Istri Jutekku

Istri Jutekku
Jangan Lirik kanan kiri


__ADS_3

Dua hari sudah Deyan dan Sasya tinggal di Jakarta,namun Deyan belum memulai bekerja sebab Anton menyuruhnya untuk mempersiapkan fisik dan mentalnya terlebih dahulu.


Kemungkinan ia akan mulai bekerja di kantor Papinya besok.


Malam ini Deyan terus jalan mondar mondir di dalam kamar,ia terlihat sedang gelisah.


"Akang bisa diem nggak sih? Aku pusing lihatnya!" Sasya mengomelinya.


Deyan pun akhirnya duduk di sofa dekat Sasya,"Neng lagi apa?" Tanyanya.


"Lagi geser-geser beranda IG." Jawab Sasya.


"Oh..." Jawabnya singkat.


"Akang kenapa sih?" Kini Sasya yang bertanya.


"Nggak apa-apa,Akang cuma gerogi aja." Jawabnya.


"Gerogi?" Sasya mengernyit heran.


"Besok kan Akang mulai kerja di kantor Papi,Akang takut nggak bisa kerja dengan baik." Deyan memperjelasnya.


"Bismillah aja Kang! InsyaaAllah pasti bisa! Semangat!" Sasya mensupport suaminya.


"Huuffft..." Deyan membuang nafasnya dengan panjang.


Setelah itu rasa geroginya mulai menurun dan perasaan hatinya sedikit lega.


Kini ia fokus memandangi wajah istrinya yang tak berpaling dari layar ponsel yang ia genggam.


Sasya melihat-lihat berbagai story artis idolanya sembari mengemil keripik singkong,ia pun merasakan bahwa suaminya kini terus memperhatikannya,"Akang mau?" Sasya menawari keripik yang ia makan.


"Nggak." Jawabnya.


"Yaudah." Balas Sasya.

__ADS_1


"Juteknya kambuh lagi inimah." Deyan menyindirnya.


"Jutek darimana? Orang dari tadi aku biasa aja kok!" Bantah Sasya.


"Itu buktinya!" Deyan tidak mau kalah.


"Mending sekarang Akang tidur deh! Kondisi Akang lagi nggak baik!" Sasya menyarankannya.


"Yaudah atuh udah malem juga initeh! Hayu kita tidur! Neng jangan main ponsel terus nanti mata Neng rusak karena kelamaan lihat ponsel." Deyan menasehati istrinya.


"Ngedo'ain kok yang buruk sih!" Umpat Sasya.


"Bukan do'ain yang buruk tapi..." Ucap Deyan belum selesai.


"Daripada kita debat terus mending sekarang kita tidur aja! Oke?" Sasya menghentikan perdebatan yang terjadi.


Deyan pun tak menjawabnya lagi,ia langsung saja tidur di samping istrinya.


*


Sang mentari telah menyambut pagi namun Sasya masih juga belum terbangun dari tidurnya,kebetulan ia sedang PMS jadi tadi tidak bangun saat shubuh.


Deyan telah mengenakan setelan jas dengan rapi ala orang-orang kantoran.Anton sengaja membelikannya berbagai model dan warna yang berbeda khusus untuk menantunya.


Bias sinar mentari menerpa wajahnya,"Emhh...Silau!" Seru Sasya masih dalam keadaan mata tertutup.


"Ayo bangun Neng! Udah siang!" Tegur Deyan.


Sasya perlahan mulai membuka matanya,saat matanya sudah terbuka dengan sempurna orang yang pertama kali ia lihat adalah sosok suaminya yang sangat berbeda dari sebelumnya.


Sasya akhirnya mendekati suaminya yang tengah duduk di sofa dan tengah memakai sepatu kerjanya.


"Ini beneran Akang?" Sasya mengangkat wajah suaminya.


"Iya atuh ini Akang! Emangnya siapa lagi?" Tukas Deyan.

__ADS_1


"Serius deh hari ini Akang beda banget!" Seru Sasya.


"Akang kasep nya?" Deyan menaik-naikkan alisnya.


"Kasep itu ganteng kan?" Sasya memastikannya terlebih dahulu.


"Iya." Jawabnya.


"Awas ya Kang! Di kantor Akang nggak boleh lihat kanan kiri! Akang harus fokus ke depan!" Sasya memperingati suaminya.


"Kalau lihat ke depan terus nabrak atuh Neng!" Deyan terkekeh.


"Nggak lucu! Pokoknya Akang jangan macem-macem di kantor! Siang nanti aku akan anter makan siang buat Akang! Awas aja kalau pas aku ke kantor Akang lagi sama cewek lain!" Sasya mengancamnya.


"Neng mikirnya jangan ngelantur atuh! Keep positive thinking!" Bantah Deyan.


"Di kantor nanti Akang nggak boleh terlalu akrab sama karyawan cewek!" Tegas Sasya.


"Ya Allah...Neng Sasya istri Akang yang paling cantik se-Jakarta! Secantik apapun dan semenggoda apapun para karyawan cewek di kantor Papi,nggak ada satupun yang bisa ngisi hati Akang karena di hati Akang cuma ada Neng seorang!" Deyan menekankan perkataannya.


"Gombal!" Tukas Sasya dingin.


"Udah jangan jutek terus atuh! Nanti cantiknya mengurang!" Ejek Deyan.


"Ish Akangmah..." Deyan memukul dada bidang suaminya.


"Sini!" Deyan membentangkan tangannya.


Sasya pun segera masuk dalam bentang pelukan itu,ia merasa nyaman dengan setiap kesederhanaan suaminya.


.


.


.

__ADS_1


Author mau ngucapin makasih buat kak @Avyn_Goma sebagai pemberi vote tertinggi😍Jazakillahi khairan katsiran😊Aamiin☺


__ADS_2