
Aku cuma mau memastikan, apa wanita yang kamu maksud itu adalah Elizabeth?" tanya Shalwa yang juga tak bisa basa-basi.
Jibril mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Shalwa, hal itu seketika membuat kedua mata Shalwa langsung berkaca-kaca. Namun, Shalwa takkan membiarkan air mata kembali keluar dari pelupuk matanya lagi dan lagi.
"Kenapa, Jibril? Apa kamu betapa besar perbedaan kalian?" Shalwa bertanya dengan suara yang bergetar, hatinya semakin sakit. Namun, ia tahu kini ia tak berhak lagi menangisi pilihan hati Jibril.
"Aku tahu," jawab Jibril sambil menundukkan wajahnya, ia menarik napas panjang.
"Terus? Kamu masih mau mencoba sesuatu yang sudah kamu tahu itu nggak akan mudah? Itu cuma akan menyakiti diri kalian sendiri."
"Aku nggak sedang mencoba apapun, Shalwa. Aku akan membiarkan semuanya mengalir apa adanya—"
"Kamu terlalu naif, Jibril!" potong Shalwa dengan cepat. "Sesuatu yang kamu biarkan mengalir apa adanya bisa jadi suatu hari nanti akan menenggelamkan kamu!" tekannya.
Jibril terdiam, ia memang tidak memiliki rencana apapun tentang perasaannya terhadap Elizabeth. Ia hanya melangkah mengikuti kemana arah angin membawanya.
__ADS_1
"Jadi ... kamu adalah pria yang menampar Eliza saat Eliza menciummu?" tanya Shalwa yang lagi-lagi hanya di jawab anggukan oleh Jibril. "Jika Eliza bertanya tentang siapa mantan calon istrimu, kamu akan jawab apa? Apa kamu akan menjawab bahwa aku lah orangnya? Keliatannya kamu pasti akan menjawab jujur seperti tadi malam."
"Hem," jawab Jibril yang lagi-lagi mengangguk. Shalwa menghela napas berat, ia menatap mantan calon suaminya itu dengan nanar.
"Nggak semua hal harus kamu jawab jujur, Jibril!" desis Shalwa kemudian yang membuat Jibril terhenyak. "Terkadang kejujuran itu lebih baik di simpan supaya tidak menyakiti banyak hati," imbuhnya.
Setelah mengucapkan kata itu, Shalwa beranjak dari tempat duduknya dan melenggang pergi begitu saja. Meninggalkan Jibril dalam kebingungan akan apa yang sebenarnya di inginkan Shalwa, kenapa Shalwa seolah tak ingin Eliza tahu tentang hubungan masa lalu mereka?
Jibril teringat dengan apa yang di katakan Eliza, apa yang di katakan oleh wanita adalah kebalikan apa yang di inginkan hatinya. Jibril meringis, ternyata sesulit ini memahami seorang wanita.
Jika memang Jibril mencintai Eliza, Shalwa tak bisa apa-apa. Ia justru merasa kasihan pada pria pujaannya itu yang terlalu naif, mengikuti arus tanpa merencanakan apapun. Shalwa tahu, cinta seperti itu akan sangat sulit. Namun, Shalwa tak punya hak untuk menghentikan Jibril ataupun Eliza. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah mendo'akan yang terbaik untuk pria yang di cintainya juga untuk sahabat barunya.
...🦋...
Sementara di sisi lain, keluarga Jibril dan keluarga Shalwa kini tak lagi memiliki hubungan yang rekat seperti dulu. Kedua keluarga sudah mencoba bersikap layaknya tak ada masalah yang memalukan, sudah berusaha mengembalikan keadaan seperti dulu. Namun, nyatanya kertas yang sudah di remas takkan pernah bisa kembali ke bentuk semula.
__ADS_1
Di tambah omongan para tetangga seperti wabah yang tak ada habisnya, mungkin hari ini tak ada orang yang membicarakan. Namun, esok pasti akan ada satu orang yang kembali menyindir topik itu lagi dan lagi.
Setelah memikirkan banyak hal, keluarga Shalwa justru memutuskan untuk menjodohkan Shalwa dengan sepupunya sendiri. Mereka berharap, setelah pernikahan Shalwa nanti para tetangga takkan lagi membicarakan anak-anak mereka.
...🦋...
Eliza kembali menemui psikiaternya untuk bercerita apa yang ia alami, lakukan dan sebagainya. Bahkan, Eliza juga memberi tahu bahwa semalam ia tidur sangat nyenyak. "Selama 11 tahun ini, rasanya baru tadi malam aku bisa tidur nyenyak tanpa obat tidur," ujar Eliza dengan senyum sumringah yang mengembang di bibirnya.
"Aku ikut senang dengan perubahanmu, Eliza. Cinta memang adalah obat yang paling mujarab, cinta bisa membuat orang gila jadi waras dan membuat orang waras jadi gila," gurau dr. Alma yang membuat Eliza langsung tertawa. dr. Alma terkesima melihat tawa Eliza yang begitu lepas, matanya berbinar, sangat berbeda dari biasanya.
"Oh ya, Dok. Tolong rahasiakan ini dari keluargaku, biar aku sendiri yang memberi tahu mereka nanti," pinta Eliza yang tentu saja akan di sanggupi oleh dr. Alma.
Setelah selesai sesi curhat bersama dr. Alma, Eliza pun pamit pergi. Ia ingin menjemput Ruby ke kampusnya. Sore ini mereka berencana nonton sebagai ganti karena hari minggu sebelumnya mereka gagal nonton.
Saat menyetir sambil mendengarkan musik, tiba-tiba perhatian Eliza tertuju pada seorang anak yang di seret oleh seorang pria dewasa. Seketika bayangan masa lalu Eliza kembali berputar dengan begitu jelas dalam benaknya. Dada Eliza terasa sesak, kepalanya pusing, pandangannya mulai tak fokus hingga akhirnya ia menabrak sebuah mobil yang melaju pelan di depannya dengan cukup keras.
__ADS_1
...🦋...