
Eliza tahu apa yang di katakan Shalwa benar. Namun, entah mengapa ia tak mau menerima fakta itu. Eliza sangat mencintai Jibril, pria itu adalah cinta pertamanya. Orang asing pertama yang membuat Eliza merasa nyaman dan aman.
Dari cara Jibril berbicara dengannya, menatapnya dan berinteraksi dengannya. Di saat cinta itu terasa begitu indah, kenapa ia harus di hempaskan ke dasar jurang dengan alasan perbedaan?
Jibril pun merasakan hal yang sama, mudah sekali baginya untuk mengatakan ia akan menjauhi Eliza. Namun, ternyata apa yang terucap dari bibir sangat sulit di terima oleh hati.
Dua hari sudah berlalu sejak Darrel datang ke kantornya, dan selama dua hari ini ia tidak berinteraksi sekali pun dengan Eliza. Begitu juga dengan Eliza, sejak apa yang di katakan oleh Shalwa, ia seolah ingin menarik diri dari Jibril.
Namun, selama dua hari ini ia begitu tersiksa. Seperti ada yang hilang dari dirinya, seperti ada yang kosong di hatinya. Hal yang sama di rasakan oleh Jibril hingga ia membutuhkan orang lain untuk memahami perasaannya.
__ADS_1
"Melupakan seseorang yang kita cintai tanpa sengaja itu sangat sulit, Jay. Apalagi jika itu cinta pertama." Jibril yang mendengar ucapan kakeknya itu menghela napas berat.
"Aku nggak sengaja jatuh cinta sama dia, kakek Bilal. Semua itu terjadi begitu aja," pungkas Jibril membela diri yang langsung membuat kakeknya itu tertawa. Ia pun memanggil istrinya dan tak berselang lama, wanita yang telah menjadi bidadarinya dari muda sampai keriput seperti sekarang itu datang menghampirinya.
"Dulu aku juga mengatakan hal yang sama pada ayah mertua ku, Jay. Aku tidak sengaja jatuh cinta pada Zahra, dan dia menertawakanku. Dia bilang, yang namanya jatuh ya pasti tidak sengaja. Tiba-tiba aja kita udah terjerambab di tanah," pungkas pria yang sudah tak muda lagi itu tapi tetap tampan berkharisma.
"Benar apa yang di katakan Kakek, Jibril. Dia juga dulu jatuh cinta sama Nenek tanpa tahu nama dan sebagainya. Yeah, namanya juga cinta, iya 'kan, Bilal?"
Hal ini lah yang membuat Jibril kagum pada pasangan kakak nenek yang satu ini. Sama seperti kisah cinta orang tua Jibril yang tak mudah, kisah cinta mereka juga di lewati dengan luka dan air mata. Ah, atau jangan-jangan memang setiap kisah cinta tak ada yang mudah.
__ADS_1
"Jibril, nama kamu itu indah lho, tapi kenapa si Firda malah manggil kamu Jay? Ada-ada aja ini, somplak ibumu itu," tukas Nenek Zahra yang membuat Jibril langsung tertawa kecil.
Tadinya, Jibril datang untuk meminta pendapat kakek Bilal karena ia tahu kakeknya yang satu ini sangat bijak dalam menanggapi suatu masalah keluarganya. Bukannya Jibril menganggap orang tuanya sendiri tak bijak, hanya saja Jibril tak ingin membuat cemas akan apa yang di alami Jibril sekarang. Karena itulah Jibril memilih mengutarakan keadaan dan perasaannya pada kake Bilal.
"Jika cinta itu selalu benar, lalu bagaimana aku menyikapi cinta pada orang yang salah, Kek?"
"Tinggalkan!" jawab kakek dengan tegas yang membuat hati Jibril terkesiap. "Kenapa? Kamu merasa nggak sanggup?" tanya kakek.
Jibril bergeming, sanggup? Seharusnya ia sanggup apalagi selama ini ia dan Eliza memang tak menjalin hubungan resmi, tapi mengingat bagaimana ia tersiksa selama dua hari ini. Mungkinkah ia akan benar-benar sanggup?
__ADS_1
" Jibril, kalau kamu mencintai seorang gadis. Kamu cuma punya dua pilihan, tinggalkan atau halalkan!"
...🦋...