Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #14 - Demi Dia Yang Berada Di Seberang?


__ADS_3

Saat masuk ke ruangan yang sudah di persiapkan Ruby, seketika Jibril terdiam karena ia melihat Shalwa ada disana. Bahkan, Shalwa pun juga tampak terkejut melihat kedatangan pria yang selalu ia coba lupakan itu.


"Kenalin, gaes. Ini Tuan es batu—"


"Ruby ...." tegur Eliza.


Lamunan Shalwa dan Jibril buyar saat Ruby dan Eliza bersuara, kedua insan itu tampak bingung juga canggung hingga akhirnya Eliza menarik Jibril untuk duduk di kursi yang sudah di siapkan untuknya. Kursi itu berdampingan dengan kursinya dan tepat berada di hadapan Shalwa "Namanya Jibril Emerson, kalian pasti kenal atau tahu lah keluarganya," ujar Eliza.


Shalwa tercengang, ada berbagai macam pertanyaan berkelana dalam benaknya saat ini. Bagaimana Jibril bisa mengenal Eliza? Bukankah Jibril tak pernah punya teman wanita? Dan ... tuan es batu? Ataukah....


"Hari ini kita kedatangan dua tamu yang sedikit berbeda," celetuk salah teman Ruby.


"Yups, kami punya dua teman baru. Tapi khusus dia ini ..." Ruby melirik Jibril yang masih terdiam. "Dia teman special Elizabeth."


"Ck ...." Eliza berdecak sambil mengedipkan matanya.


Satu persatu teman Ruby yang terdiri dari laki-laki dan perempuan itu berkenalan dengan Jibril, dan tak sedikit teman Ruby yang melemparkan tatapan genitnya pada Jibril. Bahkan, mereka mengedipkan matanya pada Jibril yang membuat Jibril sedikit terkejut.


Eliza yang menyadari hal itu langsung menegur mereka yang justru membuat mereka tertawa cekikikan. "Posesisf banget sih kamu ini, El," kata salah satu temannya.


"Belum resmi, kan?" sambung yang lain.

__ADS_1


"Gila sih, sama Darrel aja Eliza posesif. Apalagi sama pasangannya, gimana rasanya jadi pacar Eliza, Jibril?" celetuk yang lain.


"Kami tidak pacaran," jawab Jibril dengan tenang.


Tanpa sadar, Shalwa menghela napas lega saat mendengar jawaban Jibril. Bahkan, kini ia bisa sedikit tersenyum. "Shal, tinggal kamu neh yang belum kenalan sama tuan es batu ini," seru Eliza. "Tapi aku yakin sih, kamu pasti bosen sama dia karena dia itu sangat membosankan," imbuhnya.


"Emm ... hai, aku—"


"Kami sudah saling kenal," potong Jibril yang membuat Shalwa kembali tercengang, padahal tadinya ia akan berpura-pura tak mengenali Jibril. Namun, Shalwa lupa bahwa om Tanvir ini tak bisa berbohong, sama seperti Tanvir.


"Oh ya? Kenal dimana?" pekik Eliza.


"Kami dari desa yang sama," jawab Shalwa dengan cepat, ia menatap Jibril dengan tajam, berbaharap Jibril tak berbicara jujur tentang hubungan mereka.


"Eliza, jangan bahas masalah seperti ini di depan umum!" tegur Jibril dengan cepat.


"Iya, El. Jangan merusak makan malam Ruby dengan hal seperti ini." Shalwa pun menimpali sambil melempar senyum kaku.


"Iya deh. Maaf, ya!"


"Nggak apa-apa," jawab Shalwa dan Jibril bersamaan.

__ADS_1


Sesekali Shalwa melirik Jibril dari ekor matanya, kecemburuan membuncah di hatinya melihat kedekatan Jibril dan Eliza. Apalagi Eliza yang tak terlihat sungkan sedikitpun dengan Jibril dan Jibril selalu menanggapi Eliza dengan santai. Sementara dengan dirinya? Shalwa selalu sungkan dan Jibril pun begitu kaku.


Saat makanan pesanan Ruby datang, semua orang tampak girang. Mereka langsung menikmati makanan itu dengan lahap sambil bergosip ria. Sementara Eliza justru sibuk menikmati cokelat yang di beli Jibril tadi.


"Mau?" Eliza menawarkan pada Shalwa yang duduk di hadapannya, Shalwa pun mengambil cokelat itu dan memakannya. "Tadi Jibril yang beli," kata Eliza sambil tersenyum sumringah yang membuat dada Shalwa semakin sesak.


Bersama Eliza, Jibril begitu banyak berubah. Bahkan, kini ia membelikan cokelat untuk gadis itu? "Aku fikir Jibril cuma bisa beli cokelat untuk keponakannya," sindir Shalwa yang hanya di tanggapi senyum tipis oleh Jibril.


"Sebenarnya aku bohongi dia tadi saat kami makan siang, aku suruh dia beli cokelat sebagai hadiah ulang tahun Ruby. Padahal Ruby alergi cokelat, yang suka cokelat itu aku," ujar Eliza yang justru membuat Jibril terkekeh. Namun, hal itu semakin menaikan bara api cemburu dalam hati Shalwa.


Bahkan, mereka juga makan siang bersama?


Hati Shalwa begitu sesak, ternyata wanita yang telah merebut Jibril darinya adalah Eliza. Orang yang kini sudah ia anggap sahabat.


"Jibril ini orangnya terlalu lurus, Shal. Tadi aku emang cuma bilang belikan cokelat, eh dia benar-benar cuma beli dan nggak di bungkus," kekeh Eliza.


"Ya, dia orangnya memang begitu," jawab Shalwa dengan senyum datar di bibirnya. "Dia apa adanya, jujur dan lurus-lurus aja orangnya," imbuhnya.


"Yups, betul. Untung aja kamu nggak jatuh cinta sama dia, karena dia sangat membosankan dan kaku. Tapi justru itu yang aku suka," celoteh Eliza.


"Kalian saling mencintai, sayangnya cinta kalian tidak akan bersatu. Jibril, kenapa kamu meninggalkanku hanya untuk seseorang yang berada di seberang lautan?"

__ADS_1


...🦋*...


__ADS_2