
Ada yang bilang waktu dapat merubah segalanya, tapi nyatanya narasi itu takkan selalu benar. Waktu tak dapat merubah perasaan Jibril maupun Elzara, waktu justru menipu mereka dengan menyembunyikan rasa yang selama ini mereka miliki sehingga meraka berdua mengira perasaan itu telah berubah dan hilang.
Namun, nyatanya tak seperti itu. Waktu menyembunyikan rasa mereka dengan sangat baik seolah menunggu saat yang tepat untuk memunculkannya.
Tak terasa mereka sudah tiga jam berada dalam penerbangan menuju London, baik Eliza maupun Jibril masih sama-sama diam. Christie yang melihat hal itu menjadi gemas sendiri, tapi sayangnya ia tak dapat membantu mencairkan suasana mereka karena Christie sibuk mengurus Ayesha yang kini sedikit rewel. Anaknya itu mengantuk tapi katanya tidak bisa tidur.
Jibril sendiri sibuk membaca sebuah buku, begitu juga dengan Eliza. Sesekali kedua insan itu saling melirik satu sama lain, kemudian membuang muka saat hampir tertangkap basah sedang melirik. Hal itu terjadi lagi dan lagi.
Sebenarnya baik Jibril maupun Eliza sama-sama tidak fokus dengan buku mereka. Namun, mereka butuh pengalihan saat ini. Sesekali Eliza menarik napas panjang saat membayangkan penerbangan ini akan memakan waktu sekitar 10 jam, artinya selama dalam 10 jam ini dia akan berdekatan dengan Jibril.
Entah bagaimana Eliza akan menghadapi beberapa jam ini, fikirnya. Tiba-tiba Eliza merasa ingin buang air kecil, ia mencoba menahannya tapi pada akhirnya ia pun beranjak berdiri. Hal itu menarik perhatian Jibril, ia mendonggk dan menatap Eliza seolah bertanya ada apa.
"Permisi..." hanya satu kata itu yang terucap dari bibir Eliza, itu pun tanpa ekspresi apapun yang membuat hati Jibril langsung mencolos.
Saat Eliza pergi, Jibril hanya bisa membuang napas lesu, Jibril benar-benar tak menyangka Eliza ternyata banyak berubah. Dulu gadis itu sangat ramah, manis dan anegerik. Entah kenapa sekarang gadis itu berubah cuek dan begitu dingin.
Sekali lahgi Jibril menghela napas lesu, setelah itu ia menutup bukunya kemudian kembali memejamkan mata dan menutup wajahnya dengan jaket, sepertinya tidur lebih baik fikirnya.
Sementara di sisi lain, setelah Eliza selesai buang air kecil, ia mencuci tangan nya. Dan setelah itu Eliza menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. "Yang sabar, El. Tuan es batu memang begitu kan dari dulu? Abaikan aja, udah nggak punya urusan juga sama dia," gerutu Eliza.
Eliza pun mencuci wajahnya atau yang dia pelajari itu namanya adalah wudhu, meskipun Eliza tak bisa menghafal niatnya, tapi Eliza ingatan step-step berwudhu itu. Ini adalah hal kecil yang bisa ia pelajari sendiri.
Saat Eliza kembali ke kursinya, ia mendapati Jibril yang sudah menutup wajahnya dengan jaket. Eliza hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia pun menoleh pada Christie yang saat ini justru sudah tidur begitu juga dengan Ayesha.
Saat Eliza hendak kembali ke kursinya, Eliza tersandung kakinya sendiri yang membuat dia terjatuh menimpa Jibril.
Seketika Jibril pun membuka mata dan menarik jaketnya. "Ma-maaf," kata Eliza sembari berusaha tegak, wajahnya sudah merah padam.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Jibril cemas.
"Emm... nggak," jawab Eliza lirih. Eliza pun segera kembali ke kursinya dengan perasaan yang berdebar.
__ADS_1
"Maaf ya," ucapnya kemudian sambil meringis. "Tadi aku kesandung," cicitnya sambil meringis yang di tanggapi dengan senyum hangat oleh Jibril.
Sejenak, suasana kembali canggung, kedua insan itu sama-sama memiliki keinginan untuk membuka obrolan. Namun, keduanya juga sama-sama tak tahu harus memulai dari mana, sehingga...
"KAMU..." Jibril dan Eliza berkata bersamaan.
"Kamu duluan," kekeh Jibril kemudian. Eliza mengulum senyum sembari mencari kata-kata apa yang bisa ia ucapkan sekarang, sementara Jibril menunggu dengan sabar karena ia sendiri tak tahu harus melakukan apa.
"Kamu duluan deh," ujar Eliza akhirnya.
"Loh, kamu duluan!" balas Jibril.
"Nggak apa-apa, kamu aja duluan," balas Eliza lagi.
"Nggak, kamu duluan aja. Ladies first katanya," tukas Jibril tak mau kalah.
"Selain jadi Tuan es batu rupanya kamu jadi tuan keras kepala juga, ya. Namanya laki-laki ya harus ngalah sama perempuan," tukas Eliza yang mulai keluar sifat aslinya. Jibril yang menyadari hal itu justru terkekeh, bolehkah dia mengatakan bahwa ada sepucuk rasa rindu di hatinya dengan sikap Eliza yang seperti ini?
"Ya kalau perempuannya nggak mau jangan di paksa dong!" sergah Eliza yang kini mulai merasa kesal.
"Ya aku bukannya maksa, aku cuma persilakan kamu, tadi kamu mau ngomong apa?"
"Aku juga bingung mau ngomong apa."
Jawaban Eliza itu seketika membuat Jibril tertawa, rupanya wanita itu masih tak berubah seperti dugaan Jibril. Eliza yang di tertawakan kini hanya cemberut, ia pun membuang muka karena merasa malu sendiri dengan jawabannya itu.
"Sebenarnya aku juga bingung mau ngomong apa, makanya aku paksa kamu ngomong duluan," ungkap Jibril kemudian yang membuat Eliza langsung menoleh, wanita itu menatap Jibril dengan tatapan tak bisa Jibril artikan. Namun, Jibril segera menghindari kontak mata dengan Eliza atau Jibril akan kembali tenggelam pada cintanya yang hanya sekedar rasa dalam hati itu.
"Emm kamu apa kabar?" tanya Eliza akhirnya.
"Baik," jawab Jibril sambil membuka bukunya kembali.
__ADS_1
"Emm keluarga kamu apa kabar?" tanya Eliza lagi, ia sedang berusaha mencairkan suasana juga keadaan saat ini karena sepertinya Chris benar, mungkin Jibril bisa membantu Eliza mempelajari keyakinan barunya yang ia anut 6 bulan lalu saat dirinya pergi ke Palestina.
"Baik juga," jawab Jibril santai tapi justru hal itu membuat Eliza menghela napas lesu.
"Terus apa kabar istri dan anak kamu?" tanya Eliza akhirnya dengan nada yang sedikit ketus. Jibril yang di todong pertanyaan seperti itu langsung melotot terkejut, ia terdiam sejenak hingga Eliza kembali mengajukan pertanyaan yang sama. "Mereka baik juga?" tanyanya.
Jibril menyipitkan matanya, keningnya berkerut dan benaknya bertanya-tanya apakah Eliza mengira dirinya sudah menikah?
"Mereka baik," jawab Jibril akhirnya, Jibril berfikir sepertinya akan lebih baik jika Eliza mengira dirinya sudah menikah, mungkin dengan itu keduanya bisa kembali membuat jarak yang panjang.
Sementara Eliza hanya manggut-manggut, ia membayangkan istri Jibril pasti lah sangat cantik, anggun, dan pintar. Jibril juga pasti sangat mencintainya karena Jibril adalah pria yang sangat baik.
Ada setitik rasa cemburu dalam hati Eliza saat mengetahui pria yang masih ia cintai rupanya telah menjadi milik orang lain.
"Anak kamu laki-laki apa perempuan?" tanya Eliza lagi.
"Azmi laki-laki," jawab Jibril dengan jujur. Tentu saja, Azmi memang laki-laki dan bocah itu adalah keponakannya. Tapi Jibril tidak berbohong, ini adalah cara yang di ajarkan oleh Micheal untuk menghindari pertanyaan yang tak bisa di jawab dengan jujur.
"Okay," jawab Eliza akhirnya pasrah. Jibril hanya mengulum senyum tipis.
Sementara itu, Christie kini sudah terbangun dari tidurnya. Wanita itu langsung meminta Eliza menjaga Ayesha karena Christie ingin ke toilet.
"Kamu juga dari belakang, El? Kok wajah kamu basah?" tanya Christie karena memang masih ada bekas air di wajah Eliza.
"Iya, tadi aku wudhu," jawab Eliza yang membuat Jibril terbelalak dan langsung menatap Eliza.
"Wudhu?" pekik Jibril yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Eliza, setelah itu ia berpindah ke kursi Christie untuk menjaga Ayesha. Sementara Jibril termangu di tempatnya, apakah baru saja dia mendengar Eliza mengatakan dia berwudhu?
Jibril melirik tas Eliza yang terbuka, kemudian Jibril mengambil sebuah buku yang tak asing baginya. Buku itu adalah buku panduan cara bersuci dan sholat dengan benar yang biasa di pelajari anak-anak di Madrasah.
"Dia?"
__ADS_1