Istri Kontrak CEO duda

Istri Kontrak CEO duda
The Truth


__ADS_3

Sepulang dari kantor Owen, mengobrol dengan kakek Martin, Diaz sampai di Rumah saat langit mulai gelap. Maria sibuk di dapur membuatkan makan malam untuknya. suasana hening kembali menguasai sekitarnya. Dari kisi-kisi jendela, angin bertiup sepoi dan basah, mengusik lamunannya yang telah jauh. diambilnya ponsel di atas meja kerja, ada beberapa kali panggilan masuk dari nomor tak dikenal. tak ia perdulikan.


tak lama ponselnya kembali berdering, kali ini bukan panggilan dari nomor yang sama, melainkan panggilan masuk dari Sebastian.


"Bos!!" katanya dengan nafas terengah-engah.


"Biasa saja, aku mendengarnya. Ada apa?" Diaz sedikit menjauhkan layar ponsel dari telinganya.


"Tuan Martin, Kecelakaan Sore tadi. nona Rena menghubungi saya, karena tuan tak menjawab panggilan telponnya"


Diaz mengepal tangan lalu memukul meja kuat, "Aku kesana sekarang!"


Dia meraih mantel tebal di gantungan samping pintu, dengan cepat menuruni anak tangga lalu menghampiri Maria di dapur.


"Maria, kita harus pergi ke rumah sakit sekarang!"


"Hah? ada apa? kamu sakit?"


"Ada seseorang yang harus kita temui"


Tak ada waktu bagi Maria untuk bertanya lebih dalam tentang kepentingan Diaz mengajaknya ke rumah sakit. Sepanjang jalan dia hanya bisa menatap wajah tegang Diaz sambil sesekali memegang kuat hand grip yang ada pada kabin mobil, saat beberapa kali Diaz banting Setir untuk mendahului kendaraan lain di depan.


20 menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit Orton, rumah sakit tempat Brama di rawat dulu. Diaz tak melepas genggamannya di tangan Maria, tiap langkahnya, Maria selalu mengikuti dari belakang.


"Kak Rena?" Kata Maria kecil, pupil indahnya membulat saat melihat Rena duduk di kursi depan sebuah ruang rawat di ujung lorong.

__ADS_1


Rena bangkit saat melihat kedatangan Diaz, wajahnya sedikit murung, lalu berlari mendekat.


"Diaz, kakek... " Rintihnya datang langsung memeluk Diaz.


Maria cepat menarik lengannya yang masih di genggam Diaz, membuat tubuh Diaz ikut mundur ke belakang. bibirnya mengkerut menatap Rena yang masih terus menempel pada suaminya.


"Bagaimana kondisi kakek?"


Maria mengalihkan pandangannya pada Diaz, wajah suaminya itu terlihat cemas, mungkinkah karena ini keluarga dari Rena, mantan istrinya? entahlah, Maria berusaha mengalihkan pikiran buruk di benaknya.


"Entah apa penyebabnya, mobil kakek hilang kendali. rusak parah, dokter barusan mengatakan kakek kehilangan banyak darah, butuh donor secepatnya untuk operasi. aku tidak tahu harus berbuat apa Diaz, darah kakek cukup langka jadi di rumah sakit tak ada persediaan. dokter masih berusaha cari, tapi sampai sekarang belum ada kabar kapan kakek bisa di operasi" Rena kembali merintih di depan Diaz dan Maria.


Takdir merealisasikannya begitu cepat, bahkan di saat ia belum mempersiapkan diri untuk bicara pada Maria. namun, keteguhannya memegang janji pada Brama adalah Kontrak seumur hidup yang harus ia penuhi.


Diaz diam sejenak, lalu menatap Maria di belakangnya, "Kakek akan di operasi sekarang, pendonornya ada disini"


"Maria... mau ya?" katanya lembut.


Maria melotot kebingungan, begitu juga Rena. "hah? aku?"


"Diaz kenapa dia?" Rena ikut menyela


"Saat ini hanya Maria yang kemungkinan bisa menjadi pendonor yang cocok untuk kakek"


"Tapi, Diaz golongan darah kakek sulit di cari, bagaimana mungkin kamu yakin kalau dia bisa cocok? lagi pula apakah Dia sudah pernah periksa golongan darah?"

__ADS_1


"Pasti cocok Rena, karena Maria adalah.. " Diaz menghela nafas, menggantung ucapannya.


"Maria adalah cucu kandung kakek Martin"


semua orang terdiam, hening. meskipun suara nakas dorong suster berapa kali lewat, adapula beberapa dokter berlalu lalang dari kamar pasien lain.


"Aku akan menjelaskannya Sayang, tapi bisakah kita periksa sekarang? kakek sangat membutuhkan bantuan kamu sekarang" dia mengusap lembut kepala Maria.


tak ada jawaban, Maria hanya mematung, lalu mengikuti langkah Diaz yang kembali menggenggam tangannya kuat. tangan besar itu memberikan kehangatan untuk Maria yang mendingin, entah karena suhu ruangan atau hal lainnya.


...****************...


benar dugaan Diaz, praduga itu akurat saat darah Maria sungguh diambil untuk Martin.


lampu merah menyala, Rena menunggu cemas tak jauh dari ruang operasi. Diaz sedikit menjauhkan Maria dari Rena, membawanya ke tempat yang lebih sepi.


"Diaz jelaskan" Maria memandang Diaz tajam, membuat dada Diaz berdebar kencang.


Diaz beranjak dari tempat duduk, dia tersenyum dan mengubah posisi duduknya. kemudian, ia berlutut di hadapan Maria, meraih tangannya, dan menggenggam nya erat-erat. ia menelungkupkan wajahnya di paha Maria, lalu mengangkat wajah lalu menyorongkan nya di hadapan Maria.


"Sayang, tenanglah, tatap mataku dan dengarkan aku"


Diaz mengutarakan kebenaran sesungguhnya, termasuk semua yang di katakan oleh Brama. tak ada yang di kurangi sedikitpun. Maria terdiam dengan Mata berkaca-kaca.


berkali-kali diaz memandangi wajahnya, dia masih terisak dan mengusap air matanya dengan syal. melihatnya kembali menangis, rasanya seperti di sayat sebilah pisau tajam.

__ADS_1


"Apapun yang terjadi akan aku Terima. aku mencintai dia dan aku pun juga harus mencintai resikonya, demikian juga sebaliknya" kata Diaz dalam hati.


__ADS_2