
Waktu bergulir dengan cepat, tanpa terasa banyak hal yang dulu di takuti ternyata kini bisa di lalui dengan baik. Seperti seseorang yang melihat kegelapan di depan sana, ia takut untuk melangkah. Merasa takkan sanggup, merasa pasti tersesat. Namun, ketika jalan itu di hampiri, ternyata ada sedikit cahaya terang yang lebih dari cukup sebagai petunjuk jalan.
Seperti halnya yang di rasakan oleh Eliza, awalnya ia selalu melihat kegelapan di sekitarnya sehingga ia hanya berdiam diri dalam satu tempat selama bertahun-tahun. Sehingga akhirnya ia bertemu dengan satu titik cahaya dalam hidupnya yang menuntut Eliza untuk melangkah dan menjelajahi hidupnya.
Dan ternyata Eliza melihat ada banyak cahaya dan warna, membawa Eliza pada kehidupan yang kini memiliki makna.
Hidup Eliza telah bermakna terutama saat ia bergabung dalam sebuah komunitas yang menjadi tempat curahan wanita-wanita yang kehilangan kehormatannya entah karena di lecehkan, salah pergaulan, kekerasan ataupun masalah yang lainnya.
Eliza hadir sebagai salah satu motivator untuk mereka, yang memberikan motivasi dan inspirasi bahwa hanya karena terjadi sebuah tragedi yang tak di inginkan itu takkan membuat hidup mereka berakhir.
Yang membuat hidup mereka berakhir adalah ketika mereka menyerah pada keadaan dan situasi, ketika mereka menyerah pada rasa takut dan trauma. Ketika mereka merasa bahwa mereka lemah padahal mereka belum mencoba untuk kuat.
Selain melakukan berbagi aktivitas sosial, Eliza juga melakukan hal untuk hidupnya sendiri. Yaitu bisnis, seperti yang selalu di inginkan oleh Darrel dan kedua orang tuanya selama ini. Eliza juga berinvestasi pada hotel yang kini di bangun dengan nama Galaxy Star Hotel. Tentu saja investasi itu bukan dari yang pribadi Eliza karena sampai detik ini ia belum bisa menghasilkan uang, seluruh biaya hidupnya masih tanggungan kedua orang tuanya. Namun, investasi itu atas nama Eliza karena sebagai salah satu pewaris kekayaan keluarganya, Eliza juga punya saham dan property dan saham yang tak sedikit.
Tak jauh beda dengan Eliza, Jibril pun dalam keadaan yang sama. Hidupnya masih sama seperti dulu, seperti saat ia belum bertemu dengan Eliza. Namun, yang berbeda sekarang adalah adanya rasa rindu dalam hati untuk wanita itu. Rasa rindu yang terasa manis sekaligus menyesakkan dada.
Walaupun begitu, Jibril sangat menikmati hidupnya yang sekarang. Apalagi kini ia punya keponakan baru yang sangat tampan dan menggemaskan.
__ADS_1
"Adiknya lucu sekali, andai kita punya adik bayi seperti ini yang banyak, pasti seru," celoteh Tanvir sambil menatap bayi laki-laki yang ada dalam gendongan Jibril.
Hari ini Aira melahirkan putra keduanya dengan sehat dan selamat, sekali lagi keluarga kecil sang adik telah di berikan karunia yang sangat luar biasa setelah berbagai macam badai menerpa rumah tangga mereka selama ini.
Demi melihat keponakannya yang baru lahir, Jibril rela membatalkan pertemuannya dengan rekan bisnisnya. Entah kenapa ia merasa sangat tak sabar untuk melihat malaikat kecil itu.
"Iya, Via suka adik bayi," sambung Via. "Tapi kenapa adik bayinya laki-laki? Kan Via pengen adik perempuan juga," imbuhnya yang membuat Jibril terkekeh. Begitu juga dengan Aira dan Arsyad.
Selama ini Via dan Tanvir memang selalu mengatakan ingin adik perempuan karena mereka sudah punya adik laki-laki, tapi jika yang Tuhan berikan adalah laki-laki, maka anugerah itu sama sekali tidak terasa berkurang karena anak adalah anak. Anugerah tetaplah anugerah.
"Tapi nanti Via tidak punya teman bermain, Ummi. Kak Tanvir larang Via main-main sama orang," keluh Via.
"Itu demi kebaikan kamu, Livia. Jangan ngeluh deh kalau sudah di sayang sama kakak," seru Tanvir dengan rasa percaya diri yang tinggi.
"Bukan mengeluh, Kakak. Tapi kalau ada adik bayi perempuan pasti lucu," balas Via.
"Ya sudah, kalau gitu kita suruh Om Jibril aja buat adik bayi perempuan," celetuk Tanvir dengan entengnya yang membuat Jibril melongo. "Habisnya Mama nggak mau ngasih kita adik bayi, Tante Aira selalu ngasih adik bayi laki-laki. Sekarang harapan kita cuma Om Jibril untuk memberikan kita adik bayi perempuan," ujarnya panjang lebar dengan raut wajah yang begitu pasrah.
__ADS_1
Awalnya Jibril kesal dengan ocehan bocah itu, tapi melihat raut wajah Tanvir, Jibril justru terkekeh geli.
"Aamiin ...," sambung Aira tiba-tiba yang langsung membuat Jibril menatap adiknya itu. "Kenapa lihat aku begitu, Kak? Apa salah aku mengaminkan do'a Tanvir?" tanya Aira sambil mengulum senyum.
"Aku rasa dia belum move on," sambung Arsyad sambil terkekeh.
"Sudah aku lakukan segala cara, tapi ternyata tak semudah itu," jawab Jibril sambil mengulum senyum.
Sekarang Jibril bisa tersenyum saat mengingat cintanya yang masih tak mampu ia gapai, pertanda cinta itu tak lagi memberinya luka meski juga tak memberinya bahagia.
Jibril berusaha move on, melupakan wanita yang menjadi cinta pertamanya. Namun, nyatanya itu lebih sulit dari yang ia bayangkan sehingga Jibril menyerah dan membiarkan rasa itu tetap ada dalam hatinya. Ia hanya bisa berharap waktu dapat menghapus cinta itu.
Bisakah?
🦋🦋🦋
Hem, habis ini part yang kalian tunggu 😎 sat set sat set aja yak.
__ADS_1