
Sebastian terus memantau Notifikasi ponsel, kali ini ia gelisah, tak sabar sebab ia sangat mengkhawatirkan keselamatan Diaz maupun Maria.
tak lama ponselnya bergetar ahli IT dari tim mata-mata andalan Diaz menghubungi, mereka mengirimkan lokasi map tempat nomor yang mengirim foto Maria kepada Diaz.
"GUDANG HELLE" katanya setelah membuka lokasi tersebut.
"Berkumpul, kita kepung Helle. bos dalam bahaya!!!" katanya di telpon.
dia cepat masuk ke mobil, mengendarainya dengan kecepatan tinggi berharap ia tak terlambat datang.
...****************...
SYUTT
pria yang berdiri di samping Diaz mengayunkan tongkat besi ke wajah Diaz.
"DIAZZZ!! hiks.. hiks tolong hentikan, berhenti!!" Rintih Maria saat melihat Diaz semakin tak berdaya.
namun tangisan ia dan keadaan Diaz sekarang justru membuat segerombolan pria itu tertawa lebar terutama pria bertato kalajengking, dia terpingkal hingga berulang kali menyeka air mata bahagianya.
"Ma.. ri.. a" Diaz terus menjulurkan tangannya berusaha menggapai wajah Maria.
Ketika seseorang dengan lembut menghapus air mata kita, itulah momen kalau dia seolah memohon kepada kita untuk berhenti menangis karena dia tidak sanggup melihat kita sedih. terutama kalau dia menghapus air matamu dengan jarinya langsung, dia tidak perduli kalau jemarinya basah dia bahkan tidak punya waktu untuk mengambil tisu atau sapu tangan. yang jelas, dia ingin air mata itu segera pergi dari wajah kamu-
__ADS_1
pria bertato itu berjalan ke depan, ia menginjak jemari Diaz yang melambai-lambai di lantai berusaha menggapai Maria.
"Arkh" Diaz merintih menahan kesakitan.
pria itu duduk jongkok di depan Diaz, dia meraih dagu Diaz sehingga kepalanya mendongak ke atas menghadap dirinya.
"kamu lihat ini? kamu tak asing kan dengan tato ini? " pria itu memasang tangan satunya ke depan mata Diaz memamerkan tato kalajengkingnya.
namun Diaz tak menggubris, dia hanya diam.
"ku pikir kamu adalah pria berdarah dingin tapi ternyata kamu sangat lemah hanya karena perempuan, kamu jadi sangat menyedihkan. hahaha tapi aku sangat senang. cih, wajahmu ini benar-benar menyebalkan" pria itu marah saat Diaz justru tak memperdulikannya, mata coklat itu tak lepas menjangkau Maria dalam penglihatannya.
DHUAK!! BUK!! BUK!!
pria itu bangkit, dan menginjak-injak punggung Diaz kesal. namun Diaz tak merintih kesakitan sama sekali, dia masih terus berusaha memanjangkan tangan menarik-narik berusaha menggapai wajah Maria.
"....Sofia ingin air mata itu pergi jauh dari wajah tuan. Sofia tidak mau lihat tuan bersedih... "
"Ja.. ngan.. me.. na.. ngis.. Ma.. ria" katanya terbata-bata menahan sakit.
pria itu tak berbelas kasih ia terus menginjak Diaz membabi buta sehingga penglihatan Diaz semakin kabur, tak jelas kelopak matanya semakin berat sehingga perlahan-lahan menutup, Maria semakin hilang dari pandangannya.
Tiba-tiba....
__ADS_1
DOR!!! DOR!!!
suara tembakan kencang datang dari berbagai penjuru gudang semua terperanjat saat banyak rombongan pria asing datang.
membuat rombongan Pria bertato kalajengking berduel sengit dengan pasukan Sebastian yang baru datang.
Syut
mereka mengayunkan tongkat besi kepada musuh.
"BOSSS!!!" pekik Sebastian saat mendapati Diaz tak berdaya di lantai. wajahnya bonyok berlumuran darah.
Pria bertato itu gemetar ketakutan saat melihat rombongannya tersudut melawan pasukan Sebastian, dia mundur menjauhi Diaz sambil menodongkan pistol ke depan ke arah Sebastian.
"Baj*ngan!!! mati kamu" Sebastian murka dan menarik pelatuk, pelurunya tak meleset tepat mengenai dada sebelah kiri pria bertato kalajengking membuatnya tumbang sebelum menembak Sebastian.
"Diaz... " rintih Maria.
mata Sebastian langsung turun memandang Maria, pistol itu langsung di simpannya ke pinggang dan melangkah ke depan melepaskan simpul yang mengikat Maria.
Maria merangkak menggapai Diaz saat Sebastian berhasil memisahkan tubuhnya dengan kursi. tangannya gemetar mendapati Diaz dalam dekapannya.
"kamu benar-benar menyebalkan, kamu selalu membuat aku menangis. jangan mati aku mohon jangan mati.. hikss... hikss" Maria mendekap keras tubuh Diaz menenggelamkannya dalam pelukannya.
__ADS_1
Semua pasukan pria bertato itu tumbang, kalah jumlah dan kalah kemampuan. Sebastian cepat menggotong tubuh Diaz ke mobil menuju rumah sakit.
Beruntung Diaz masih bernafas.