
Pagi harinya Melvin sudah berangkat kerja sedangkan mika di mansion tidak berangkat kerja karena pak manajernya memberikan cuti selama dua hari untuk nya dan mbk Ratna setelah itu baru masuk kerja.
Saat sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga tiba-tiba handphone mika berdering menandakan ada telepon masuk.
Saat dia melihat siapa itu ternyata adalah pak Mario sekertaris sang papa yang juga orang yang membantu mika untuk mengawasi papa nya dalam mengelola perusahaan.
"Pak Mario? Ada apaan ya?!" tanya mika kepada dirinya sendiri setelah itu langsung mengangkat telepon tersebut takut kalau ada yang penting.
[Halo, pak.]
[Nona,]
[Iya, pak. Ada apa?]
[Begini nona, sekarang tuan sekarang berada di rumah sakit!] ucap pak Mario di sebrang sana yang langsung membuat mika terkejut.
[Apa! Bagiamana bisa pak? Sekarang papa di rumah sakit mana?]
[Saya juga tidak tahu nona tapi dokter bilang dari sepertinya tuan habis terjatuh karena terdapat benturan di kepala dan kakinya juga mengalami patah tulang nona, saya akan kirimkan alamat rumah sakitnya nona.]
[Iya pak, segera ya.]
Setelah itu mika pun mengakhiri telepon tersebut, tak Alma pak Mario juga mengirimkan alamat rumah alit tempat sang papa di rawat.
Saat ini mika masih berada di mansion nya, dia bimbingan antara harus datang atau tidak karena di sana pasti anak ibu tiri dan kakak tirinya tapi di sisi lain mika juga sangat mengkhawatirkan sang papa karena sejahat jahat nya papa nya beliau tetap lah papa nya.
Mika pun setelah berpikir matang-matang akhirnya menuju ke rumah sakit tanpa memberitahukan kepergiannya kepada sang suami.
Sampai di rumah sakit benar saja dugaannya bahwa di sana ada ibu dan Kaka tirinya.
"Nona, nona sudah datang." sambut pak Mario yang berada di dalam sana saat mika masuk ke dalam kamar sang papa di rawat.
Sambutan dari pak Mario itu pun langsung membuat ibu dan anak yang tadinya sibuk dengan telepon masing-masing langsung teralihkan dengan kedatangan mika.
__ADS_1
"Iya, pak." jawab mika.
"Wah siapa ini ya, anak yang gak tau diri kabur dari acara pernikahan terus pergi dari rumah, eh sekarang malah dengan beraninya dateng!" sindir jenny dengan raut mengejek namun mika tidak terbawa suasana karena dia datang hanya untuk menjenguk sang papa.
"Pak gimana keadaan papa?" tanya mika kepada pak Mario sambil melihat keadaan papanya yang masih belum sadar dengan selang infus yang terpasang di tangan nya.
"Tuan sampai sekarang belum sadarkan diri nona setelah operasi patah tulangnya, dokter juga mengatakan bahwa tuan harus istirahat total dan pemulihannya sekitar enam bulan atau bahkan lebih nona." sahut pak Mario.
Mika di saat seperti ini merasa kasihan dengan sang papa karena bagiamana pun mika tidak ingin papa nya terluka karena beliau lah satu-satunya keluarga kandungnya yang tersisa.
"Pa, cepet bangun ya." lirih mika sambil menggenggam tangan sang papa memberikan semangat agar papanya bisa bangun dan beraktivitas seperti biasanya.
Namun tiba-tiba mika merasakan tangannya di tarik keluar kamar hingga dia menabrak dinding depan kamar sang papa.
"Eh elo jangan sok deh, elo ujuk ujuk datang ke sini mau ngapain heh! Mau bikin ribut!" pekik Amel seperti tak menghiraukan bahwa dia ada di rumah sakit.
"Kalian apa-apaan sih! Papa itu juga papa kandung aku jadi wajar dong aku ke sini!" sahut mika tak habis fikir dengan dua orang manusia tak tahu diri itu.
Plakk
Satu tamparan di layangkan oleh jenny ke pipi mika dengan cukup keras hingga sudut bibirnya berdarah menandakan betapa kerasnya tamparan tersebut.
Mika tidak ingin di tindas lagi apa lagi dengan wanita murahan seperti wanita di depannya ini yang berhasil menghancurkan keluarga yang dulunya padahal sangat harmonis dan penuh kasih.
Tidak tinggal diam mika pun langsung membalas tamparan jenny yang cukup keras pula hingga tercetak jelas lima jadi di pipi ibu tirinya itu.
Plakk
"Awww, berani kamu sama saya!" bentak jenny dengan kemarahan yang cukup besar di susul oleh oleh anaknya juga yang tak terima ibunya di tampar.
Amel pun berencana untuk menampar balik mika namun segera Mika tepis dan mika pegang tangan Amel agar tidak menamparnya, dia cengkram erat sekali hingga membuat pergelangan tangan Amel sakit.
"Aww, lepasin gak!" bentak Amel berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman mika.
__ADS_1
"Asal kalian berdua tahu, mika yang dulu dan sekarang sudah berbeda jadi jangan sembarangan cari lawan. Saya bisa saja membalas perbuatan kalian lebih dari tadi saat saya menampar ibu mu," tutur mika penuh penekanan.
Kemudian dia pun segera pergi dari sana dan meninggalkan rumah sakit namun tetap mika meminta pak Mario untuk mengabarinya tentang kondisi sang papa.
"Pak kita ke restoran sup iga sapi Bu Ani ya," sahut mika.
Pak Ilham pun menganggukkan kepalanya dan menjalankan mobilnya ke arah tujuan sang nyonya.
"Baik, nyonya."
Saat mika merasa pikirannya sedang kalut atau dia sedang sedih pasti dia akan ke restoran tersebut, di mana itu adalah restoran yang sangat berarti untuknya karena di restoran inilah mika dulu sering ke sana bersama dengan mama dan papanya saat keluarga mereka sedang sangat harmonis.
Bahkan restoran ini adalah restoran kesukaan sang mama membuat mika pasti akan ke sana, namun setelah dia sibuk dengan pekerjaan mika pun mulai jarang datang dan hanya sesekali saja.
Di perjalanan mika hanya melamun dan melihat ke arah luar jendela dengan tatapan kosong.
"Nyonya, kita sudah sampai." ucap pak Ilham pelan saat mobil sudah terparkir sempurna di parkiran restoran sedangkan mika masih saja melamun di tempatnya.
Mendengar ucapan dari sang supir membuat mika mulai fokus dan mulai tersadar dari lamunannya.
"Aa, iya pak. Terima kasih ya pak," ucap mika kemudian keluar dari mobil namun sebelum itu pak Ilham sudah menjawab dengan iya kepada nyonya nya itu.
Mika keluar dari mobil dan segera menuju ke restoran kecil di ujung gang itu, restoran nya memang tidak terlalu besar dan hanya di kelola oleh nenek yang sudah cukup sepuh di bantu dengan sang anak pastinya.
Mika masuk ke sana dan suasana tempo dulu saat dia suka berkunjung dengan mama dan papa nya masih sama sehingga saat dia masuk langsung bisa mengingat setiap peristiwa yang terjadi membuat mika menjadi sedih.
Dia pun duduk di kursi pojok, tak ramai orang datang hanya satu dua, mungkin karena restoran tersebut di pojok gang dan banyaknya bangunan toko di sampingnya membuat tak banyak orang yang sering datang dan tak tahu padahal menurut mika makanan di sana sangat enak sekali.
.
.
TBC
__ADS_1