
Deyan kehilangan jejak istrinya,ia sudah mencari ke beberapa sudut kota namun tak menemukannya juga.
"Ya Allah...Initeh kumaha? Neng Sasya kamuteh dimana atuh? Akang khawatir!" Lirih Deyan mulai berputus asa.
Akhirnya ia memutuskan untuk pulang saja dan meminta bantuan orang tuanya dalam menyelesaikan masalah yang sama sekali tidak ia ketahui.
"Abah! Ambu!" Suara Deyan terdengar ngos-ngosan.
"Ada apa atuh Yan? Kamu kenapa? Neng Sasya mana?" Tanya Siti.
"Neng Sasya....Neng Sasya..." Deyan terus mengulang perkataannya.
"Neng Sasya kenapa?" Siti mulai tak tenang.
"Neng Sasya pergi nggak tahu kemana!" Deyan merasa lemah tak berdaya.
"Kok bisa?" Tanya Danu.
"Deyan juga bingung Abah! Neng Sasya bilang kalau Deyan tega,jahat dan nggak punya hati! Deyan bingung apa salah Deyan sampai dia ngomong kaya gitu! Tapi dia bawa-bawa nama Papinya dalam masalah ini." Jelas Deyan.
"Ya Allah...Kumaha atuh? Neng Sasya sekarang pergi kemana? Ambu takut dia ada yang jahatin di jalan." Siti menangis.
"Abah akan minta bantuan warga untuk mencari Neng Sasya! Kalian tenang dulu!" Seru Danu menenangkan sembari berlalu.
*
Di tempat lain,Sasya tengah merenungkan nasibnya yang harus hidup dengan kebohongan.
Ia diam di dekat terminal bus,berharap ada bus yang memberinya tumpangan untuk pulang ke Jakarta dengan gratis sebab kini ia tak memiliki uang sepeser pun.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan matanya.
Pemilik mobil pun turun dan mendekati Sasya,"Sasya?" Sapanya sembari membuka kaca mata yang menempel di wajahnya.
__ADS_1
"Bara!" Sahut Sasya pelan.
"Kamu ngapain disini malem-malem?" Tanya Bara.
"Tolong aku Bar! Aku mau pulang!" Sasya memohon pada Bara.
"Oke-oke! Ayo aku anter pulang!" Bara mengiyakannya.
Sasya segera masuk ke mobil Bara dan Bara mulai melajukan mobilnya.
"Kenapa kamu bisa ada di kota ini?" Tanya Bara.
Bara memang belum mengetahui bahwa Sasya telah menikah dan alasannya ada di kota ini adalah untuk tinggal dengan suaminya.
"Ceritanya panjang." Jawab Sasya masih sesenggukan.
"Yaudah,kalau kamu belum siap buat cerita nggak apa-apa!" Tukas Bara.
3 jam di perjalanan hingga akhirnya sampai di Jakarta tepatnya di rumah wanita yang kini ada di sampingnya.
"Sya? Bangun! Udah nyampe!" Seru Bara.
Sasya perlahan membuka matanya,"Udah sampai?" Tanyanya.
"Iya."
"Mau mampir dulu?" Tanya Sasya.
Ini kali pertamanya Sasya bersikap manis pada Bara.Dulu,hampir setiap bertemu Sasya selalu saja bersikap jutek padanya.
Bara sangat ingin sekali menerima ajakan itu,tetapi ia tidak enak jika harus bertamu malam-malam begini.
"Udah malem,besok lagi aja!" Tolaknya.
__ADS_1
"Yaudah makasih ya Bar,aku akan selalu inget kebaikan kamu sampai kapanpun!" Ucap Sasya.
"Iya sama-sama." Jawabnya.
"Kalau gitu aku masuk dulu!" Pamit Sasya segera masuk ke rumahnya.
Bara berlalu pergi setelah memastikan Sasya sudah masuk ke dalam rumahnya.
"Sasya?" Maria membulatkan matanya.
"Kenapa? Kalian kaget aku ada disini?" Sindirnya.
"Mengapa kamu bisa ada disini?" Tanya Anton kaget.
"Papi fikir aku akan selalu ada di dalam kehidupan yang penuh dengan kebohongan itu? Hahaaa....Papi fikir aku nggak tahu kebusukan Papi?" Sasya menyeringai.
"Jaga ucapanmu!" Anton memperingatinya.
"Kenapa? Udahlah! Nggak usah pura-pura lagi! Aku udah tahu semua kebohongan Papi! Dasar pembohong!" Tegas Sasya penuh amarah.
"Sasya!" Bentak Anton kehilangan kesabaran.
"Stop Pi! Sasya tahu Papi nggak pergi ke Singapur! Papi bohongin Sasya supaya Sasya mau nikah sama cowok kampungan itu!" Sasya tak kuasa menahan air matanya.
"Sasya..." Maria tersentak mendengar Sasya sudah mengetahui kebohongan suaminya.
"Kalian semua jahat! Kalian pembohong!" Teriak Sasya sembari berlari ke kamarnya.
Anton mendadak lemas mendengar putrinya sudah mengetahui kebohongan yang ia buat selama ini.
.
.
__ADS_1
.
Cuma mau bilang☺Sematkan like,Komen dan Votenya ya😊Makasihh😍