Aira bahkan oleh teman-temannya. Jibril tak bisa menerima mereka semua karena saat ia melakukan Istikharah, wanita-wanita itu bukanlah jawaban dari masa depannya.

__ADS_1


Awalnya Jibril mendapatkan desakan dari keluarganya agar ia segera menikah mengingat umur pria itu tak lagi muda, teman-temannya pun sudah menikah bahkan sudah punya anak yang lucu dan menggemaskan. Namun, sekali lagi Jibril tak bisa memaksa hatinya, ia yakin jodohnya akan datang tepat waktu.


Walaupun Jibril pernah mendapatkan tudingan bahwa ia masih tak bisa melupakan Eliza, bahkan ada yang mengatakan Jibril masih menunggu Eliza, Jibril enggan menanggapi hal itu. Fakta, bahwa ia masih menyimpan cinta untuk Eliza. Namun, sebuah fitnah yang mengatakan ia menunggu Eliza. Jibril justru berharap Eliza mendapatkan pria yang baik, yang mencintai Eliza sepenuh hati. Memberikan kebahagiaan dan kenyamanan untuk pria itu.


Malam ini Jibril menginap di rumah Aira karena tadi malam adalah ulang tahun Azmi yang ke 6, mereka mengadakan acara di rumah dan hanya mengundang orang-orang terdekat saja.


Jibril segera bergegas mandi, setelah itu ia keluar dari kamarnya saat rasa lapar melanda perutnya.


Ketika masuk ke dapur, Aira ternyata sudah pulang dari pasar dan wanita itu sedang menyusun sayuran serta buah di kulkas. "Udah makan, Ka?" tanya Aira.


"Belum, ini lagi mau makan, aku lapar," ujar Jibril.


Ia pun mengambil makanan sendiri layaknya di rumah sendiri, karena memang begitulah ia selama ini. Kini Jibril tak lagi tinggal di hotel, ia membeli rumah sederhana tapi sangat nyaman di dekat kantornya.


"Kakak sering melupakan sarapan, itu nggak baik lho," ujar Aira yang hanya di tanggapi senyum tipis oleh Jibril. "Oh ya, Jadi penerbangan Kaka ke Amerika kapan? Apa di undur lagi?" tanya Aira.


"Nggak, proyeknya sudah selesai aku siapkan, besok malam berangkat," jawab Jibril.


"Hati-hati di sana lho, Kak. Jangan lupa telfon Ummi setiap hari, biar Ummi nggak cemas dan tahu kalau kaka baik-baik aja," tukas Aira yang seketika membuat Jibril terkekeh.


Ini bukan pertama kalinyya Jibril pergi ke luar negeri, tapi Aira dan kedua orang tua mereka selalu menasheti Jibril seolah Jibril baru pertama kali pergi ke tempat yang jauh.


"Iya, Ai. Lagi pula aku sudah besar, nggak ysah terlalu cemas begitu," pungkas Jibril.


"Bukan besar lagi, udah tua," celetuk Aira sambil terkekeh, Jibril pun ikutan terkekeh apalagi ketika ia mengingat apa yang tadi di katakan oleh kedua keponakannya.


"Kapan mau nikah sih, Kak?" tanya Aira lagi. "Nunggu ubanan? Nanti nggak ada yang mau lho."


"Ah, masa nggak ada yang mau sama Jibril Emerson?" gurau Jibril sambil tertawa, Aira yang mendengar itu juga ikutan tertawa.

__ADS_1


Benar, memang siapa yang tak mau sama Jibril Emerson? Dia masih sangat tampan, berkharisma dan tentu juga sangat mapan. Ada banyak wanita yang bermimpi menjadi pasangannya. Namun, Jibril masih belum punya menemukan seorang wanita untuk di impikan menjadi pasangannya.


__ADS_2