
Malam hari ini mika dan Melvin sudah mulai terlelap di dunia masing masing dengan saling berpelukan membuat dua insan itu terlihat sangat romantis.
Dini hari mika terbangun karena merasakan perutnya yang sakit sekali, namun dia mencoba tenang dan berfikir kalau sakit perutnya ini seperti ucapan dokter beberapa hari lalu saat dia juga beberapa kali mengalami sakit perut yang di sebabkan oleh kontraksi palsu namun entah ia merasa ada yang aneh dengan sakit perut kali ini.
Dia pun bangkit dengan hati hati agar tidak membangunkan sang suami, dia berjalan jalan sebentar untuk menghilangkan rasa sakitnya, berjalan di dalam kamar.
Sesekali rasa sakit itu hilang namun tiba-tiba datang dengan rasa yang lebih besar, karena sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya mika pun langsung membangun kan sang suami dengan menggoyang-goyangkan tubuh kerasa sang suami.
"Sayang, sayang bangun ih." ucap mika karena rasa sakitnya kembali hadir.
Melvin dengan pelan menggercapkan matanya menetralkan agar tidak pusing.
"Ada apa sayang?" tanya melvin bangun dari tidurnya dan duduk menghadap sang istri dan bertanya ada apa dengan suara parau nya khas orang bangun tidur tapi untuk Mika itu terdengar seksi sekali.
"Sakit," ucap mika satu kata namun langsung membuat mata Melvin terbuka lebar.
Dia langsung melihat perut sang istri dan melihat sang istri juga yang menahan kesakitan.
"Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Melvin mengambil jaketnya kemudian memapah sang istri menuju ke mobil yang sudah di siapkan oleh supir karena Melvin sudah memerintahkan sebelumnya.
Awalnya Melvin ingin menggendong sang istri namun di tolak oleh mika karena bagaimana pun dia akan kesusahan dengan berat mika sekarang ini, padahal bagi Melvin tubuh sang istri tidak jauh lebih berat dari pada alat-alat olahraga yang biasa dia gunakan.
"Sayang, kamu yang kuat ya." pinta Melvin sambil terus mengelus perut sang istri.
"Pak lebih cepat lagi!" tita Melvin dengan khawatir nya melihat keadaan sang istri yang sudah kesakitan itu.
Sedangkan pak Ilham di buat bingung bagaimana nanti jika beliau berkendara cepat takut jika terjadi kecelakaan tapi kalau tidak cepat kasihan dengan majikannya.
Pak Ilham pun melajukan mobil dengan cepat hingga sampai di rumah sakit dengan tepat waktu, di sana sudah ada dokter indah yang menunggu karena memang Melvin memerintahkan agar stand by dua puluh empat jam beberapa hari ini takut jika tiba-tiba sang istri akan melahirkan dan benar saja istrinya itu akan melahirkan sekarang juga.
Mika segera di pindahkan ke brangkas yang sudah di siapkan dan segera di bawah ke ruang pemeriksaan untuk melihat terlebih dahulu sudah pembukaan ke berapa.
Setelah pemeriksaan dokter indah pun membawa mika ke kamar inap nya terlebih dahulu karena pembukaan yang di alami mika masih di pembukaan dua dan belum ke pembukaan lengkap.
"Tuan, nyonya mika sekarang masih di pembukaan dua, kami akan terus pantau perkembangannya jika nanti sudah ke pembukaan lengkap persalinan akan langsung di lakukan." tutur dokter indah dan di angguki Melvin.
Setelah kepergian dokter dan suster dari sana, melvin langsung menuju ke arah sang istri yang berbaring sambil terus menghembuskan nafas dalam seperti menahan rasa sakit nya.
"Sayang, kita cesar aja ya." ucap Melvin sambil menggenggam tangan mika dan tangan satu nya mengelus perut sang istri.
"Enggak, aku mau normal sayang," lirih mika.
__ADS_1
Meskipun sakit tapi dia ingin melahirkan secara normal karena dokter indah tadi sudah mengatakan bahwa kondisi baby twins nya sangat bagus dan memungkinkan bisa untuk melahirkan normal.
Melihat ke kekehnya sang istri mau tak mau Melvin pun pasrah, di mansion semua pegawai mendoakan semoga saja persalinan nyonya nya lancar dan segera membawa baby twins ke mansion.
Keluarga Wijaya juga sudah tahu akan mika yang sebentar lagi akan segera melahirkan, mereka sudah berada di rumah sakit dan segera masuk ke dalam ruangan VVIP yang sudah di pesan oleh Melvin sebelumnya.
"Sayang," seru mami Siska menghampiri mika yang sedang mengalami kontraksi.
"Mami," lirih mika.
Segera mami Siska memeluk sang menantu sembari menenangkan sang menantu, beliau juga memberikan tips agar kontraksi tidak terlalu sakit.
Hingga waktu sembilan pagi mika masih saja mengalami kontraksi dan membuat Melvin tidak tega karena dari dini hari terus saja kesakitan.
Dokter indah datang untuk mengecek sudah pembukaan berapa, karena terakhir kali di liat sudah pembukaan tujuh dan pasti akan segera pembukaan lengkap.
"Tuan, saya check dulu ya untuk pembukaan nya." ijin dokter indah.
"Pembukaan sudah lengkap segera kita pindahkan nyonya mika ke ruang persalinan," tutur dokter indah membuat Melvin tambah tegang karena ini lah waktunya sang baby twins untuk menampakkan wujudnya sebentar lagi.
Mika di bawa ke ruang bersalin dengan di temani oleh Melvin, sedangkan keluarga yang lainnya menunggu di depan ruang bersalin.
Melvin terus menyemangati sang istri agar kuat karena sebentar lagi adalah pertarungannya untuk bisa melahirkan anaknya.
"Ok, nyonya mika nanti saya akan menghitung sampai tiga anda tarik nafas dalam dalam dan saat saya suruh anda untuk mengejan nyonya mika langsung mengejan ya," tutur dokter indah dan di angguki mika yang terus mengatur nafasnya.
Melvin terus menggenggam tangan sang istri dan juga membersihkan keringat yang terus keluar dari wajah cantik istrinya.
"ok kita mulai ya nyonya untuk persalinan nya," ucap dokter indah.
"Tarik nafas dalam dalam nyonya, satu... dua... tiga, mengejan nyonya," sahut dokter indah.
"Aaaaaaaakkkkkkk!" teriaknya karena merasakan sakit.
Dan untuk pertama kali mika mulai mengejang, dia merasakan rasa sakit yang luar biasa sakit di tubuhnya bahkan pinggangnya rasanya ingin lepas saja, dia akhirnya tahu bagaimana perjuangan seorang ibu yang harus merasakan sakit untuk melihat malaikat kecilnya hadir ke dunia.
Melvin melihat tubuh sang istri kesakitan membuatnya tidak tega, dia tidak mempermasalahkan tangannya yang dari tadi dicakar oleh sang istri karena dia tahu sakitnya cakaran sang istri belum seberapa jika di bandingkan dengan sakitnya sang istri melahirkan.
"Sekali lagi ya nyonya, ini bayi pertama sudah akan keluar." sahut dokter indah.
"Tarik nafas dalam dalam nyonya, satu... dua... tiga, mengejan nyonya." ucap dokter indah.
__ADS_1
Dan sekali lagi mika mengejan dengan di barengi suara tangisan bayi mungil yang menggelegar di ruang persalinan.
"Oeekkk oekkkk," suara tangisan terdengar.
Bayi mungil tersebut pun langsung di berikan kepada suster untuk di bersihkan, dokter indah fokus kembali ke mika karena masih ada satu lagi di dalam sana yang juga ingin di keluarkan.
Tak lama mika merasakan kontraksi lagi dan dokter indah segera memberikan instruksi nya lagi untuk mika.
"Tinggal satu lagi nyonya, tarik nafas dalam dalam, satu... dua... tiga, mengejan nyonya," ucap dokter indah.
"Aaaaaaaaaakkkkk!" mika sekali lagi mengejan, menyalurkan sisa-sisa tenaganya yang sudah sangat terkuras habis.
"Sebentar lagi bayi nya akan keluar nyonya,"
Dokter indah menyuruh mika untuk mengejan lagi.
"Aaaaaaaaaakkkkk!!" setelah mengejan suara bayi lainnya itu menggelegar kan seisi ruangan.
Melvin yang melihat bayi bayi nya sudah keluar tanpa terasa meneteskan air mata, dia sangat terharu karena akhirnya bisa melihat jagoan jagoan kecilnya.
Namun atensinya langsung kembali ke sang istri yang ternyata sudah tidak sadarkan diri membuatnya takut.
"Dokter, istri saya!" ujar Melvin.
"Tidak apa-apa tuan, nyonya mika hanya pingsan karena kecapekan. Sebentar lagi beliau juga akan segera bangun, biarkan beristirahat," ucap dokter indah setelah membersihkan sisa-sisa persalinan tadi.
Melvin pun mulai tenang dan mengecup kening sang istri lama sambil berterima kasih.
"Terima kasih mommy," gumamnya.
Tak lama suster membawa baby twins yang sudah di bersihkan ke Melvin untuk melakukan skin to skin agar.
Melvin dengan telaten membawa anak anaknya ke arah dada bidangnya yang tidak tertutupi oleh kain itu agar sang anak bisa merasakan detak jantung dari daddy nya.
"Jagoan jagoan daddy, makasih sudah hadir sayang sayang nya daddy." ucap Melvin sekali lagi dengan menitikan air matanya yang untung tidak ada orang di sana, kalau ada bisa malu dia seorang Melvin Nahlu Wijaya menangis.
.
.
TBC
__ADS_1