Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #46 - Langkah Yang Baru


__ADS_3

"Kamu marah sama Ummi?" Jibril yang di todong pertanyaan seperti itu oleh sang ibu tentu langsung menoleh, menatap ibunya dengan bingung.


"Kenapa Ummi tanya gitu?" tanya Jibril.


Saat ini Jibril sedang berada di rumah Aira untuk menemui kedua orang tuanya sebelum mereka kembali ke kampung halaman mereka.


"Ya karena Ummi minta kamu melupakan dia."


"Ummi..." tiba-tiba Jibril berpindah posisi duduk ke sebelah sang ibu, Jibril menggengam tangan ibunya dengan lembut kemudian mengecupnya penuh kasih sayang. "Aku tahu, apa yang Ummi lakukan itu demi kebaikanku sendiri. Jadi aku nggak mungkin aku marah, aku justru sangat berterima kasih karena selain Ummi mengerti aku, Ummi juga sangat perduli." tukas Jibril panjang lebar yang membuat sang ibu terenyuh.


Sejak dulu, Jibril memang tak pernah mengecewakannya, selalu patuh pada perintahnya tanpa bertanya kenapa.


"Nak, anak teman Ummi..."


"Ummi," potong Jibril dengan cepat. ia meringis membayangkan sang ibu akan kembali menjodohkannya dengan seorang wanita. "Maaf memotong ucapan Ummi, tapi untuk saat ini aku hanya ingin fokus pada pekerjaanku, ya?" lirih Jibril memelas yang membuat sang ibu terkekeh.


Abi Gabriel yang memperhatikan tingkah putra dan istrinya itu hanya bisa mengulum senyum, ia tahu Jibril sebenarnya masih terluka dan pasti ia memendam kecewa dengan keadaan yang ada. Namun, ia juga tahu bahwa putranya itu sangat mampu mengendalikan diri.

__ADS_1


"Ya udah kalau emang itu yang kamu mau, tapi ingat satu hal! Jangan pernah lagi mencoba mmengikuti arus yang kamu hanya bisa terka akhirnya apalagi yang sudah kamu tahu akhirnya takan baik, ya?" Ummi Firda menasehati putranya itu dengan sangat lembut dan hati, sehingga Jibril tak punya alasan untuk melawan atau merasa ia sedang di kekang oleh sang ibu.


"Iya, Ummi. InsyaAllah, selama do'a Ummi selalu menyertaiku, insyaallah aku nggak akan salah jalan lagi," jawab Jibril sambil mengulum senyum.


"Sayang, kita berangkat sekarang? ini sudah sore," tukas Abi Gabriel kemudian. Ummi Firda mengangguk.


Sebelum pergi ia berpesan pada Aira agar menjaga diri dan menjaga kandungannya dengan baik, ia juga berpesan pada Arsyad agar selalu menjaga keluarga kecilnya itu.


Setelah sang ibu pergi, Aira mengajak Jibril berbicara dari hati ke hati. Adiknya itu meminta maaf pada Jibril karena ia sudah memojokan Jibril padahal Aira memang tidak tahu apa yang sudah Jibril lalui. Yang ia tahu hanya kakaknya jatuh cinta pada wanita yang berseberangan dengannya.


Jibril tampak masih kecewa pada sang adik, tapi ia tak memperlihatkan hal itu sedikitpun. Yang bisa Jibril katakan hanya tidak apa-apa meskipun tentu saja apa-apa dengan hatinya.


"Terkadang, sesuatu yang coba kita kejar, justru akan lari dari kita. Tapi ketika sabar dan ikhlas, justru bisa jadi takdir yang akan menyerah suatu hari nanti dan akan mengembalikan apa yang sempat pergi dari kamu." lanjutnya yang membuat Jibril langsung terkekeh.


"Aku tahu, tapi aku rasa kasus ini berbeda, aku udah nggak berani berharap, Arsyad. Karena ternyata harapan itu sakit saat hasilnya justru kebalikannya," tukas Jibril.


"Aku tahu, tapi siapa yang bisa menerka jalannya takdir? Nggak ada, kan?"

__ADS_1


****


"Kamu akan tinggal di rumah atau di apartement?" tanya Nyonya Jill pada Eliza yang saat ini sedang menikmati siaran televisi yang sebenarnya sangat tidak menarik.


"Aku mau tinggal di apartemen," jawab Eliza.


"Darrel cuma bisa nemenin kamu satu atau dua minggu, setelah itu Mommy yang akan kesana, menggantikan Darrel," ujar sang ibu lagi. Eliza yang tadinya rebahan malas-malasan tiba-tiba langsung duduk tegak, ia menatap sang ibu dengan intens.


"Aku rasa aku nggak perlu di jaga," ujar Eliza. Ibunya terlihat terkejut mendengar penuturan anaknya itu.


"Kami tahu kamu mencoba melawan trauma kamu, tapi bukan berarti kamu bisa tinggal sendirian, El. London itu nggak dekat dimana kami bisa kesana dalam sekejap mata."


Eliza menghela napas berat kemudian ia kembali merebahkan tubuhnya di sofa. "Kasih aku waktu satu atau dua minggu disana, sendirian."


"Elizabeth!"


"Please, Mommy!" seru Eliza. "Lagi pula sampai kapan kalian akan bergantian menjagaku? Apa selamanya kalian bisa terus menjagaku? Nggak kan? Suatu hari nanti Darrel juga akan menikah, dia akan punya kehidupan sendiri. Dan kalian... Usia juga nggak ada yang tahu kan?" lirih Eliza di akhir kalimat yang membuat sang ibu sebenarnya tertenyuh.

__ADS_1


Akhir-akhir ini putrinya itu memang banyak berubah, lebih bisa berfikir panjang dan terbuka. Lebih dewasa dan bersedia keluar dari zona aman dan nyamannya.


"Okay, Sayang. Kalau memang itu yang kamu mau."


__ADS_2