
"Astaghfirullah loh jangan main-main gue nggak lihat apa-apa". Kata Andra seraya mengerem mendadak.
"Ndra hati-hati bawa mobilnya nak". Kata Dinda mengingatkan.
"Dia bun ngagetin aja". Kata Andra menyalahkan Diana.
"Nggak nakutin tante tapi beneran"kata Diana ketakutan.
"Ya udah bacain ayat kursi aja ntar juga hilang" Kata yanda ikut mengingatkan mereka semua.
"Dia udah nggak ada lagi kok"kata Diana memastikan.
"Dia ngikutin kita" bisik Shafa tepat di telinga Diana.
"Apa" kata Diana kaget.
"Loh ngapain sih ngomong sendiri mau jadi orang gila ya?" Kata Andra menyindir Diana.
"Dia nggak ngomong sendiri Ndra pasti lagi ngobrol sama, hantu tuh."Kata Indra.
"Udah lanjutin perjalanan lagi. Biar cepat sampai"kata Indra mengingatkan sang adik agar melanjutkan perjalanan
Mendengar perdebatan kedua, kakak beradik itu Diana pun hanya terdiam.
"Iih iya bawel banget sih". Kata Andra kesal.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit akhirnya mereka pun berhenti di sebuah rumah di pinggir jalan.
Rumah tua nampak tak terurus. Melihat rumah itu sontak semua langsung heran.
"Loh nggak salah.nih rumah nya?"Tanya Andra heran.
"Gue nggak tau kalau kata Shafa sih iya tapi kenapa kayak nggak ada kehidupan di rumah ini".jawab Diana yang juga merasa heran.
"Wah parah jangan-jangan tuh hantu bohongin kita nih" tuduh Andra.
"Udah ayo kita tanya aja". Ajak Lyan.
Tiga kali mengucapkan salam dan mengetuk pintu kayu itu namun tak juga ada jawaban.
"Gimana nih jangan-jangan salah alamat". Kata Indra.
"Eh di situ ada warung yah coba tanya di situ aja dulu" Tunjuk Dinda pada sebuah warung di seberang jalan.
__ADS_1
Keluarga itupun menghadapi warung yang di maksud Dinda.
"Assalamu'alaikum" ucap Lyan
"Wa' alaikumsalam" jawab pemilik warung seraya keluar dari dalam rumahnya.
"Maaf buk numpang nanya boleh?". Kata Dinda pelan saat pemilik warung itu telah dihadapan nya.
"Iya boleh buk" Jawab ibu pemilik warung
"Itu benar rumah nya mbah guntur ya buk?" Tanya Dinda seraya menunjuk rumah yang telah mereka datangi tadi.
"O itu iya buk benar rumah mbah guntur" Jawab si pemilik warung.
"Kita udah ke sana buk tapi nggak ada orangnya"sambung Andra.
"Sekarang jam berapa ya? ". Tanya ibu pemilik warung.
"Jam setengah 12 buk" Jawab Diana.
"O jam segini dia pasti masih di kebun pak buk.Paling sebentar lagi juga pulang buk soalnya dia biasa pulang sebelum azan zuhur" Kata Ibu pemilik warung.
"O berati benar ya buk itu rumahnya Terima kasih buk". Kata Lyan.
"Silahkan duduk dulu buk pak,buk. Biar saya buatkan minum biar enak nunggu nya" Kata pemilik warung mempersilahkan mereka semua duduk.
Namun pemilik warung tetap pergi meninggalkan mereka.
"Gimana yah?" Tanya Dinda.
"Ya sudah tunggu aja nanti kita pergi mala dia keluar benar-benar bawa minuman kan nggak enak bun" Jawab Lyan.
Lalu mereka pun duduk di kursi kayu yang telah tersedia di depan warung sang ibu tadi.
"Loh kenapa serius banget perhatikan tuh rumah?" Tanya andra yang penasaran dengan tatapan diana yang tak pernah lepas dari rumah tua yang seperti tak berpenghuni itu.
"Jangan-jangan rumah itu banyak penghuni alam gaib nya ya?" Lanjut Andra asal tebak.
"Nggak kok rumah itu bersih sama kayak rumah kalian mungkin rumah itu juga dipagari. Apa jangan-jangan rumah kalian mbah itu yang pagari?"Tanya Diana heran
"Mana gue tau. Kelihatan juga nggak". Jawab Andra ketus.
Saat tengah asik ngobrol tiba-tiba ibu pemilik warung keluar dengan membawa teh panas serta goreng pisang yang juga masi panas.
__ADS_1
"Ini bu pak. Silahkan di minum teh hangat dan ini pisang nya. Maaf hanya goreng pisang yang ada". Kata ibu itu seraya meletakkaN makanan dan minuman yang ia pegang.
"Aduh makasih ya bu. Maaf kita ngerepotin". Kata dinda tak enak akan perlakuan sang pemilik warung. Karena merasa zaman sekarang ada orang yang rela menyiapkan makanan untuk tamu yang entah dari mana datangnya.
"Bun kakak makan ya pisang nya menggoda banget bun bikin lapar". Pamit Andra seraya mengambil pisang goreng yang telah di sediakan.
Melihat andra mulai memakan pisang goreng pun membuat yanda dan diana tak tahan ingin ikut mencicipi pisang itu. Mereka pun mulai memakan nya. Kecuali Indra yang masih sibuk akan ponsel nya entah apa yang ia pikirkan.
"Wih enak ya kak pisangnya" Kata Yanda.
"Ibu pintar banget masak nya." Sambung Diana.
"Kakak nggak pernah makan pisang goreng ginian loh dek" Kata Andra pada sang adik.
"Masa iya dek ini cuma goreng pisang biasa kok cuma pakai tepung aja" Kata Si pemilik warung.
"Masa iya buk tapi ini enak banget loh buk? " Tanya Andra heran
"Mungkin adik nggak pernah makan aja jadi berasa enak kalau sudah tiap hari anak saya juga bilang rasanya biasa kok kayak rasa pisang. Hehe" kata ibu itu sambil tertawa.
"Kalau boleh tau ibu dan Bapak kenapa cari mbah guntur? Ada yang sakit ya bu pak?" Tanya Ibu pemilik warung.
Mendengar ucapan wanita itu membuat mereka tersedak dan berhenti makan.
"Maaf buk kalau bikin kaget ini di minum dulu". Kata wanita itu seraya memberikan minuman kepada Dinda.
"Kok ibu bisa tau bu maksud kedatangan kami ke sana?" Tanya Dinda heran.
"Ibu baru saya tanya gitu aja kaget. Nanti ibu pasti lebih kaget ketemu sama mbah guntur di tau maksud kedatangan ibu dan bapak tanpa kalian beritahu. Kalau saya tahu mah karena rata-rata orang ke sana mau berobat buk. Nggak ibu aja saya sering nanya kenapa cari rumah pak guntur ya orang-orang jawab mau berobat mangkanya saya tau buk". Kata wanita itu sambil tertawa.
"Oh gitu buk" Kata Dinda.
"Emang udah banyak ya yang berobat sama mbah guntur? " Tanya Lyan
"Bukan banyak lagi pak tapi mungkin udah ribuan lebih yang berobat sama dia". Kata wanita itu.
"Eh itu mbah guntur sudah pulang" tunjuk penjual warung pada laki-laki yang sudah tua membawa cangkul sedang berjalan di seberang jalan.
"Duh udah kayak kakek cangkul aja. Serem". Kata Andra.
"Hus kakak kok ngomong gitu ntar di dengar orang nggak baik loh". Kata yanda menepuk pundak sang kakak.
"O iya iya sorry" Jawab Andra.
__ADS_1
__**__ untuk yang sudah baca tinggal kan jejak dong. jangan lupa Like dan komen,agar author lebih semangat lagi.👌👌👌
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏👌👌👌👌👌