
Aira senang melihat kakaknya yang kini tampak sangat berbeda, hidupnya seperti mulai memiliki warna dan tidak monoton seperti sebelumnya. Namun, Aira juga cemas karena apa yang membuat Jibril senang adalah sesuatu yang fana dan semu, bahkan sangat berisiko.
Ada banyak hal yang membuat Aira cemas, entah itu hubungan Jibril dengan Tuhan-nya maupun hubungan Jibril dengan keluarganya begitu juga dengan keluarga Eliza. Meskipun Jibril mengatakan ia hanya mengikuti arus dan tidak merencanakan apapun, justru hal itulah yang membuat Aira semakin khawatir.
Cinta itu adalah perasaan yang begitu halus tapi kuat, cinta dapat merubah karakter, cara pandang bahkan keyakinan seseorang.
"Sayang ...."
"Humaira!"
Aira yang saat ini sedang masak air langsung tersentak saat tiba-tiba Arsyad datang dan menepuk pundaknya. "Eh-iya ... kenapa, Mas?" tanya Aira gelagapan.
"Astagfirullah, kamu melamun. Ada apa?" Arsyad balik bertanya sambil mematikan kompor karena airnya sudah mendidih. "Kamu ada masalah? Cerita sama aku, Sayang. Ada apa?" Aira mengulum senyum melihat kecemasan di mata Arsyad.
"Nggak ada apa-apa, Mas. Cuma tadi kefikiran sama keadaan kak Jibril sama Shalwa aja," jawab Aira lirih sembari membuat teh untuk Arsyad juga dirinya.
"Sayang ... nggak usah terlalu memikirkan mereka karena mereka itu sudah dewasa, keputusan yang mereka ambil juga menurut aku sudah benar," tukas Arsyad sambil mengusap kepala sang istri dengan lembut. "Oh ya, gimana acara makan siang kalian? Livia sama Tanvir cerita, katanya kalian makan siang sama tante yang mencium om Jibril kemudian di tampar sama om Jibril dan saat belanja tante itu nggak punya uang," papar Arsyad menirukan apa yang sudah di ceritakan oleh Tanvir dan Livia padanya.
__ADS_1
Aira yang mendengar itu meringis, ia sudah menduga Tanvir dan Livia takkan bisa menjaga rahasia." Apa dia Elizabeth?" tanya Arsyad lagi yang hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Aira.
"Okay, aku faham," ucap Arsyad sambil tersenyum. "Nggak apa-apa, Sayang. Sudah biasa dalam kisah cinta terjadi hal yang tidak kita inginkan, semua itu hanya proses. Dan jika Elizabeth memang jodoh Jibril, kita bisa apa? Kita cuma bisa mendoakan supaya mereka bahagia," ucap Arsyad lagi yang hanya di tanggapi dengan senyum lembut oleh Aira. Andai Arsyad tahu bahwa yang di permasalahkan dalam kisah cinta Jibril bukan pahit manis hanya tentang hati tapi juga tentang keimanan, fikir Aira.
...🦋...
Sementara di sisi lain, Eliza tampak semakin ceria setelah menghabiskan waktu bersama Jibril serta keluarganya. Keceriaan Aira yang berlebihan itu tak luput dari pantauan kedua orang tuanya yang memang selalu memperhatikan Eliza selama ini.
Eliza juga mengirimkan pesan pada Jibril dan ia tak sabar menunggu jawaban dari pria pujaannya itu..
"Aku juga sudah tanya ke Ruby apa kalian makan siang bersama, dan ternyata hari ini Ruby nggak ketemu kamu sama sekali, El. Maksudnya apa?" tanya Darrel penuh penekanan.
"Darrel, turunkan nada bicaramu!" titah Tuan Henry yang melihat Eliza tampak gugup, Darrel pun segera sadar dari kesalahannya.
"Sorry, Baby. Aku cuma cemas karena aku nggak tahu kamu makan siang siapa dan yang mengantar kamu pulang juga siapa," ujar Darrel penuh penyesalan. Ia mendekati adiknya yang hanya tertunduk itu sambil menautkan jari-jemarinya. Darrel mengusap pundak Eliza dengan lembut." Aku nggak bermaksud marah, Dear. Aku cuma khawatir," imbuhnya.
Selama ini Eliza memang tidak pernah berbohong pada keluarganya, lagi pula bagaimana caranya dia berbohong sementara selama ini Eliza sangat bergantung pada mereka semua?
__ADS_1
"Aku ..." Eliza mengangkat wajahnya kemudian ia menatap kedua orang tuanya dan Darrel bergantian, mereka tampak menunggu jawaban Eliza dengan tak sabar. "Aku makan sama Jibril dan saudaranya," ungkap Eliza yang membuat mereka semua terkejut sekaligus bingung. Mereka menatap Eliza dengan kening yang berkerut, raut wajah yang mereka tunjukkan itu membuat Eliza merasa tak nyaman.
...🦋...
Di sisi lain, Jibril yang saat ini baru selesai mandi langsung memeriksa ponselnya, ia tersenyum saat mendapatkan pesan dari Eliza yang berisi ucapan terima kasih atas makan siangnya. Eliza mengaku sangat senang mengenal keluarga Jibril dan ia ingin memperkenalkan Jibril dengan kekeluarganya juga.
Entah kenapa, Jibril senang membaca pesan itu. Ia merasakan kebahagiaan yang tak biasa, ada desiran asing yang menyapa hatinya dan menggelitik jiwanya. Rasa yang terasa begitu indah dan penuh warna, rasa yang tak pernah Jibril rasakan selama ini.
Namun, saat hendak membalas pesan Eliza. Jibril justru mendapatkan pesan dari Aira.
^^^Humaira^^^
^^^"Cinta itu adalah perasaan terindah dan memiliki tahta tertinggi dalam hidup kita dan dalam hati kita. Tapi, cinta dengan tahta tertinggi adalah cinta kepada Dia sang maha cinta. Selain anugerah, cinta pada sesama makhluk juga merupakan cobaan bahkan goda'an yang begitu halus."^^^
Jibril terhenyak membaca pesan itu, hatinya seolah tersentil. Apakah cintanya pada Eliza merupakan anugerah ataukah memang hanya cobaan?
...🦋...
__ADS_1