Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #51 - Permainan Takdir


__ADS_3

Jibril berlari di Bandara dengan tergesa-gesa karena ia sudah terlambat, dan Jibril adalah penumpang terakhir yang kini sudah tiga kali namanya di panggil.


Meskipun ayahnya punya jet pribadi dan sebenarnya itu sangat bermanfaat, tapi tidak kali ini. Ada suatu masalah yang terjadi sehingga Jibril harus naik pesawat umum.


Napas Jibril terengah, buliran keringat tampak di pelipisnya. Rambutnya yang sudah sedikit panjang itu sampai sedikit lengket. Namun, pemandangan itu justru terlihat sangat menarik bagi beberapa wanita tak terkecuali sang pramugari yang mengarahkan Jibril ke kursinya.


Jibril hanya memakai jeans biru, kaos hitam seperti biasa dan ransel yang hanya berisi laptop dan ponsel, dan beberapa barang penting lainnya. "Ada yang mau di taruh di atas tasnya, Pak?" tanya sang pramugari yang sebenarnya hanya mencari alasan agar punya sedikit kesempatan untuk berbicara dengan Jibril. Padahal sebenarnya ia tahu tas Jibril sama sekali tidak berat, itu terlihat jelas.


"Tidak ada, terima kasih," jawab Jibril sembari menjatuhkan bokongnya di kursi. Di sisi Jibril ada seorang wanita yang wajahnya di tutupi dengan jaket, kelihatannya wanita itu sedang tertidur.


"Ada yang lain, Pak?" tanya sang pramugari lagi yang membuat Jibril langsung menaikan ujung alisnya. "Maksud saya ... mungkin Anda butuh sesuatu, air? Minuman? Kelihatannya Anda sangat kelelahan," imbuhnya.


"Iya, tadi aku lari karena terlambat." jawab Jibril dengan ramah. "Tapi aku sedang tidak haus, terima kasih." lanjutnya. Pramugari itu pun pergi sambil melirik Jibril dari ekor matanya.


Tak berselang lama pesawat pun lepas landas, Jibril melirik wanita di sampingnya yang masih menutup wajahnya. Bahkan, wanita itu tak bergerak.


Jibril pun menyenderkan kepalanya ke senderan kursi, ia mengambil jaket dari tasnya kemudian menutup wajahnya. Perlahan alam mimpi menjemput Jibril, ia tenggelam dalam mimpi yang terasa begitu indah.


Saat Jibril terbangun, ia tak melihat wanita di sampingnya. Jibril melirik arlojinya dan ternyata ia sudah tertidur selama satu setengah jam.


Saat Jibril hendak berdiri, ia bertabrakan dengan seorang wanita yang tadi duduk di sisinya.


"Maaf," ucap Jibril.


"Nggak apa-apa," jawab wanita itu sambil tersenyum. Ia pun kembali ke kursinya sembari mengikat rambutnya yang sejak tadi tergerai bebas. Tanpa sadar Jibril menjatuhkan jaketnya dan wanita itu pun juga tanpa sadar menginjak Jibril.


Jibril pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Setelah itu ia kembali ke kursinya dan Jibril melihat wanita itu memegang Bible. Jibril yang melihat jaketnya di injak oleh wanita itu hendak menegurnya. Namun, melihat wanita itu fokus membaca kitab suci yang ia pegang, Jibril mengurungkan niatnya, ia tak ingin mengganggu.


Jibril pun mengeluarkan kitab sucinya sendiri juga tasbih dari tasnya. Untuk mengisi waktu, ia membaca kitab itu pelan-pelan. Sementara wanita di sampingnya baru menyadari ia menginjak jaket Jibril saat ia menunduk untuk mengambil air minumnya yang jatuh.

__ADS_1


Wanita itu segera mengambil jaket Jibril, ia membersihkannya. Namun, ia tak langsung memberikannya pada Jibril karena ia tahu Jibril sedang berdo'a.


Setelah Jibril selesai dengan aktivitasnya, wanita itu langsung mengembalikan jaket Jibril sambil mengucapkan maaf. "Aku benar-benar nggak sadar udah nginjak jaket kamu, maaf ya?" wanita itu terlihat sangat menyesal, sementara Jibril justru terkekeh.


"Nggak apa-apa," jawab Jibril santai.


"Kenapa kamu nggak bilang kalau aku nginjak jaket kamu?" tanya wanita itu yang meyakini Jibril pasti melihat jaketnya di injak.


"Tadi kamu lagi fokus berdo'a, jadi aku nggak mau ganggu," jawab Jibril sambil melempar senyum.


"Wah, terima kasih. Padahal cuma bilang kalau jaket kamu di injak sama aku, itu nggak akan ganggu," tukas wanita itu.


"Kamu juga bisa mengembalikan jaketku tanpa menunggu aku selesai berdoa, itu juga nggak akan ganggu," pungkas Jibril yang juga menyadari tadi wanita itu hendak memberikan jaketnya.


"Kamu keliatan fokus banget sama do'a kamu, jadi aku nggak mungkin ganggu orang yang sedang fokus berkomonikasi sama Tuhan," jawab wanita itu yang membuat Jibril merasa takjub. "Oh ya, nama Christie Whitney. Nama kamu?"


"Jibril."


Tanpa ragu Christie bertanya tentang status Jibril, dan ia sangat terkejut ketika mengetahui bahwa pria tampan di sampingnya ini masih lajang. Christie sendiri mengaku sudah menikah dan memiliki seorang putri yang kini berusia 4 tahun. Ia ke Amerika untuk mendatangi adik ipar dan putrinya, setelah itu mereka akan ke London bersama. Christie sendiri adalah seorang dokter bedah.


Jibril yang mendengar cerita itu cukup terkejut karena setelah proyeknya selesai yang di Amerika, ia juga harus terbang ke London.


"Aku hanya dua hari di LA," kata Jibril.


"Sama," jawab Christie.


"Tapi kenapa adik ipar dan putrimu bisa ada di LA?" tanya Jibril kemudian.


"Sebenarnya mereka pergi bersama suamiku untuk liburan, aku nggak bisa ikut karena waktu itu ada beberapa operasi penting yang harus aku lakukan. Dan sekarang suamiku sudah ke London untuk pekerjaan, sementara adik iparku masih punya pekerjaan di Amerika. Dan sekaligus putri ku ingin memperpanjang liburan katanya,"' tutur Christie panjang lebar. Jibril manggut-manggut mengerti.

__ADS_1


"Oh ya, adik iparku itu sama kayak kamu lho. Sekarang dia sudah 28 tahun tapi masih enggan menikah. Aku sampai takut dia nggak normal atau punya kelainan. Tapi dia bilang ingin fokus pada hidupnya sendiri dulu," kekeh Christie.


"Yeah, aku juga memikirkan hal yang sama," sahut Jibril dengan suara rendah.


"Apa kamu seperti ini karena patah hati?" tanya Christie yang membuat pupil mata Jibril melebar karena terkejut.


"Hah?" Christie langsung tertawa saat melihat reaksi Jibril, dari reaksi Jibril itu Christie menyadari tebakannya benar. Hal itu membuat Jibril salah tingkah.


"Yeah, kadang-kadang ada beberapa manusia gila yang nggak bisa move on dari seseorang. Atau mungkin juga jodohnya masih jauh. Entahlah, tapi apapun keputusan kalian. Menurutku nggak salah, semua benar dalam cinta."


"Kamu benar," sahut Jibril mengulum sentuh tipis.


Obrolan kedua insan itu terus berlanjut hingga keduanya kembali tertidur setelah sama-sama makan dan kenyang.


Christie juga menanyakan tentang keluarga Jibril, tentu Jibril hanya bercerita seadanya saja. Begitu sebaliknya.


Setelah menempuh perjalanan yang hampir 19 jam, akhirnya pesawat mendarat di Bandara internasional Los Angeles.


Karena Jibril tak di jemput oleh siapapun, Christie mengajaknya pergi bersama. Awalnya Jibril menolak, tapi Christie memaksa.


"Aku rasa kita bisa pergi minum kopi bersama, anggap saja sebagai perayaan pertemanan kita yang sangat singkat ini," tukas Christie.


"Okay," jawab Jibril akhirnya.


Christie pun celingukan mencari sang adik yang menjemputnya. Dan Christie tertawa saat melihat putrinya yang di angkat oleh seorang wanita, putrinya itu melambaikan tangan pada Christie sambil tersenyum lebar.


"Mereka ada disana! Lihat putri ku, dia paling menonjol!" seru Christie. Jibril pun mengikuti wanita itu dan seketika langkahnya terhenti saat ia melihat siapa yang mengangkat tubuh putri Christie.


"Eliza..."

__ADS_1


...🦋...


__ADS_2