Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #32 - Aku Mencintaimu...


__ADS_3

"Kadang-kadang kita memang harus mengambil langkah yang bertentangan dengan hati, Shalwa. Meskipun sulit, bukan berarti takkan ada solusi." Shalwa mendengarkan nasihat neneknya itu dengan seksama, ia tidak menginterupsi sedikitpun meskipun sebenarnya Shalwa tak menyukai apa yang di bicarakan sang Nenek. Shalwa merasa terus di desak untuk menerima Farid padahal hatinya benar-benar menolak hal itu.


"Nenek itu sangat mengenal Farid dengan baik, Nenek yakin dia akan menjadi suami yang baik untuk kamu. Bukan hanya karena dia mencintai kamu tapi karena dia juga sangat menghormati keluarga kita. Kamu mau dapat dimana laki-laki seperti itu, Shalwa? Dia bahkan bersedia menerima kamu yang jelas-jelas mencintai Jibril," pungkasnya panjang lebar yang membuat Shalwa semakin merasa serba salah.


"Kasih aku waktu sedikit saja untuk berfikir, Nek," lirih Shalwa kemudian.


Shalwa pun sangat tahu kualitas sepupunya itu, ia juga sering mengatakan perempuan yang akan menjadi istri Farid pastilah sangat beruntung. Pria itu baik hati, lembut, sangat menghormati wanita dan seperti kata Nanek, dia juga sangat menghormati keluarganya selama ini.


Lalu, haruskah Shalwa mencobanya? Taaruf? Meskipun tentu saja ia sudah saling mengenal dengan saudaranya itu. Namun, sepertinya Taaruf juga jalan yang baik.


Setelah mengobrol dengan sang Nenek, Shalwa pun masuk ke kamarnya, ia segera menghubungi orang tuanya dan menanyakan tenang niatan mereka yang ingin menjodohkan Shalwa dengan Farid.


"Apa kalian melakukan ini hanya menutupi rasa malu kita pada tetangga?" tanya Shalwa dengan suara yang rendah.


"Bukan begitu, Shalwa. Tapi kami merasa kamu sama Farid memang cocok, Nak." mendengar jawaban sang ibu, Shalwa hanya bisa menghela napas berat. "Tapi kami nggak maksa kok, semua keputusan kami serahkan sama kamu," imbuh ibunya.


"Iya, Ummi. Aku akan memikirkannya."


...🦋...

__ADS_1


Sesuai keinginan Jibril dan Eliza, kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu bertemu di restaurant Arsyad. Saat Eliza tahu restaurant itu milik Aira dan suaminya, Eliza terkejut dan berdecak takjub.


Jibril membawa Eliza ke sebuah meja yang ada di dekat kolam, sedikit jauh dari orang-orang karena mereka butuh ketenangan untuk membicarakan perasaan mereka yang sudah tak sanggup lagi mereka tahan.


"Kamu ingin bicara apa?" tanya Jibril sembari membantu pelayan menata makanan mereka di meja.


"Perasaanku." Eliza menjawab dengan jujur yang membuat Jibril langsung mengulum senyum. "Kalau kamu?" tanya Eliza malu-malu.


"Sama," jawab Jibril sembari melempar senyum lembut.


"Kalau begitu, kamu duluan yang berbicara," tukas Eliza mempersilakan.


Eliza tampak gugup, ia menarik napas kemudian membuangnya dengan perlahan. Setelah itu ia bertanya, "Kenapa kamu nggak tanya apapun tentangku?" kening Jibril langsung berkerut saat mendengar pertanyaan Eliza. Ia menaikan ujung alisnya. "Saat semua orang merasa aneh ketika aku menjerit atau takut sama orang, mereka akan bertanya ada apa dan kenapa. Tapi kamu tidak mengajukan pertanyaan itu." Jibril teringat dengan kejadian pagi ini di kantornya.


"Sebenarnya aku juga punya pertanyaan yang sama seperti mereka, Elizabeth. Hanya saja ... aku merasa biarkan kamu sendiri yang cerita." Eliza tersenyum simpul mendengar jawaban simple dari Jibril.


"Aku pindah ke London saat usiaku 7 tahun. Aku sekolah dan menjalani kehidupan seperti biasa di sana meskipun ada banyak perbedaan, aku tetap merasa nyaman. Hingga saat usiaku 12 tahun ..." Eliza menahan napas saat ia harus kembali mengingat masa-masa mengerikan itu. Eliza bahkan kini mulai resah dan tangannya berkeringat dingin. Namun, ia memaksakan diri untuk tetap bercerita pada Jibril.


"Kakak kelasku yang katanya menyukaiku, dia menculikku dan melakukan tindak kekerasan. Mereka ..." napas Eliza mulai terasa berat sementara Jibril tetap menanti cerita Eliza dengan sabar. "Dia bersekongkol dengan sopir yang selalu mengantarku kemanapun aku pergi, sopir yang sudah lama bekerja dengan keluarga kami dan sangat kami percaya." Eliza mulai menitikan air matanya saat mengingat masa kelam itu . Bukan hanya fisiknya yang terluka saat itu, tapi juga mentalnya, kepercayaannya pada orang yang sangat di percaya oleh keluarganya.

__ADS_1


"Jangan memaksakan diri, Eliza. Aku mengerti," seru Jibril yang tak tega melihat kecemasan di mata Eliza.


"Aku ingin becerita, cukup dengarkan," kekeh Eliza sambil mengucek matanya. Perlahan, ia menceritakan tragedi itu dengan suara yang tercekat dan air mata yang terus menyalip keluar dari sudut matanya. Jibril selalu mengambilkan tissue untuk wanita itu dan ia mendengarkan dengan baik yang apa yang keluar dari mulut Eliza.


Jibril merinding, ia prihatin dan sama sekali tak menyangka dengan apa yang telah Eliza alami saat masa kecilnya.


"Aku koma beberapa bulan, saat bangun duniaku sudah berubah. Aku berhenti sekolah, aku berhenti keluar rumah dan aku takut bertemu orang asing." untuk yang ke sekian kalinya Eliza mengucek matanya. "Dan saat usiaku 18 tahun, kami kembali ke Indonesia. Kehidupanku sedikit lebih baik, aku kembali berteman dengan Ruby karena memang dia tetanggaku dan temanku sejak kecil. Aku mulai keluar rumah, aku bertemu orang dan tersenyum pada mereka seperti yang di sarankan psikiaterku. Tapi aku nggak bisa membohongi hatiku bahwa sebenarnya aku takut pada mereka semua."


Kini Eliza menatap Jibril yang sejak tadi hanya mendengarkan tanpa mengangkat suara. "Dan saat bertemu denganmu, aku merasakan perasaan yang berbeda. Meskipun kamu pernah menamparku," ucap Eliza sambil terkekeh.


"Entah kenapa justru karena itu aku nggak takut sama kamu. Saat seorang pria mendapatkan ciuman dari wanita, besar kemungkinan pria itu akan membalasnya atau bahkan mengajaknya ke kamar hotel. Tapi kamu menamparku dengan spontan dan setelah itu kamu minta maaf."


Jibril mengulum senyum mengingat pertemuan kedua mereka yang memang penuh kejutan itu. "Percayalah, Eliza! Aku nggak pernah menampar orang sebelumnya, seumur hidup, kamu adalah orang pertama yang aku tampar dan aku harap itu juga terakhir kalinya aku menampar orang," papar Jibril yang juga membuat Eliza kembali terkekeh.


"Dan saat kita bertemu di kolam hari itu ..." wajah Eliza memerah mengingat masa itu. "Mata pria lain akan membualat sempurna dan mereka takkan berkedip melihat wanita berpakaian seperti itu di depan mata mereka, tapi kamu justru membungkus tubuhku dengan taplak meja setelah itu kamu pergi begitu saja. Sejak saat itu aku merasa takkan ada wanita yang dalam bahaya karenamu, aku malu memikirkanmu. Seluruh perhatianku teralihkan padamu hingga tanpa sadar kehadiranmu membuatku melupakan masa laluku."


Tatapan Eliza tiba-tiba berubah menjadi sendu sementara jantung Jibril berdetak lebih cepat mendengar pengakuan Eliza. "Aku mencintaimu, Jibril. Sangat mencintaimu karena kamu membuatku merasakan sesuatu yang tak pernah aku rasakan selama ini."


"Sebenarnya aku juga mencintaimu, Elizabeth."

__ADS_1


...🦋...


__ADS_2